Pertarungan di Sepakbola Hanya Milik Pemain, Bukan Suporter

Bandung - Kekerasan antarsuporter klub sepakbola di Indonesia kerap kali terjadi. Hal itu menjadi ironi di balik tingginya antusiasme publik terhadap industri sepakbola di Tanah Air. Bahkan, sudah banyak korban luka hingga nyawa hilang sia-sia akibat perseteruan yang ada.

Budiman, mantan pemain Persib Bandung sekaligus legenda hidup Persija Jakarta, heran dengan kondisi yang ada, apalagi jika melihat perseteruan suporter Persib dan Persija. Permusuhan itu terpelihara selama bertahun-tahun tanpa bisa diselesaikan secara riil.

Sebagai mantan pemain dari kedua klub itu, Budiman tahu persis bagaimana panasnya suasana saat Persib dan Persija bertemu. Tidak hanya pemain kedua tim di lapangan, suporter kedua kubu juga ikut-ikutan panas.

Tapi, hal itu seharusnya tidak terjadi. Sebab, pertarungan hanya milik para pemain di lapangan untuk berjuang meraih kemenangan. Itu pun dengan cara wajar dan diawasi pengadil lapangan alias wasit.

Sebaliknya, suporter harusnya hanya menjadi penonton. Di saat yang sama, mereka pun bertugas menjadi pemberi semangat bagi pemain tim kesayangannya. Saat memberi dukungan, mereka tidak harus meneror tim tamu atau suporter lawan dengan cara-cara tidak bijak.

Ia pun memberi gambaran bagaimana pemain bersikap profesional. Di lapangan, pemain kedua tim bertarung habis-habisan demi meraih kemenangan. Bahkan tak jarang keributan terjadi.

Tapi, setelah pertandingan usai, pemain kedua tim kembali akur. Mereka sadar bahwa sepakbola hanya pertandingan di lapangan. Di luar lapangan, mereka adalah saudara seprofesi.

"Justru yang jadi masalah saat pemain dan pengurus tim tidak ada masalah, kenapa (suporter melakukan tindak kekerasan) seperti itu?" ujar Budiman.

Ia pun berharap kepada suporter yang selama ini berseteru segera menanggalkan permusuhan. Mereka diharapkan duduk satu meja untuk sepakat berdamai. Tujuannya satu, mengembalikan sepakbola sebagai sebuah ajang hiburan dan perekat persatuan, bukan sebagai sesuatu yang menakutkan.

"Kemarin baru ada Piala Dunia, kenapa tidak dicontoh? Penonton dari negara mana pun saat itu berbaur satu sama lain, saling menjaga, saling menghormati. Boleh berteriak-teriak (untuk mendukung tim kesayangan), tapi tidak anarkis, jangan ada nyanyian atau kata-kata provokatif dan kurang bagus," ungkap Budiman yang kini aktif menjadi pelatih Diklat Persib.

Secara khusus, ia pun mengingatkan kepada suporter agar tidak melakukan tindakan negatif terhadap tim tamu atau suporternya. Sebab, tim kesayangan mereka pasti akan dijamu di lawan. Aksi balas dendam bisa saja terjadi.

"Saya pernah mengalami kejadian kita main di home (kandang), tim lawan diteriaki atau dilempar (oleh suporter tuan rumah). Pas kita main away (tandang), kita pasti digituin juga," ucapnya.

"Yang kena dampaknya tetap saja pemain. Mereka (suporter) tidak menyadari kalau tim tamu ditimpuki di kandang, tim kesayangannya juga bisa lebih ngeri lagi (diperlakukan suporter lain saat tandang). Harusnya penonton sadar itu," tutur Budiman.

Sebagai insan sepakbola, Budiman berharap kejadian meninggalnya anggota The Jak Mania bernama Sirla usai dikeroyok di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Minggu (23/9/2018) menjadi yang terakhir. Jangan ada lagi korban akibat kekerasan yang dilakukan suporter.

"Mudah-mudahan ini kejadian terakhir, ke depannya jangan sampai terjadi lagi," harap Budiman.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler