Asyiknya Baca Buku di Micro Library

Bandung - Perkembangan zaman boleh saja semakin maju, tetapi buku tidak pernah berubah. Meski kini sumber informasi dan pengetahuan bisa didapatkan secara digital, namun keberadaan buku juga memerlukan perhatian. Tampaknya hal tersebut yang coba diangkat oleh para pemuda Karang Taruna, Jalan Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung.

Sekelompok pemuda Karang Taruna ini mengawalinya dengan membuat Gerobak Baca pada tahun 2013. Gerobak Baca adalah gerakan gotong royong literasi yang diinisiasi para anak muda Karang Taruna. Sesuai namanya, gerakan ini menggunakan gerobak keliling sebagai upaya meningkatkan minat membaca warga Kelurahan Arjuna, terutama generasi muda dan anak-anak.

“Awalnya, setiap hari Senin sampai Jumat, mereka membawa buku bacaan yang dimiliki kekeliling kompleks. Khusus di hari Minggu, mereka bikin lapak di lokasi Micro Library sekarang. Karena antusias anak-anak dan animo masyarakat yang begitu tinggi, pemuda pun nyoba buat usulan perizinan pembuatan perpustakaan. Di saat yang bersamaan, di Bandung sedang diadakan lomba Kampung Juara,” jelas Pendamping program Micro Library dari perwakilan Dompet Dhuafa Jawa Barat, Rafdi Almatasalis pada BeritaBaik, Senin (17/9).

“Dinamakan Micro Library karena ini adalah perpustakaan kecil, dengan muatan edukasi (ilmu) yang besar,” tambah Rafdi, ketika ditemui di Taman Bima Bandung.

Sebagai salah satu prototipe serangkaian taman bacaan, Micro Library di Taman Bima memiliki daya tarik tersendiri. Gaya bangunannya adalah buah karya tim arsitektur SHAU Architect Bandung, yang telah menorehkan prestasi dalam public vote dan jury award di Architizer A+ Awards tahun 2017 untuk kategori Arsitektur Komunitas.

Baca juga: Santai Baca Buku di Perpustakan Gasibu

Bangunan Micro Library terbagi menjadi dua lantai, lantai pertama untuk berkegiatan warga dan lantai kedua menjadi perpustakaan. Keunikkan lain dari bangunan yang menorehkan prestasi di ajang bergengsi arsitektur internasional ini adalah pemanfaatan 2000 buah ember es krim besar berpola kode biner, yang apabila TemanBaik memindainya akan muncul pesan bertuliskan “Buku adalah Jendela Dunia”.

Desain ini digagas oleh Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kamil, yang kala itu masih menjabat sebagai Wali Kota Bandung di tahun 2015, juga Pemkot Bandung, Indonesian Diospora, Dompet Dhuafa Pusat, dan tim SHAU Architecure & Urbanism.

Terdapat beragam jenis buku tersedia di tempat ini dan koleksinya bisa terbilang lengkap. TemanBaik bisa menemukan buku sastra, dongeng, novel, sejarah, biografi, kesenian, buku cerita anak-anak, keagamaan, kesehatan, pengetahuan alam sampai komik. “Pilihannya sangat banyak di sini, berbagai jenis buku ada. Biar anak-anak atau masyarakat yang kesini tidak jenuh,” ujar Rafdi.

Selain untuk edukasi minat baca warga dan anak-anak, dampak positif lain yang diberikan kepada masyarakat, khususnya warga kelurahan Arjuna di sekitar Micro Library adalah mereka kini mendapatkan fasilitas ruang untuk berbagi, bercerita dan berkegiatan.

Salah satunya yang giat dilakukan hingga kini dan mendapat respon positif adalah ‘Bandung Bercerita’ diadakan setiap Hari Minggu dengan melibatkan anak-anak sekitar. Selain Bandung bercerita, beberapa kegiatan lain juga digelar di Micro Library, seperti dituturkan oleh Rafdi, “mereka tidak hanya membaca saja, tetapi berkegiatan yang lain. Kelas melukis, kelas mendongeng, kelas kesenian, dan kelas tari. Banyak hal-hal lain yang kreatif dan mendidik yang bisa kita angkat melalui program Micro Library ini.”

Baca juga: Berkelana ke Masa Lalu di Rumah Buku Kineruku

Rafdi juga menjelaskan mengenai visi dan misi Micro Library, yaitu untuk mendekatkan buku dengan masyarakat. “Mendekatkan buku terhadap masyarakat, sehingga masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke toko buku. Tidak perlu ke DisPuship (Dinas Keperpustakaan dan Pengarsipan). PR pemerintah ya itu, menyediakan atau memfasilitasi terutama perpustakaan. Kita ambil contoh di Jepang, disebut sebagai negara yang maju karena setiap seratus meter dari rumah ada pojok-pojok perpustakaan” jelas Rafdi.

Kedepannya, akan dibangun Micro Library lain di bawah flyover Kiaracondong, batu pertama sudah diletakkan oleh Gubernur Terpilih Ridwan Kamil. “Rencananya tahun 2019 akan dibuat lagi (Micro Library) di 11 titik Kelurahan terpilih di kota Bandung,” ucap Rafdi ketika ditanya program apalagi yang sudah dan akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Siapa saja bisa berkunjung dan membaca buku di tempat ini, Micro Library tidak membuat peraturan sulit dan memberikan akses yang mudah dan gratis. TemanBaik bisa berkunjung dan tidak dipungut biaya administrasi sedikitpun.

Khusus bagi pelajar hanya dibutuhkan kartu pelajar, sedangkan untuk masyrakat umum asal memiliki kartu identitas pendudukan sudah lebih dari cukup. Untuk buku yang hilang atau rusak, peminjam hanya diminta untuk mengganti dengan buku yang sama dengan yang dipinjam.

Bagi Temanbaik yang ingin berkunjung jangan lupa untuk membawa buku bekas atau yang sudah tidak terpakai tapi masih layak, silahkan untuk disumbangkan pada mereka ya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler