Meresapi Nilai Kehidupan Lafran Pane dalam "Merdeka Sejak Hati"

Ahmad Fuadi yang terkenal dengan karyanya "Negeri 5 Menara", kembali merilis novel terbarunya yang berjudul "Merdeka Sejak Hati". Perilisan novel ke-16nya ini, dilakukan pada Minggu (28/07/2019), di Perpustakaan Nasional RI, Gambir, Jakarta Pusat. "Merdeka Sejak Hati" bukanlah sekadar novel biasa. Novel ini, dalam penulisannya terinspirasi dari kehidupan nyata Lafran Pane, seorang pejuang kemerdekaan, sekaligus pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1947.

Judul ini, dipilih oleh Fuadi setelah ia membuat timeline cerita mengenai Larfan, mulai dari kakeknya hingga penetapan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional. "Saya berpikir ini tentang hati, hatinya Lafran. Sejak kecil ia lahir di keluarga yang luar biasa, saat umur 2 tahun sudah ditinggal ibunya. Yang terjadi di hatinya adalah energi besar untuk merdeka," ujar Fuadi.

"Pertama merdeka dari lingkungannya, ia merasa ingin merdeka dari aturan-aturan orang lain. Dari kemerdekaan untuk dirinya sendiri, kemudian ia ingin kemerdekaan bersama, kemerdekaan untuk Indonesia. Terakhir menurut saya, ia mencapai kemerdekaan paripurna, ketika ia menyerahkan dirinya pada Islam. Dari situ menurut saya, merdeka sejak hati," tambah Fuadi.

Dalam penulisannya, Fuadi mendapat banyak bantuan dalam memperoleh data-data mengenai Larfan Pane, melalui keluarga dan juga tokoh-tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Novel ini, bukan merupakan buku biografi. Sebab, selain berdasarkan fakta-fakta yang telah dikumpulkan, Fuadi juga melakukan pengembangan cerita.

Sosok Lafran pada "Merdeka Sejak Hati" digambarkan sebagai pencari cinta. Berawal dari mencar cinta ibunya, hingga cinta pada negara, dan agama. Selain itu, diceritakan juga perjalanan hidup Lafran Pane, yang tidak hanya dikenal sebagai aktivis, namun juga sebagai akademisi yang memakai ilmunya untuk kemaslahatan bersama.

"Saya merasa sangat bahagia dan terharu sekali, dan sangat berterima kasih kepada keluarga besar HMI. Paman saya mendapatkan gelar pahlawan nasional dan kisahnya dijadikan novel. Sosok Lafran Pane, merupakan anak dari tokoh pengembang Muhammadiyah, aktivis partai, dan juga penulis buku. Jadi, saya kira kepahlawanan Lafran Pane merupakan akumulasi dari perjuangan ayahnya yang begitu hebat, Sutan Pangurabaan Pane," kata Nina Pane, keponakan Lafran Pane.

Baca Ini Juga Yuk: Kegigihan Vabyo Kembali Menulis Buku Usai Pulih dari Stroke

Di novel "Merdeka Sejak Hati", seorang Lafran Pane diceritakan pernah melakukan kenakalan yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah, minggat dari rumah, menjadi petinju, dan anak jalanan. Semua itu Lafran lakukan dalam pencariannya menemukan kemerdekaan dan cinta yang hilang.

"Buku ini kental dengan kultur, sosok pejuang Indonesia. Dari setiap babnya, terdapat ketulusan dari Lafran. Terdapat kisah-kisah yang menarik, seperti saat ia berumur 15 tahun dan berhasil melawan preman-preman Jakarta, bermain dengan anak-anak yang berasal dari kelas sosial yang berbeda, serta bagaimana ia menghadapi kehidupan Jakarta yang keras," tutur Ahmad Muqowam, Wakil Ketua DPD RI yang turut membedah buku itu.

Bagi Lafran, merdeka itu ketika berani jujur dan sederhana di tengah riuh rendah dunia. Baginya pula, merdeka itu sejak hati, Islam itu sejak nurani. Novel ini, Fuadi tulis disesuaikan dengan lini masa hidup Lafran Pane, namun juga terdapat pengembangan kreatif untuk kafakter, waktu, tempat, dialog, dan adegan.

A. Fuadi mengakui, bahwa selama menulis novel ini ia mengalami beberapa kesulitan. Pertama, pada riset terdapat conflicting fact. Di mana, terdapat fakta yang jika ditanyakan pada beberapa orang, hasilnya berbeda-beda. Selain itu, Fuadi juga kesulitan untuk mengumpulkan kata-kata asli yang diucapkan oleh Lafran Pane. Sebab, Lafran bukanlah sosok yang suka menulis catatan harian ataupun bercerita. Namun, Fuadi mengumpulkan kata-kata tersebut melalui hasil wawancara yang dilakukan Lafran, kemudian dikombinasikan dengan fakta yang didaptkan dari keluarganya.

Selain dijadikan buku, kisah hidup Lafran Pane ini juga akan diangkat ke layar lebar, dengan judul "Demi Waktu". Diperkirakan film ini akan diputar pada Maret 2020. Diharapkan, melalui novel dan film mengenai Lafran Pane, lebih banyak masyarakat yang bisa mengenal sosoknya dan memahami ilmu yang diberikan. Kisay Lafran Pane juga diharapkan mampu melawati batas geografis, hingga dikenal di seluruh dunia.


Foto: Nurul Faradila


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler