Paguyuban Pasundan, Pelestari Bahasa Ibu di Tengah Modernisasi

Bandung - TemanBaik, bahasa ibu atau bahasa daerah kini semakin tergerus di tengah arus modernisasi. Banyak yang tak lagi menggunakan bahasa daerah. Bahkan, ada banyak anak muda yang jangankan fasih mengucapkan, sekadar mengerti bahasa daerah saja tidak.

Butuh perjuangan keras berbagai pihak agar bahasa daerah bisa tetap lestari. Di Jawa Barat dan Banten, salah satu pelestari bahasa Sunda itu adalah Paguyuban Pasundan. Organisasi yang berdiri pada 20 Mei 1913 ini berusaha konsisten dalam pelestarian bahasa Sunda, termasuk budaya dan kesenian Sunda.

Salah satu upaya pelestarian bahasa Sunda itu adalah melalui lembaga pendidikan yang dinaungi Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan. YPDM yang merupakan bagian dari Paguyuban Pasundan ini memiliki di wilayah kerja di Jawa Barat dan Banten. Lembaga pendidikannya sendiri lengkap, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

"Kita ada 100 sekolah lebih dari semua tingkatan dengan jumlah siswa lebih dari 40 ribu. Kita juga mengelola empat perguruan tinggi," kata Ketua YPDM Pasundan T. Subarsyah.

Semua sekolah dari tingkat TK hingga SMA masih memiliki mata pelajaran bahasa Sunda dengan guru bahasa Sunda sekitar 200 orang. Mata pelajaran ini menjadi ciri khas tersendiri. Sedangkan di tataran perguruan tinggi, dalam skripsi hingga tesisnya diwajibkan mencantumkan ada bagian yang menggunakan bahasa Sunda.

Tak hanya dalam mata pelajaran, bahasa Sunda juga digunakan sebagai bahasa percakapan dalam keseharian di lingkungan sekolah. Bahkan, para guru dan semua yang bekerja di lingkungan sekolah juga melakukan hal serupa.

"Bahkan dalam rapat guru misalnya, itu juga memakai bahasa Sunda. Termasuk SK (surat keputusan) itu juga menggunakan bahasa Sunda," jelas Subarsyah.

Hal ini juga berlaku di lingkungan Paguyuban Pasundan secara umum, bukan hanya di lembaga pendidikannya. Sehingga, jika TemanBaik berkunjung ke Gedung Paguyuban Pasundan di Jalan Sumatera, Kota Bandung, akan terasa jelas bahwa di sini sangat nyunda.

Baca Ini Juga Yuk: Jangan Buang Bekas Popok Bayi di Taman, Ini Dampaknya!

Tak hanya bahasa, nilai-nilai dan filosofis budaya Sunda juga jadi bagian dari seluruh aspek kehidupan di Paguyuban Pasundan dan organisasi atau lembaga di bawahnya. Mulai dari keramahan, cara berpikir, hingga tingkah laku. Adab dan adat Sunda jelas sangat dijunjung tinggi di sini.

Digunakan Tanpa Mengekang

Penggunaan bahasa Sunda di lingkungan sekolah yang dinaungi YPDM Pasundan sendiri memiliki prinsip berani menggunakannya. "Hampir seluruh siswa di lingkungan YPDM Pasundan tidak ada yang tidak berani berbahasa Sunda," ucap Subarsyah.

Tapi, diakuinya terkadang bahasa yang digunakan tak sesuai undak-usuk basa atau kaidah bahasa Sunda yang baik dan benar, terutama di kalangan sesama siswa. Bahkan, terkadang bahasa yang digunakan juga cenderung kasar.

Namun, hal itu bukan masalah. Sebab, penggunaan bahasa Sunda sesuai kaidah hanya diterapkan dalam mata pelajaran. Yang terpenting, esensi dari memelihara dan membudayakan penggunaan bahasa Sunda tetap terjaga.

"Salah juga biarin daripada tidak berani bicara bahasa Sunda. Bahasa Sunda itu dibiarkan tumbuh walaupun kadang ada bahasa binatang (kasar), bahasa gaul. Artinya, itu salah satu bagian dari konsep pelestarian bahasa Sunda, kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

"Kita juga tidak menuntut penggunaan undak-usuk basa, ini hanya dituntut dalam mata pelajaran saja. Selebihnya, silakan gunakan bahasa mereka sendiri (yang membuat nyaman berbicara bahasa Sunda). Bahasanya gado-gado (campur dengan bahasa Indonesia) juga tidak apa-apa, yang penting dominannya bahasa Sunda," tutur Subarsyah.

Menurutnya, penggunaan bahasa Sunda, terutama generasi muda, jangan terlalu diikat dengan aturan undak-usuk basa. Sebab, hal itu akan menyulitkan siswa dan membuat mereka malas menggunakan bahasa Sunda. Sehingga, kaidah bahasa Sunda yang baik dan benar tak saklek harus dilakukan.

Bahasa Sunda sendiri tergolong sulit dipelajari. Sebab, untuk satu kata saja akan berbeda katanya antara untuk teman sebaya, orang yang lebih muda, dan orang tua. Untuk makan misalnya, ada tuang, neda, dan dahar.

Jika generasi muda dikungkung harus menggunakan bahasa Sunda sesuai undak-usuk basa, mereka kemungkinan akan kesulitan. Sebab, kemampuan berbahasa Sunda mereka banyak yang tak terlatih sejak dini. Apalagi, banyak keluarga yang sudah meninggalkan bahasa Sunda sebagai percakapan sehari-hari di rumah.

"Pengucapan bahasa Sunda itu perlu kemerdekaan, jangan terlalu banyak dikekang, jangan terlalu banyak disalahkan. Biarkan saja tumbuh," ucap Subarsyah.

Sementara dalam pelajaran bahasa Sunda, siswa jelas diajarkan untuk bisa menggunakan bahasa Sunda dengan baik dan benar. Sebagai contoh, ada kegiatan mengarang atau bercerita menggunakan bahasa Sunda. Saat belajar bahasa Sunda pun jelas bahasa yang dipakai bahasa Sunda.

Di luar itu, kegiatan yang terkait siswa juga memakai bahasa yang sama loh. Misalnya ketika pengurus OSIS menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka menyampaikannya dalam bahasa Sunda.

Bahkan, kegiatan ibadah salat jumat di masjid yang berada di YPDM Pasundan juga berbahasakan Sunda. Tapi, jika kebetulan mayoritas yang hadir saat itu mayoritas bukan orang Sunda, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

Sementara selain bahasa Sunda, sekolah di bawah YPDM Pasundan juga tetap mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan, bahasa asing seperti bahasa Inggris juga dipelajari sebagai bagian dari mencetak generasi yang siap menyongsong era globalisasi.

Foto: Ilustrasi Agam/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler