Tak Hanya Lekat dengan Historis, Nyale Juga Punya Banyak Khasiat

Mataram - TemanBaik, pernah mendengar hewan bernama Nyale? Ya! Nyale adalah cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut. Wujud Nyale ini cukup unik karena memiliki tubuh yang berwarna-warni. Nama hewan ini kian populer saat masyarakat di Nusa Tenggara Barat menggelar acara Festival Pesona Bau Nyale 2020, yang merupakan salah satu festival kebudayaan Indonesia dari Nusa Tenggara Barat.

Bila dikaji secara historis, Nyale memiliki cerita yang begitu kuat. Menurut beberapa dongeng, dulu ada seorang putri cantik yang bernama Mandalika. Kabar kecantikan putri ini tersebar ke seluruh pelosok pulau, sehingga banyak pangeran yang jatuh cinta dan ingin menikahi sang putri.

Baca Ini Juga Yuk: 'Kampung Ilmu', Pusat Pendidikan di Lembah Gunung Parang

Karena tak menginginkan terjadinya perang atau konflik, Mandalika memilih untuk terjun ke laut. Namun sebelum terjun, ia berjanji akan mengunjungi rakyatnya dalam bentuk cacing berwarna-warni atau Nyale.

Kemunculan cacing berwarna-warni tersebut hanya muncul satu kali dalam setahun, dan diyakini sebagai pertanda kehadiran Putri Mandalika untuk masyarakatnya. Selain cerita rakyat dibaliknya, Nyale juga memiliki berbagai khasiat diantaranya menyembuhkan beragam jenis penyakit.

Belum lama ini, Festival Pesona Bau Nyale 2020 digelar di Pantai Seger, Lombok, Nusa Tenggara Timur. Festival ini merupakan tradisi tahunan masyarakat Lombok, khususnya Suku Sasak dalam menyambut kehadiran Putri Mandalika. Bau Nyale itu sendiri diambil dari kata 'Bau' yang artinya menangkap, dan 'Nyale' (yang ditangkap). Maka bisa disimpulkan, Bau Nyale adalah tradisi menangkap nyale.

Dilansir dari situs kemenpar.go.id, ribuan orang tercatat mengikuti festival kebudayaan ini. Para pemburu Nyale datang dari berbagai kalangan dan usia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan. Tak ada batasan.

Proses menangkap Nyale sendiri dilakukan dengan menggunakan kayu berbentuk huruf 'U' yang diikat dengan jaring di belakangnya. Nyale yang bermunculan dari dalam karang itu kemudian diserok dengan jaring tersebut.

Dibutuhkan kesabaran agar tangkapan Nyale banyak. Mengingat cacing ini cukup lincah dan licin.

"Saya dapat (nyale) lumayan banyak, ini akan saya konsumsi bersama keluarga, setahun sekali," tutur Agus yang datang dari Kota Mataram sambil menunjukkan hasil tangkapannya yang berisi Nyale hampir setengah ember. Namun, ia melanjutkan, Nyale yang dia dapat kali ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Wujud Nyale itu sendiri begitu unik. Selain berwarna-warni, Nyale juga mengandung protein yang tinggi sehingga sangat layak untuk dikonsumsi. Tak heran jika setelah menangkap, ada warga yang langsung memakannya. Tapi ada juga yang dibawa pulang dan dimasak untuk dimakan bersama keluarga. Biasanya masyarakat memasaknya dengan cara dipepes dengan bungkus daun pisang. Kegiatan berburu Nyale baru usai setelah matahari terbit.

Jika ditelusur lebih dalam, Nyale memiliki kandungan protein sebanyak 43.84%. Sedangkan telur ayam 12.2% dan susu sapi 3.50%. Kadar fosfor dalam Nyale (1.17%) juga cukup tinggi bila dibandingkan dengan telur ayam (0.02%) dan susu sapi (0.10%). Nyale bahkan memiliki kandungan kalsium (1.06%) yang ternyata masih lebih tinggi dari kandungan kalsium susu sapi yang hanya 0.12%.

Bahkan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof. Sri Purwaningsih M.Si pernah mengatakan, Nyale berkhasiat sebagai antidiabet alami. Selain itu, di China Selatan, cacing laut bahkan telah lama digunakan sebagai obat tradisional dalam mengobati penyakit tuberkulosis, pengaturan fungsi lambung dan limpa, serta pemulihan kesehatan yang disebabkan oleh patogen.

Menarik juga, ya, TemanBaik. Selain lekat dengan nilai historis, Nyale juga bisa jadi alternatif obat-obatan yang bisa dikonsumsi manusia. Lalu, adakah diantara kamu yang sudah pernah mencoba cacing gurih yang satu ini?

Foto: dok. kemenpar.go.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler