Menelusuri Jejak Sejarah Kemerdekaan dari 6 Rumah Bung Karno

Bandung - TemanBaik, sosok Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno selalu menarik untuk diulas. Mulai dari masa muda, perjuangan, kepemimpinan, hingga kisah cintanya selalu memantik rasa penasaran publik. Salah satu yang menarik untuk diulas adalah tempat tinggal Soekarno selama berada di Bandung.

Bandung sendiri bisa dibilang menjadi kota di mana Bung Karno ditempa. Tinggal di Bandung sejak usia muda dalam kurun 1920-an hingga 1934, ia menimba banyak ilmu dan pengalaman. Banyak juga perjuangan yang dimulai dari Bandung. Lalu, di mana saja sih tempat Bung Karno tinggal?

Untuk menelusuri jejaknya, BeritaBaik.id menemui dua narasumber di lokasi berbeda, yaitu pegiat Komunitas Aleut Ariyo Wahyu Widjajadi atau akrab disapa Alex dan Gatot Gunawan, penanggungjawab Sakola Ra'jat Iboe Inggit Garnasih. Penelusuran ke lokasi pun dilakukan.

1. Rumah Haji Sanusi
Menurut Alex, rumah Haji Sanusi jadi tempat pertama Bung Karno tinggal di Bandung. Sanusi adalah kawan dekat Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam di Surabaya. Tjokroaminoto yang mengatur semuanya hingga akhirnya Bung Karno muda tinggal di rumah Sanusi.

"Rumahnya ada di sekitar Gang Abdurahim. Gang itu masih ada sampai sekarang, di sekitar Pasirkaliki. Tapi di mana tepatnya rumah Haji Sanusi sudah enggak terlacak," kata Alex. Menurut Gatot Gunawan, penanggungjawab Sakola Ra'jat Iboe Inggit Garnasih, Bung Karno tinggal di sana dalam kurun 1920-1923.

2. Rumah di Jalan Javaveemweg
Rumah di jalan ini adalah milik orangtua Inggit Garnasih. Di tempat ini, Bung Karno menikah secara sederhana dengan Inggit Garnasih pada 1923. Di laman mooibandoeng.com, pernikahan itu tercatat melalui Surat Keterangan Kawin dengan nomor 1138 bertanggal 24 Maret 1923 dalam Bahasa Sunda.

"Kalau sekarang ada jalan (kecil) di sebelah Hotel Kedaton, dulu di situ disebut Javaveemweg. Bung Karno dan Bu Inggit nikah dan sempat tinggal di situ beberapa bulan," ucap Alex. Javaveemweg sendiri sudah berubah nama menjadi Jalan Viaduct. Menurutnya, lokasi eks rumah itu kini jadi bagian dari Hotel Kedaton.

Keterangan ini diperkuat Gatot. Sayangnya, rumah itu sudah tak tersisa sama sekali. Tak diketahui juga bagian mana dari hotel tersebut yang merupakan lokasi eks tempat tinggal Bung Karno dan Inggit Garnasih. "Sudah enggak ada bangunannya. Sekarang jadi salah satu bagian dari hotel," ucap Gatot.


3. Gang Djaksa
Setelah tinggal beberapa bulan pada 1923 di Javaveemweg, Bung Karno dan Inggit Garnasih sempat mengontrak rumah. Lokasinya pun berpindah-pindah. Salah satunya di Djaksaweg atau Gang Djaksa, tepatnya sekitar Jalan Dewi Sartika. Saat ini, Gang Djaksa masih ada. Bedanya, nama atau ejaannya sudah berubah menjadi Gang Jaksa. Di sini masih terdapat rumah tempat Bung Karno sempat tinggal bersama Inggit Garnasih pada 1923.

4. Gedong Dalapan di Jalan Pungkur
Bung Karno juga diketahui pernah ngontrak di kawasan Jalan Pungkur, dulu bernama Pongkoerweg. Rumah kontrakan itu disebut Gedong Dalapan. Itu karena terdapat beberapa bangunan dengan bentuk sama. Sedangkan Bung Karno tinggal di rumah urutan atau nomor kedelapan. Sehingga, namanya sering disebut Gedong Dalapan. "Sekarang rumahnya sudah enggak ada," ucap Gatot. Di tempat ini, Bung Karno dan Inggit menurutnya tinggal selama setahun pada 1924. Setelah itu, keduanya pindah ke tempat lain.

5. Jalan Dewi Sartika
Di Jalan Dewi Sartika, dulu bernama Regentsweg, juga ada rumah yang sempat dikontrak Bung Karno dan Inggit Garnasih. Sayangnya, jejak bangunannya sudah tidak ada. Saat ini, bekas lokasi rumah kontrakan itu sudah menjadi Gereja Rehoboth Jemaat Bandung. Di sini, kedua sejoli itu tinggal sekitar setahun pada 1925.

6. Rumah di Jalan Ciateul
Saat ini, rumah itu dikenal dengan sebutan Rumah Inggit Garnasih. Lokasinya ada di Jalan Ciateul, dulu disebut Astanaanjarweg. "Ini rumah terakhir Bung Karno dan Bu Inggit tinggal di Bandung," kata Alex. Rumah itu ditinggali keduanya pada 1926 hingga 1934. Saat itu, rumah itu dibeli Inggit dan Bung Karno. Kondisinya berbeda jauh dengan sekarang. Dulu, rumah itu adalah rumah panggung.

Sedangkan menurut Gatot, bangunan yang ada saat ini adalah hasil renovasi pada tahun 1950-an setelah Inggit dan Bung Karno bercerai. Inggit kembali tinggal di sana setelah sempat berpindah-pindah rumah selepas pulang dari pengasingan dan bercerai dengan Bung Karno. "Di situ tempat terakhir Bu Inggit tinggal sampai meninggal," jelas Gatot.

Saat ini, rumah itu terkesan antik karena memang bangunan zaman dulu. Rumah tersebut kini jadi semacam museum dan menyimpan berbagai cerita hingga benda bersejarah.

Foto: Djuli Pamungkas/BeritaBaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler