Seharusnya Suporter Indonesia Tiru Real Madrid dan Barcelona

Bandungan - Perseteruan suporter klub sepakbola di Indonesia kerap kali terjadi. Suporter Persib Bandung misalnya, selama bertahun-tahun berseteru dengan suporter Persija Jakarta. Berikutnya, suporter Arema Indonesia juga berseteru dengan suporter Persebaya Surabaya. Contoh lain adalah suporter Persita Tangerang dan Persikota Tangerang.

Perseteruan pun sering berujung kelewat batas. Selain saling melukai, sejumlah korban jiwa juga terenggut. Fanatisme buta menjadi penyebab di balik kekerasan yang ada.

Pelatih Persib Mario Gomez mengatakan di banyak negara selalu ada pertandingan yang berlangsung panas. Pertaruhan gengsi untuk menegaskan sebagai klub terbaik jadi alasan jalannya laga cenderung panas dan kasar. Pemain kedua tim pun sering terlibat dalam keributan.

Tapi, hal itu hanya terjadi di lapangan. Sebab, pertarungan sesungguhnya adalah antarpemain kedua tim yang bermain. Di luar itu, tidak boleh ada pertarungan atau kekerasan yang melibatkan suporter.

Suporter hanya duduk di tribun penonton untuk memberikan dukungan bagi tim kesayangannya. Di saat yang sama, suporter memberikan 'teror' bagi tim lawan dengan cara kreatif, misalnya dengan nyanyian dan yel-yel.

Pria asal Argentina itu pun mencontohkan suporter Real Madrid dan Barcelona. Setiap kedua tim bertanding, para pemain selalu bermain penuh gengsi, keras, dan penuh intrik di lapangan. Tapi, itu hanya terjadi di lapangan. Suporter kedua tim tetap punya batasan satu sama lain dan tidak melakukan tindak kekerasan.

Hal itu sebaiknya dicontoh oleh para suporter di Indonesia. Mereka hanya datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan, bukan mencari keributan.

"Di Barcelona dan Madrid suporternya tidak berkelahi, itu bedanya, dan itu bisa jadi contoh untuk di Indonesia, untuk semuanya, bukan hanya kita (suporter Persib) dan (suporter Persija) Jakarta, untuk (suporter Arema) Malang, untuk semuanya," kata Gomez, Selasa (25/9/2018).

Baginya, sepakbola adalah ajang untuk menghibur penonton. Sehingga, penonton saat datang ke stadion harus bertujuan untuk mencari hiburan atau mendukung tim kesayangannya.

Ia bahkan memiliki mimpi besar agar suporter klub di Indonesia bisa datang ke stadion lain untuk menyaksikan pertandingan dengan nyaman. Sebab, hal itu masih belum bisa dilakukan semua suporter.

Suporter Persib misalnya, bertahun-tahun dilarang datang ke Jakarta untuk menyaksikan laga Persib vs Persija di Jakarta. Sebaliknya, saat Persija main di Bandung, suporter Persija dilarang datang ke Bandung. Tujuannya untuk meminimalisir konflik karena bertahun-tahun kedua kubu terlibat dalam perseteruan.

Begitu juga dengan Persebaya, suporternya tidak boleh datang menyaksikan pertandingan lawan Arema di Malang. Sebaliknya, suporter Arema tidak bisa hadir di Surabaya saat timnya dijamu Arema.

Dengan menanggalkan perseteruan, sepakbola akan bisa dinikmati secara nyaman oleh suporter. Mereka bisa datang ke mana saja untuk menyaksikan tim kesayangannya bermain, termasuk saat melawan klub rival di kotanya.

"Saya berharap di masa depan kita bisa bertanding sambil ditonton fans Persija dan Arema. Kita juga bisa pergi menonton di Jakarta, di Malang, di semua tempat. Kenapa tidak? Ini football, bukan war footbal," tutur Gomez.

Agar hal itu bisa terwujud, edukasi dan kesadaran semua pihak harus dikedepankan. Sehingga, semua bisa paham batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, khususnya oleh para suporter. Kekerasan hanya terjadi antara pemain di lapangan untuk mengejar kemenangan, bukan sesama suporter.

"Apa kalian tidak ingin menonton di Jakarta bersama keluarga? Apa kalian bisa pergi? Bisa saja. Ini soal edukasi. Semuanya harus menekankan bahwa tidak ada kekerasan di luar lapangan," ucapnya.

"Sepakbola bukan perkelahian. Perkelahian hanya di dalam lapangan dengan bola. Hanya yang bertanding yang fight, di tribun penonton tidak. Ini pertunjukkan sepakbola," pungkas Gomez.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler