Canggih! Peneliti UGM Kembangkan Alat Rontgen Digital

Yogyakarta - Tim penelitian, pengembangan dan rekayasa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan teknologi radiografi sinar-x digital untuk diagnosa medis nih, bernama Madeena yang merupakan singkatan Made in Indonesia. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Gede Bayu Suparta dari Departemen Fisika FMIPA.

Teknologi radiografi sinar-x digital yang dikembangkan tersebut menggunakan layar fluoresens dan kamera digital dan disebut teknologi Radiografi Sinar-x Fluoresens Digital (RSFD). Dengan alat rontgen ini biaya bisa lebih ditekan sehingga masyarakat yang harus mendapatkan layanan rontgen bisa cepat diambil tindakan.

Kinerja teknologi RSFD ini setara dengan teknologi Direct Digital Radiography (DDR) yang menggunakan flat detektor atau disebut juga Radiografi Flat Detektor (RFD). Fasilitas DDR atau FDR sangat diidamkan oleh semua rumah sakit di Indonesia.

Saat ini, harga alat DDR relatif mahal, oleh sebab itu mereka membuat Madeena. "Namun, karena harga alat DDR relatif sangat mahal maka tidak semua rumah sakit dapat memiliki. Implikasinya biaya yang harus dibayar pasien menjadi tinggi," tutur Gede Bayu lewat laman ugm.ac.id

Gede Bayu menyebutkan alat ini juga bisa diakses real time tanpa harus menunggu cetakan manual film seperti alat rontgen konvensional lainnya. Dengan dukungan teknologi komputerisasi, Madeena juga bisa diakses dokter tanpa harus berada di lokasi radiologi. Canggih ya!

Dengan begini, proses radiografi dapat sangat cepat dan dapat diselenggarakan melalui kehadiran radiographer, fisika medis dan dokter radiologis secara online

"Jadi, kehadiran fisik di suatu instansi kesehatan dapat direduksi. Selain itu, proses radiografi menjadi sangat aman bagi pasien, pekerja radiasi, perawat dan lingkungan rumah sakit karena paparan radiasi yang diberikan mencapai 1/100 dari nilai ambang batas yang ditetapkan BAPETEN," terangnya.

Madeena sendiri telah diluncurkan pada awal November 2019 lalu setelah melalui perjalanan riset yang panjang sejak tahun 1989. Di tahun 1989 itu dia bersama tim peneliti departemen FISIKA FMIPA UGM mulai melakukan riset bidang radiografi digital. Saat itu, teknologi komputer, teknologi kamera digital dan pemrograman belum secanggih saat ini.

"Namun, saya punya visi suatu saat perangkat radiografi konvensional berbasis film akan digantikan sistem radiografi digital ada saat kinerja teknologi komputer, teknologi kamera digital dan teknik coding telah sangat maju," ucap Gede Bayu.

Kegiatan Litbangyasa di bidang radiografi digital melakukan pengembangan serius sejak tahun 2003. Hasilnya, suatu aplikasi paten terkait perangkat untuk sinkronisasi digitisasi citra radiografi dengan pancaran sinar-x, yang diajukan pada tahun 2005 dan aplikasi paten di-granted pada tanggal 19 Oktober 2009 dengan nomor paten ID P 0024437. "Kepemilikan paten telah diserahkan kepada UGM sebagai aset intelektual bangsa Indonesia," terangnya.

Meski telah dipatenkan, namun hilirisasi baru terjadi pada tahun 2019. Gede Bayu menyebutkan selama 15 tahun terakhir sejak aplikasi patennya didaftarkan, inovasinya tidak terdengar kalangan industri. Keberadaan inovasi ini hanya sebagai publikasi di jurnal ilmiah dan pembicaran di ruang seminar ilmiah.

Selanjutnya pada tahun 2019 Gede Bayu bersama dengan tim mendapatkan momentum pengembangan teknologi yang signifikan. Tim penelitian yang dipimpinnya bersama PT. Madeena menyempurnakan prototipe alat RSFD di laboratorium Fisika Citra FMIPA UGM dan di BRSU Tabanan Bali.

"Akhirnya Madeena bisa dihilirisasi melalui kemitraan antara tim peneliti UGM, PT. Madeena, dan CV Prestige. Keberhasilan pembuatan produk ini menjadi bukti nyata adanya hilirisasi hasil riset UGM pada masyarakat pengusaha," paparnya.

Gede Bayu berharap, alat RSFD ini nantinya bisa tersedia di 3 ribu rumah sakit dan klinik serta 9 ribu puskesmas yang tersebar di 34 provinsi untuk melayani pemeriksaan status kesehaatan rakyat Indonesia.

Dengan alat RSFD yang dikombinasikan dengan sistem teleradiologi, memungkinkan dokumentasi data status kesehatan seluruh rakyat Indonesia dengan masa retensi minimal 10 tahun. 

"Bila data status kesehatan terpelihara maka kualitas SDM Indoensia dapat diprediksi. SDM yang terindikasi sakit-sakitan tentu akan menjadikan pencapaian Indonesia Unggul tahun 2045," pungkasnya.

Foto: ugm.ac.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler