Ini 5 Penulis yang Lolos di Ubud Writers & Readers Festival 2019

Denpasar - Lima penulis muda berbakat Indonesia lolos dalam seleksi penulis emerging Indonesia 2019 yang diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2019.

Dalam seleksi sejak Januari hingga Maret 2019 lalu ini ada 1.217 penulis mengirimkan 1.253 karya berupa cerita pendek, puisi dan naskah novel. Jumlah ini merupakan jumlah paling banyak sepanjang seleksi penulis emerging Indonesia yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008.

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. Seleksi penulis emerging Indonesia merupakan wadah bagi para penulis-penulis berbakat Indonesia untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka, serta membuka jalan di dunia kepenulisan profesional.

Setelah melewati proses seleksi yang ketat Yayasan Mudra Swari Saraswati pun mengumumkan lima penulis emerging telah terpilih untuk tampil dalam perhelatan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara pada tanggal 23-27 Oktober mendatang.

Lima penulis emerging yang terpilih yakni Chandra Bientang dari DKI Jakarta, Ilhamdi Putra dari Padang, Sumatera Barat, Heru Sang Amurwabumi dari Nganjuk, Jawa Timur, Lita Lestianti dari Malang, Jawa Timur, dan Nurillah Achmad dari Jember, Jawa Timur.

Kelima penulis emerging terpilih datang dari latar belakang berbeda. Mereka adalah mahasiswa, penulis lepas, wiraswasta, karyawan swasta, dan ibu rumah tangga. Para penulis emerging terpilih ini berusia antara antara 25 tahun hingga 40 tahun. Semuanya terbukti memiliki kepiawaian dalam berbahasa Indonesia dengan baik.

Mereka dipilih langsung oleh Dewan Kurator UWRF 2019 yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan sastrawan ternama Indonesia, yaitu Leila S. Chudori, Putu Fajar Arcana, dan Warih Wisatsana.

Baca Ini Juga Yuk: Lebih Dekat dengan Avianti Armand, Arsitek yang Gemar Menulis

"Kelima karya ini dianggap telah mampu mendorong kesadaran untuk selalu berpihak kepada akal sehat. Sastra memang tidak menyodorkan solusi, tetapi harus mampu memberi 'pencerahan' agar para penikmatnya mengutamakan penyelesaian dengan akal sehat. Secara istimewa, kelima karya terpilih hampir selalu berangkat problematika sosial-kultural yang terdapat di sekeliling mereka. Oleh sebab itu, nuansa lokalitasnya begitu menonjol, meski kemudian tidak jatuh pada etnosentrisme kaku. Problem-problem lokal itu ditafsir sedemikian rupa dan disajikan dalam bahasa estetik, yang kemudian kita ketahui memiliki nilai-nilai universal," ujar Putu Fajar Arcana.

"Tahun ini, karya penulis umumnya cerdas membuat lekukan pada plot hingga menimbulkan daya kejut. Membuat daya kejut pada cerita drama sebetulnya sangat sulit karena akan cenderung menjadi melodramatik atau akhir yang dipaksakan. Tetapi para penulis ini berhasil membuat daya kejut sebagai bagian dari ceritanya dengan cara yang alamiah dan cerdas," tambah.

Sama seperti tahun lalu, karya sastra berupa cerita pendek kembali menjadi sorotan. Empat dari lima karya penulis emerging yang terpilih berupa cerita pendek, sedangkan hanya satu karya berupa puisi. Judul-judul cerita pendek karya penulis emerging antara lain: 'Anak Kucing Leti', 'Mahapralaya Bubat', 'Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan', dan 'Pada Hari Ketika Malam Lelap di Pangkuannya'. Sementara, satu-satunya karya berupa puisi yang terpilih berjudul Alegori.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia bertujuan untuk menjembatani para penulis emerging untuk lebih berkembang. Mereka mendapat kesempatan memperdengarkan karyanya kepada dunia bersama para penulis ternama dari Indonesia maupun internasional. Mereka akan diterbangkan dari kota masing-masing ke Ubud untuk ikut berpartisipasi dalam mengisi panel-panel diskusi di UWRF 2019.

Karya-karya mereka juga akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibukukan dalam buku Antologi dwi bahasa, bersama dengan karya dari para penulis ternama Indonesia lainnya. Deretan nama penulis ternama Indonesia yang akan melengkapi Antologi 2019 ini akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman program lengkap UWRF19.

Sejalan dengan misi Yayasan untuk memperkaya kehidupan bangsa Indonesia melalui program pengembangan budaya dan komunitas, seleksi penulis emerging ini juga terbukti telah membukakan jalan bagi banyak penulis emerging Indonesia menuju karier kepenulisan yang lebih profesional.

Sebagai contoh, para penulis emerging yang diundang ke UWRF 2018 tahun lalu telah menerbitkan buku-bukunya melalui Comma Books, sebuah penerbitan di bawah naungan KPG. Karya-karya sastra penulis yang dulunya merupakan penulis emerging UWRF juga kerap dijumpai di koran-koran berita nasional Indonesia.

Hal ini membuktikan bahwa banyak sekali kesempatan yang bisa diraih para penulis emerging. "Ubud Writers & Readers Festival telah menjadi landasan pacu bagi para penulis emerging dalam berkarya," ujar Wayan Juniarta mewakili UWRF.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, program ini merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia.


Foto: dokumentasi UWRF

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler