Sudah Tahu Volcanogenic Tsunami? Yuk, Cari Tahu di Sini! 

Bandung - Beberapa hari ini publik dikejutkan dengan tsunami di perairan Selat Sunda. Tsunami itu datang secara tiba-tiba. Padahal, biasanya tsunami didahului dengan gempa bumi berkekuatan besar.

Berbagai spekulasi dan analisis pun diungkapkan sejumlah ahli. Salah satunya adalah akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang air laut pada saat bersamaan.

Voklanolog Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan adanya gunung di tengah laut dapat memicu terjadinya volcanogenic tsunami atau tsunami akibat gunung api.

"Suatu gunung yang terletak di tengah laut seperti halnya Anak Krakatau atau yang berada di pinggir pantai, sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan volcanogenic tsunami," kata Mirzam di laman resmi ITB.

Volcanogenic tsunami menurutnya terbentuk karena perubahan volume air laut secara tiba-tiba. Ada empat penyebab atau mekanisme terjadinya hal itu.

Pertama adalah kolapsnya kolom air akibat letusan gunung api yang berada di laut. Analoginya adalah seperti meletuskan balon pelampuing di dalam kolam yang menyebabkan riak air di sekitarnya.

Kedua adalah pembentukan kaldera akibat letusan besar gunung api di laut. Hal itu menyebabkan perubahan keseimbangan volume air laut secara tiba. Gambarannya adalah seperti menekan gayung ke dalam bak mandi kemudian membalikkannya.

"Mekanisme pertama dan kedua ini pernah terjadi pada letusan Krakatau, tepatnya 26-27 Agustus 1883. Tsunami tipe ini seperti tsunami pada umumnya, didahului oleh turunnya muka air laut sebelum gelombang tsunami yang tinggi masuk ke daratan," jelas Mirzam.

Penyebab ketiga adalah longsor. Sebab, material longsor dari gunung api bisa memicu perubahan volume air di sekitarnya. Peristiwa ini pernah terjadi di Gunung Unzen Jepang pada 1972 silam. Pada saat bersamaan saat longsor terjadi, di laut sekitar sedang terjadi gelombang pasang. Tsunami pun terjadi hebat. Korban jiwa akibat tsunami saat itu mencapai 15 ribu jiwa.

Penyebab keempat adalah adanya aliran piroklastik atau orang awam sering menyebutnya wedus gembel. Aliran piroklastik ini menuruni lereng dengan kecepatan tinggi saat letusan terjadi. Hal ini bisa mendorong muka air jika gunung tersebut berada atau di dekat pantai.

Tsunami akibat aliran piroklastik ini pernah terjadi di Gunung Pelee, Perancis, pada 8 Mei 1902. "Saat aliran piroklastik ini meluncur dan menuruni lereng akhirnya sampai ke Teluk Naples, mendorong muka laut, dan menghasilkan tsunami," jelas Mirzam.

Ada perbedaan tsunami yang dipicu oleh longsor dan aliran piroklastik dibanding kolapsnya air laut dan pembentukan kaldera. Longsor dan aliran piroklastik dari gunung api di laut menghasilkan tinggi gelombang yang lebih kecil.

"Tapi ini bisa sangat merusak dan berbahaya karena tidak didahului oleh surutnya muka air laut," tutur Mirzam.

Berkaca dari empat penyebab tsunami akibat gunung api itu, apa yang membuat terjadinya tsunami di Selat Sunda, khususnya perairan Banten dan Lampung? Menurutnya, hal itu harus diteliti lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler