Mengenal Anak Krakatau dan Hubungannya dengan Tsunami Banten

Tsunami terjadi di beberapa pantai sekitar wilayah Selat Sunda, di antaranya pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12/2018) pukul 21.27 WIB. Apa hubungannya tsunami itu dengan Gunung Anak Krakatau yang berstatus Waspada atau Level II?

Gunung Anak Krakatau adalah gunung strato tipe A dan merupakan gunung api muda yang muncul dalam kaldera pasca erupsi pada tahun 1883. Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 2013.

Sejak 2013 itu, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi hingga kini alias membangun tubuhnya hingga besar. Selama fase itu, beberapa kali erupsi terjadi di Anak Krakatau.

Salah satu erupsi itu terjadi kemarin malam, tepatnya pukul 21.03 WIB. Asap pun keluar hingga ketinggian mencapai 1,5 kilometer dari puncak kawah. Kurang dari setengah jam, tsunami pun terjadi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani belum bisa memastikan apakah erupsi Anak Krakatau itu menjadi penyebab tsunami atau bukan. Sebab, selama beberapa kali erupsi di sana, tidak pernah berpengaruh terhadap gelombang air laut, bahkan tsunami.

"Untuk menimbulkan tsunami sebesar itu perlu ada reruntuhan yang cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut," kata Kasbani, Minggu (23/12/2018).

Reruntuhan pun harus dipicu oleh energi yang cukup besar. Hal itu yang justru tidak terdeteksi oleh seismogram di pos pengamatan gunung api. Sehingga, perlu penelitian lebih lanjut soal hubungan antara erupai Anak Krakatau dengan tsunami yang terjadi.

"Masih perlu data-data untuk dikorelasikan antara letusan gunung api (Anak Krakatau) dengan tsunami," ungkap Kasbani.

Sementara soal status Waspada yang ditetapkan, PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak memasuki area sejauh 2 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau. Sebab, ada potensi keluarnya lontaran material lava pijar dan abu vulkanik dari gunung tersebut.

Secara khusus, Kasbani mengimbau masyarakat agar tidak terjebak oleh berbagai isu seputar Gunung Anak Krakatau dan tsunami. "Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami," tuturnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya terus melakukan pendataan dampak akibat tsunami tersebut. Sejauh ini, tercatat puluhan orang meninggal, ratusan orang luka, beberapa orang hilang. Tidak hanya itu, ratusan rumah, beberapa hotel, hinggan kapal banyak yang mengalami kerusakan.

"Penanganan terus dilakukan. Status tanggap darurat dan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum, dan lainnya masih disiagakan. Alat berat juga dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan perbaikan darurat," ucap Sutopo.

Ia pun mengimbau agar masyarakat untuk sementara tidak beraktivitas di kawasan pantai yang terdampak tsunami kemarin malam.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler