Dorong Kebijakan Inklusif, UB Raih Penghargaan dari PBB

Malang - Penghargaan bergengsi skala dunia baru saja diraih oleh Pusat Studi Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD), belum lama ini. Hebatnya, Universitas Brawijaya merupakan satu-satunya institusi yang berasal dari Indonesia, bahkan satu-satunya di lingkup Asia Tenggara. Penghargaan tersebut diberikan pada saat Konferensi Zero Project, 19 hingga 21 Februari lalu di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di Vienna, Austria.

Prof. Dr. Ir. Mochammad Sasmito Djati, MS., Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya datang menerima penghargaan dengan didampingi oleh Wahyu Widodo, M.Hum., Sekretaris PSLD, Alies Poetri Lintangsari, M.Li, Kepala Bidang Pelayanan PSLD, dan Ulfah Fatmala Rizky, M.PA, Peneliti di PSLD Universitas Brawijaya.

Dalam kegiatan tersebut Prof. Sasmito Djati juga mempresentasikan soal 'Admission Quotas and Support Services for University Enrollment' di depan para tamu undangan. Zero Project sendiri adalah program yang diinisiasi oleh Essl Foundation yang berpusat di Vienna Austria, dengan fokus pada pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dalam skala global.

Sebagai platform global, Zero Project menginisiasi, menyeleksi, dan menyuguhkan solusi yang inovatif dan efektif dalam memecahkan problematika penyandang disabilitas yang didasari oleh Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa atas Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD).

Kepada tim beritabaik.id, Prof. Dr. Ir. Mochammad Sasmito Djati, MS., Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya mengatakan, penghargaan ini diberikan karena ada kebijakan inovatif yang ditawarkan yakni pemenuhan kuota dan Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD) yang telah diterapkan di Universitas Brawijaya sejak tahun 2012.

Semula proses seleksi diberi nama Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) berubah menjadi Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD) pada 2019. Seleksi ini dilakukan dengan berbagai tahapan. Mulai dari tes administratif, tes kemampuan akademik, simulasi perkuliahan, dan wawancara.

"Seleksi mahasiswa disabilitas di Universitas Brawijaya ada psikotes untuk mengetahui kemampuan intelektualnya sampai dimana. Kalau cacat fisik gampang. Ada buta, ada tuli, itu 60 persen mahasiswa yang kita terima dari (disabilitas) itu," ujar Sasmito.

Baca Ini Juga Yuk: Atlet Catur dari Malang Berjaya di Kancah Internasional


Setiap tahunnya, Univeritas Brawijaya menyediakan 20 kuota khusus bagi siswa difabel yang ingin menempuh kuliah. Hal itu masih ditambah dengan berbagai macam fasilitas pendukung seperti juru bahasa isyarat untuk siswa tuli, alat bantu dengar, hingga volunteer yang akan mendampingi siswa selama berada di kampus.

"Kita membentuk volunteer. Dengan membentuk volunteer itu juga inovasi. Jadi di suatu universitas ada satu program studi yang mendidik disabilitas untuk menjadi volunteer. Padahal, kita kan tidak punya program studi pendidikan disabilitas. Tapi yang daftar jadi volunteer banyak," tandas Sasmito.

Sasmito mengakui, untuk di Indonesia, PSLD UB ini merupakan institusi pertama yang aware dengan kehidupan para penyandang disabilitas. Inovasi-inovasi dalam sistem penerimaan mahasiswa penyandang disabilitas inilah yang menjadi poin penting hingga akhirnya didapatkanlah penghargaan tersebut.

"Yang jelas semuanya itu adalah kita siapkan sejak 8 tahun lalu. Mulai dari menyiapkan sistem penerimaan. Lalu kita berkolaborasi dengan banyak institusi salah satunya dengan institusi internasional, dengan Australia dan lainya sehingga kami akhirnya dikenal," tandas Sasmito.

Salah satu yang menjadi keunggulan PSLD UB adalah sistem pendaftaran secara daring sehingga lebih transparan dan akuntabel.

"Kenyataanya di Indonesia memang kami yang mendahului itu," tegas Sasmito.

Meski demikian, Sasmito mengakui bahwa banyak negara-negara lain yang jauh lebih bagus dalam pengelolaan pendidikan inklusi seperti India dan Israel.

"Tetapi negara-negara berkembang seperti Bangladesh juga mulai bergerak kesana," tuturnya.

Dengan capaian ini, menurut Sasmito, ada beberapa hal yang akan dilakukan. Pertama, pihaknya akan mepertahankan sistem pelayanan yang sudah ada.

"Langkah berikutnya kita sosialisasikan kepada universitas lain. Mereka (calon mahasiswa) yang mau masuk universitas harus di pre-conditioning. Kan sekarang sudah banyak SMA yang inklusif. Ini akan memudahkan kita untuk menerima mereka di lingkungan kita," tegasnya.

Selanjutnya, akan ada penyempurnaan infrastruktur di Universitas Brawijaya yang ramah bagi penyandang disabilitas. Selain itu juga mengembangkan sistem pembelajaran hingga sistem administrasi.

"Berikutnya, setelah lulus itu bagaimana. Itu juga sudah mulai kita persiapkan. Karena tidak mudah, tidak semua perusahaan, instansi menerima kenyataan itu. Padahal sebenarnya penyandang disabilitas itu mempunyai kemampuan lebih. Seperti orang autis, ya jangan di kasih pekerjaan banyak. Namun mereka konsentrasinya tinggi kalau bekerja di bidang tertentu, sudah pasti dengan intelektual tertentu," paparnya.

Di samping itu semua, Sasmito mengatakan bahwa atmosfer kehidupan di Universitas Brawijaya sangat baik bagi para mahasiswa penyandang disabilitas.

"Faktanya Universitas Brawijaya dengan adanya mahasiswa berkebutuhan khusus imej-nya bagus. Dari pengalaman di Wina itu tidak semua universitas itu bisa (menciptakan lingkungan seperti itu)," terangnya.

"Ada anak disabilitas yang mengalami perundungan. Insya Allah, di Universitas Brawijaya tidak terjadi. Kita terima mereka dengan apa adanya," pungkasnya.

(Nunung Nasikhah)

Foto: dok. instagram.com/psld_ub

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler