Kini Unpad Punya Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda

Bandung - Sekarang Universitas Padjajaran alias Unpad Bandung memiliki lembaga khusus inventarisasi Budaya Sunda bernama 'Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad'. Tidak hanya melakukan inventarisasi kekayaan budaya tulis, audio, dan visual milik masyarakat Sunda, sesuai namanya lembaga ini juga mengolahnya ke dalam bentuk digital.

Melansir laman resmi Unpad, inisiasi dari inventarisasi khazanah kebudayaan Sunda ini muncul dari Rektor ke-10 Unpad Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA. Sejak 2013, Prof. Ganjar bersama tim mulai mengumpulkan berbagai karya tulis seperti buku dan media berbahasa Sunda, hingga berbagai arsip gambar dan rekaman suara.

Berdasarkan hasil penelusuran, tercatat sekitar 100 jenis media berbahasa Sunda pernah terbit di Jawa Barat. Ada pula media berbahasa asing yang mengupas tentang kebudayaan Sunda. Selain itu, puluhan ribu buku berbahasa Sunda atau tentang Sunda, ribuan arsip gambar, rekaman suara, hingga dokumen penting pernah beredar dan menjadi koleksi pribadi.

Prof. Ganjar menjelaskan, upaya yang dilakukan bertujuan untuk menyelamatkan kekayaan tulis, audio, dan video orang Sunda dari kepunahan serta menyebarluaskan kembali kepada khalayak.

"(Arsip budaya) ini diperkirakan akan rusak atau hilang. Atau banyak yang masih menyimpan tetapi kondisinya sudah tidak baik. Inilah yang menyebabkan kami melakukan digitalisasi," ujarnya dalam acara sosialisasi sekaligus peresmian berdirinya Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad di Grha Soeria Atmadja, Jalan Dipati Ukur No. 46, Bandung, Rabu (13/11/2019)

Ganjar menilai, kekayaan budaya ini patut diselamatkan. Setidaknya, upaya ini menjadi salah satu jejak warisan para leluhur Sunda yang diharapkan masih bisa dirasakan di masa depan. "Kalau kita tidak selamatkan, maka kita akan kehilangan satu jejak peradaban," imbuhnya.

Upaya digitalisasi dilakukan dengan cara melakukan pemindaian dan konverter. Berbagai karya media cetak telah dilakukan pemindaian menjadi format digital. Begitu pula rekaman suara yang berasal dari pita maupun piringan hitam dikonversi secara sederhana sehingga menjadi berformat digital. Seluruh data digital ini disimpan dalam satu pusat data.

Ganjar menjelaskan, ada tiga peran penting dari digitalisasi arsip budaya Sunda ini. Tiga peran penting tersebut antara lain: mampu membangun peradaban dengan berpijak pada kebudayaan, penyedia kronologi kebudayaan, serta menumbuhkan masyarakat yang melek literasi.

Saat ini, ia dan timnya tengah mengembangkan situs khusus untuk menampilkan data tersebut. Diharapkan, ke depannya pusat ini bisa menjadi museum digital milik Unpad dan data digital kebudayaan Sunda ini dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat melalui situs khusus.

Adapun tim yang tergabung dalam Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad tersebut, yaitu Dr. Tedi Muhtadin, M.Hum., Drs. Abdul Hamid, M.Hum., Dr. Gani Ahmad Jaelani, DEA., serta sejumlah tenaga pendukung lainnya.

Rektor Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., mengapresiasi berdirinya pusat digitalisasi arsip budaya Sunda ini. Melalui pusat digitalisasi ini, fakta sejarah masa lalu dirunut secara baik dengan menggunakan teknologi digital. "Ini adalah bagian dari aset Unpad dan harus dilestarikan kapan pun," kata Rektor.

Pendekatan digitalisasi dipandang efektif terutama bagi generasi muda. Dengan media digital, generasi muda diharapkan mengenal lebih dekat berbagai khazanah kebudayaan Sunda yang mungkin secara fisik sudah susah dicari dan ditemukan.

Rektor juga berharap, beragam data digital kebudayaan Sunda ini juga bisa go international. "Rasanya kita perlu mengumandangkan nilai-nilai dari sejarah yang baik ke internasional," pungkasnya.

Foto: unpad.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler