Mantap! Dosen ITB Bikin Alat Pendeteksi Badai di Arab Saudi

Bandung - Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Armi Susandi bersama timnya membuat aplikasi pendeteksi badai di Arab Saudi. Aplikasi itu dinamakan Hirdometerological Hazard Early Warning System (H-HEWS).

Melalui aplikasi itu, akan disajikan informasi prediksi badai pasir, gelombang panas, hujan lebat, dan cuaca ekstrem lainnya. Tingkat keakuratannya mencapai 85 persen. "Sistem tersebut bisa memprediksi tiga hari ke depan per tiga jam," ujar Armi dalam keterangan resminya.

Saat ini, aplikasi H-HEWS baru bisa dioperasikan melalui komputer. Ke depan, rencananya akan dilakukan pengembangan dengan membuat aplikasi khusus berbasis Android dan iOS.

Aplikasi itu sedang dalam proses hak paten HAKI. Tapi, prorotipe aplikasi itu sudah dipamerkan di Festival Janadriyah di Arab Saudi belum lama ini. Keberadaan aplikasi itu pun cukup menari perhatian pengunjung dan pemerintah Arab Saudi.

H-HEWS sendiri dibuat karena terinspirasi seringnya bencana badai terjadi di Arab Saudi. Dampak dari badai pun sangat luar biasa, baik materi maupun korban jiwa.

Baca Ini Juga Yuk: ITB Bikin Sistem Aquaponik Air Limbah di Desa Cinangsi Cianjur

Dengan adanya aplikasi tersebut, ITB berusaha membuka peluang bekerjasama dengan pemerintah Arab Saudi. Sehingga diharapkan aplikasi itu akan dipakai di sana.

Selain berbagai keunggulan yang dimiliki, ada kelebihan istimewa lainnya. Sistem dari aplikasi itu sudah memakai bahasa Arab. Sehingga, aplikasi itu akan mudah digunakan oleh pemerintah maupun warga Arab.

"Kenapa kita buatkan khusus, sebab demi mewujudkan ITB sebagai entrepreneurial university, menghilirkan teknologi kita sehingga dipakai oleh masyarakat," tutur Armi.

Sementara untuk prediksi badai tersebut, menurutnya jauh lebih mudah membuat aplikasi untuk Arab Saudi dibanding negara lain. Sebab, Arab Saudi merupakan negara subtropis.

"Prediksi di wilayah padang pasir itu lebih gampang daripada di wilayah kepulauan. Bahkan alatnya itu pun bisa dikembangkan dengan sampai akurasi per kilometer. Namun perlu server yang lebih besar. Tergantung nanti permintaan dari Arab Saudi," pungkas Armi.


Foto: Dokumentasi ITB

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler