5 Mahasiswa UGM Sulap Sampah Plastik Jadi Komposit Beton

Yogyakarta - Dengan memanfaatkan limbah sampah plastik yang banyak mencemari lingkungan, lima mahasiswa UGM berhasil membuat inovasi pengembangan komposit beton dari sampah plastik tersebut. Keren ya TemanBaik!

Salah satu dari kelima mahasiswa itu, Putra Makmur Boangmanalu (Kimia-FMIPA) mengatakan komposit beton dibuat dari lelehan plastik yang dicampur dengan pasir.

Komposit beton dari limbah plastik itu lalu dikembangkan olehnya bersama dengan Stephanus Satria Wira Waskitha (Kimia-FMIPA), Vidiskiu Fortino Kurniawan (Ilmu Komputer-FMIPA), Nicolaus Elka Yudhatama (Teknik Kimia-FT) dan Reza Yustika Bayuardi (Teknik Kimia-FT).

Awal pengembangan produknya sendiri bermula dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya jumlah plastik di tanah air. Bahkan, jumlahnya tercatat semakin meningkat dari waktu ke waktu. Produksi plastik meningkat 20 kali lipat antara tahun 1964 dan 2015 dan mencapai 322.000 juta ton.

“Dari persoalan itu kami terpikir untuk membuat komposit beton sebagai upaya mengurangi limbah plastik yang dapat langsung diaplikasikan kepada masyarakat,” jelas Putra.

Putra menambahkan untuk memperoleh komposit beton ini digunakan bijih botol plastik jenis polietilen tereftalat (PET). Limbah plastik tersebut kemudian dicacah menggunakan mesin pencacah plastik untuk selanjutnya dipanaskan dengan suhu 410-580° celcius selama sekitar 30 menit.

Langkah berikutnya, lelehan plastik dicampur dengan pasir elod. Selanjutnya, dicetak dengan ukuran 5cm x 5cm x 5cm dan dikeringkan selama 7 hari.

“Lelehan plastik tersebut digunakan sebagai pengganti semen,” ujarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Mantap! Atlet Taekwondo UMM Borong 7 Medali di Kejuaraan Dunia

Sementara itu, Elka menambahkan produk komposit beton yang dihasilkan ini memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan produk sejenis di pasaran. Produk komposit beton dari lelehan plastik ini mempunyai kuat tekan 15,52 MPa dengan pengeringan selama tujuh hari. Sedangkan kuat tekan beton M15 atau produk yang telah ada di pasaran dengan pengeringan selama 28 hari sebesar 15 MPa.

“Artinya komposit beton plastik ini lebih kuat daripada beton yang biasanya digunakan,” ungkapnya. 

Produksi komposit beton dari limbah sampah plastik ini juga dapat dilakukan oleh masyarakat loh. Sebab, dalam pembuatannya tidak menggunakan alat-alat berat yang kompleks. Tapi, memakai material alat yang telah dimodifikasi. Komposit beton ini nantinya dapat digunakan untuk paving blok.

“Yang  masih menjadi pekerjaan rumah bagi kami adalah bagaimana bisa membuat komposit beton dengan harga yang kompetitif dengan batako biasa,” imbuhnya.

Dia menjelaskan bahwa batako biasa per buahnya dijual Rp2.500,00. Sementara komposit beton yang mereka kembangkan diharga sekitar Rp3.500,00 sampai Rp4.000,00 per buahnya.

Produk beton komposit yang mereka buat telah diaplikasikan di masyarakat saat menjalankan program KKN 2019 di Desa Sepanjang, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Inovasi ini juga berhasil menghantarkan kelima mahasiswa tersebut menyabet medali emas dari ajang internasional 2nd World Innovation Technology Expo (WINTEX)  2019 yang diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), yang diselenggakan awal Oktober 2019 di Jakarta.


Foto: Humas UGM

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler