Intip Belajar Bisnis ala Koperasi Tunanetra di Bandung

Menjadi penyandang tunanetra bukan berarti tidak bisa mendapat kesempatan belajar berbisnis. Di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyataguna, Kota Bandung, para tunanetra membentuk koperasi yang berada dibawah naungan Organisasi Siswa Klien (OSK), atau semacam OSIS jika di sekolah umum. Seperti apa kegiatannya?

Koperasi dengan ukuran ruangan sekira 4x5 meter itu mulai dijalankan sejak 2005 lalu. Ide awal pembentukan koperasi itu adalah untuk membuat para siswa dan klien (peserta rehabilitasi) belajar berbisnis. Modal awal pun dilakukan dengan cara urunan masing-masing Rp 10 ribu dari total siswa dan klien sebanyak 175 orang pada saat itu.

Saat BeritaBaik berkunjung ke lokasi, koperasi itu terlihat seperti layaknya warung biasa. Berbagai macam makanan ada di sana yang tersimpan di lemari dan meja.

Di sebelah kiri dekat pintu masuk, terpajang berbagai aneka kopi sachet yang disimpan dalam semacam rak berbentuk kotak-kotak. Setiap kopi disimpan berdasarkan merk dalam satu bagian kotak. Itu untuk memudahkan petugas jaga untuk membedakan kopi yang akan dibeli oleh konsumen.

Sebuah dispenser berisi galon air mineral pun ada di dekat kotak tersebut. Sehingga, konsumen bisa memilih antara membeli kopi saja atau ingin sekaligus diseduh agar bisa langsung dinikmati.

Di sisi yang lain, terlihat ada lemari yang di dalamnya ada berbagai makanan yang sudah dipisahkan dengan urutan berbeda. Tujuannya pun sama, yakni agar petugas jaga bisa memilah barang yang ingin dibeli konsumen. Daya ingat yang kuar pun sangat dibutuhkan agar barang yang diambil tidak salah saat diserahkan kepada konsumen.

Ada juga semacam rak kotak-kotak berisi rokok berbagai merk. Sama seperti kopi, rokok-rokok itu dipisahkan berdasarkan merk. Sehingga ketika ada konsumen ingin membeli rokok merk tertentu, petugas jaga akan mengambilnya dengan meraba-raba terlebih dulu. Misalnya ketika akan mengambil rokok merk A, petugas akan meraba bagian kotak sesuai urutan penyimpanan.

Terlihat juga ada berbagai macam minuman dalam bentuk sachet yang tergantung pada sebuah tali. Penempatannya juga disesuaikan agar mudah untuk dipilah. Barang-barang lain pun juga ditempatkan dengan perencanaan yang matang.

Untuk laci tempat menyimpan juga dibagi ke dalam kotak-kotak tertentu. Setiap nominal uang dipisahkan agar tidak salah dalam menyimpan uang atau memberikan kembalian.

Sigit Yuliadi, petugas sekaligus pengurus koperasi, mengatakan setiap harinya ada dua sampai tiga petugas yang berjaga di lokasi. Satu dari dua atau tiga penjaga itu merupakan penyandang low vision atau orang awam sering menyebutnya dengan istilah 'kurang awas' yang cenderung mendekati kebutaan. Sedangkan sisanya adalah tunanetra yang tidak bisa melihat secara total. Sementara secara keseluruhan, petugas jaga koperasi saat ini ada sekitar 15 orang.

Penempatan petugas sengaja dibagi seperti itu. Tujuannya agar tidak terjadi salah memberikan kembalian atau konsumen salah memberikan nominal uang. Sebab, mereka yang mengidap low vision masih memiliki sedikit penglihatan untuk membedakan warna uang agar bisa tahu nominalnya. Sementara yang tunanetra tidak bisa membedakannya.

"Dulu memang pas awal-awal agak susah karena kadang yang jaga salah ngasih kembalian atau yang beli salah ngasih uang. Makanya petugas yang jaga kalau tunanetra harus didampingi sama yang low vision," ujar Sigit.

Jika ternyata pembeli seorang tunanetra dan penjaga kebetulan semuanya tunanetra, maka ada cara lain yang diambil. Jika keduanya ragu-ragu akan nominal uang yang dibayarkan, maka uang akan disimpan lebih dulu. Selanjutnya, petugas akan bertanya pada mereka yang low vision untuk memastikan berapa nominal uang yang diterima.

"Kalau misalnya kurang atau kelebihan, nanti konsumennya kita panggil lagi untuk kita kasih kembalian atau uangnya ditambah," ucapnya.

Para pembeli di koperasi itu mayoritas adalah penghuni PSBN Wyataguna. Tapi, sering juga guru-guru, anak-anak sekitar, hingga warga dari luar berbelanja di sana. Dalam sehari, rata-rata omzet yang dicapai pun sudah lumayan besar untuk koperasi berukuran kecil seperti itu.

"Kalau lagi ramai, rata-rata per hari omzet kita antara Rp400-500 ribu," ungkap Sigit.

Koperasi itu pun dibuat serius, bukan sekedar beroperasi. Sistem pencatatan barang, pengeluaran-pemasukan, hingga pembagian keuntungan setelah tutup buku pun dilakukan. Koperasi itu benar-benar jadi pembelajaran bagi siswa untuk belajar berbisnis, minimal belajar mengelola koperasi dengan segala dinamika.

Sigit pun merasakan ada manfaat positif dari aktifnya ia menjadi pengurus koperasi. Ia tahu bagaimana mengelola pembukuan dan keuangan, tahu bagaimana melayani pembeli dengan berbagai karakternya, hingga bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan.

Ia juga terinspirasi untuk kelak memiliki warung untuk usahanya. Tapi, saat ini ia fokus menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Cimahi. Di luar itu, ia aktif di koperasi. "Pastinya saya dapat pengalaman baru selama di sini," kata Sigit.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler