Ini Tiga Aplikasi Keren yang Jadi Juara di Hackathon 2019

Jakarta - Aplikasi Peduli Uang Kita alias DUIT berhasil menjadi juara pertama di kompetisi Hackathon 2019 bertema 'Generasi Peduli' dengan tagar #UangKita. Kompetisi ini digelar oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Aplikasi DUIT dirancang oleh grup yang beranggotakan Lidwina Kristantia (22) sebagai project manager, David Hukom (28) sebagai designer dan programmer, Eko Simanjuntak (22). Aplikasi ini dinilai berhasil mengemas informasi seputar APBN 2019 menjadi prototype platform aplikasi yang informatif, edukatif dan menarik.

Lewat aplikasi ini, pengguna dapat meangkses indikator perekonomian seperti tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar. DUIT juga memberikan kesempatan pada milenial untuk memberikan saran pada kinerja Pemerintah. Selain itu, DUIT dilengkapi dengan fitur personalisasi berupa pemantauan belanja per bulan, dengan menggunakan geolocation di masing-masing provinsi pada setiap sektor pembangunan.

Sementara itu, juara kedua diraih aplikasi citizen journalism dengan tagar #PantauKita. Aplikasi ini dirancang oleh project manager Michael Kosastra (21), designer Setyono Dwi Utomo (23), dan programmer Nur Ratna Sari (24).

Mereka menggabungkan fitur Artificial Intelligence (AI) dan kamera untuk mengawal pelaksanaan APBN. Aplikasi tersebut membantu pengguna untuk memastikan bahwa anggaran yang telah dialokasikan di daerah sekitar telah direalisasikan dan memadai.

Lewat tagar #TentukanKita pengguna juga dapat terlibat langsung dalam penyusunan RAPBN dan berkolaborasi dengan Pemerintah. Hal ini dapat meningkatkan efektivitas anggaran belanja negara di daerah masing-masing.


Pemenang ketiga diraih oleh platform bertukar opini berbasis real time. Aplikasi ini dirancang oleh project manager Aqilah Khairunnisa (21), designer Alexander Pratama (25) dan programmer Ilham Firdausi Putra (19). 

Lewat aplikasi ini, pengguna dapat menyukai dan membalas komentar pengguna lain mengenai penyelenggaraan APBN di daerah masng-masing menyerupai media sosial. Selain itu, terdapat fitur online course untuk menyosialisasikan materi penyusunan dan realisasi APBN. Fitur edukasi dan sosial ini yang menjadi daya tarik aplikasi.

Ketiga kelompok tersebut menjadi pemenang karena dinilai berhasil membaca karakteristik milenial yang kritis terhadap pembangunan dan mengemasnya dalam aplikasi. Desain dan user experience yang ditampilkan pun cocok dengan selera kaum muda yang clean dan efisien.

Terdapat empat aspek dalam penjurian. Yakni pertama menilai prototype platform (UX), kedua seberapa mudah aplikasi digunakan (user friendly) dan kepraktisan prototype aplikasi. Ketiga aspek inovasi dan kreativitas serta keroriginalitas inovasi dan kreativitas, juga desain (UI) dan seberapa menarik desain aplikasi. Keempat, fungsionalitas dan kelayakan, tingkat akurasi dan kelengkapan prototype dalam mengkomunikaskan tujuan kasus. 

Juri kompetisi Hackathon 2019 Kemenkeu terdiri dari (i) Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi (OBTI) Kemenkeu, Sudarto; (ii) Vice President of Products DANA Indonesia, Rangga Wiseno; (iii) Managing Director Kalibrr Indonesia, Sanuk Tandon; dan (iv) Managing Director Technology Lead Accenture, Indra Permana. 

Kompetisi diikuti oleh 39 finalis yang dipilih dari 3.500 pendaftar lebih, berasal dari seluruh Indonesia.  "Kami berharap perjalanan mereka tidak berhenti sampai di sini saja dalam menciptakan inovasi teknologi untuk edukasi kebijakan keuangan negara," ungkap Staf Ahli OBTI Kemenkeu dalam laman resminya.


Foto: Instagram.com/smindrawati
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler