Menakar Potensi Kina Jadi Obat Virus Corona

Bandung - TemanBaik, saat ini masih hangat kan pemberitaan tentang virus corona alias COVID-19 di berbagai negara? Tapi, ada fakta baru yang cukup menarik. Tim pakar di Tiongkok alias China menyatakan kandungan Chloroquine Phosphate dalam kina memiliki efek penyembuhan untuk penyakit akibat virus corona.

BeritaBaik.id pun berbincang dengan Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gamboeng Dadan Rohdiana. Seperti apa sih potensi kina untuk penyembuhan dan pencegahan virus corona ini?

"Di dalam kina itu memang ada senyawa atau golongan kimia yang namanya quinoline. Banyak turunannya, tapi dari beberapa turunan yang paling populer ada tiga, yaitu quinine, quinodine, sama chloroquine. Chloroquine ini yang kemudian menjadi populer karena ada senyawa Chloroquine Phosphate (yang diteliti) di China yang ditemukan dan dia bersifat antivirus dan bisa menangkal corona," kata Dadan.

Senyawa kimia yang terdapat dalam kina ini terdapat pada bagian kulit. Kulit itulah yang kemudian dibuat menjadi semacam tepung dan diekstrak. Hasil ekstraksi ini yang nantinya akan menjadi cikal-bakal turunan senyawa quinine, quinodine, dan chloroquine.

Tapi, untuk memastikan lebih lanjut kandungan dalam Chloroquine Phosphate sebagai obat virus corona, perlu penelitian lebih lanjut. PPTK Gamboeng sendiri belum melakukan penelitian khusus terkait kina untuk obat virus corona. Meski begitu, ada garis besar yang bisa ditarik.

"Sebenarnya virus itu kan masing-masing punya kemiripan satu sama lain," ucapnya.

Kemiripan virus itulah yang kemudian bisa diteliti lebih lanjut, termasuk kandungan di dalam kina. Sebab, bisa saja tiga kandungan di dalam kina itu bersifat simbiosis mutualisme untuk pengobatan, bukan hanya Chloroquine Phosphate dari hasil turunan Chloroquine. Sementara COVID-19 sendiri adalah bentuk lain dari virus yang hampir serupa sebelumnya.

Baca Ini Juga Yuk: #AyoKeBandung Jadi Jurus Move On Kota Bandung dari Isu Corona

Prinsipnya, jika dalam suatu tanaman memiliki kemiripan dengan tanaman lain, biasanya mempunyai aktivitas yang kurang lebih sama untuk menangkal atau mengobati suatu penyakit. Misalnya dalam aneka jenis rimpang seperti jahe, kunyit, dan laos. Begitu juga zat di dalam suatu tanaman, ketika struktur kimianya sama, akan memiliki aktivitas atau fungsi yang sama, yang membedakan hanya kekuatannya saja antara tanaman satu dengan tanaman lainnya.

"Boleh jadi antara quinine dan quinodine atau quinodine dan chloroquine itu ada simbiosis mutualisme atau sinergi dalam hal aktivitasnya. Sehingga, kita memang harus betul-betul mencoba dari mulai kulit kina secara basic atau dasar, kemudian kalau dalam bahasa kimia biasanya dibagi antara senyawa polar, non polar, semipolar, dicoba mana yang lebih bagus aktivitasnya," jelas Dadan.

"Ketika misalnya senyawa non polar paling bagus misalnya, terus dicoba lagi ke yang lebih detail lagi mana yang lebih bagus, dikelompok-kelompokkan lagi," tuturnya.

Sebab, menurut Dadan, dalam pengujian biasanya diikuti uji aktivitas. Setiap membuat ekstrak, uji aktivitas juga dilakukan, termasuk terhadap turunan-turunannya. "Sehingga kita bisa menemukan ekstrak mana yang paling bagus aktivitasnya untuk antivirus (corona) tersebut," ucapnya.

Jadi Obat dan Pencegahan
Kandungan senyawa di dalam kina, terutama Chloroquine Phosphate, menurut Dadan sangat memungkinkan untuk dijadikan obat. Apalagi jika penelitian sudah dilakukan dengan sangat detail dan matang.

"Bisa saja (jadi obat corona). Tapi, kalau obat itu mekanismenya panjang, harus uji preklinis, uji klinis. Obat itu mekanismenya panjang, butuh bertahun-tahun, harus melibatkan kedokteran, rumah sakit, perlu waktu panjang, perlu biaya. Tapi, sinyalnya (kandungan dalam kina sebagai obat corona) sudah ada," paparnya.

Meski begitu, ia menyebut potensi paling bagus dari senyawa kina itu adalah untuk pencegahan terjangkit virus corona. Kuncinya, senyawa dari kina akan berfungsi sebagai benteng untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sehinga, berbagai virus yang masuk ke tubuh tak akan membuat seseorang jatuh sakit, termasuk virus corona.

"Sebenarnya mekanisme paling bagus untuk pencegahan. Virus itu tidak bisa kita tangkal, tidak bisa kemudian kita tangkis. Virus bisa masuk ke tubuh kapan saja, ke siapa saja," katanya.

"Virus itu akan berkembang biak dalam tubuh kita ketika sistem imun atau daya tahan tubuh kita lemah. Ketika daya tahan tubuh kuat, virus apapun akan masuk, tapi tidak akan berpengaruh. Kurang lebih seperti itu bahasa sederhananya," jelas Dadan.

Penelitian kina untuk obat atau antivirus corona sendiri sangat memungkinkan dilakukan para peneliti di Indonesia. Tapi, menurutnya ada kendala tersendiri yang dihadapi. Di Indonesia, sangat sulit mencari bahan-bahan pelarut kimia untuk mendukung penelitian. Kalaupun ada, biasanya didapatkan dengan cara menunggu beberapa minggu hingga bulan.

Kendala itu yang biasanya dihadapi para peneliti. Sebab, dana riset biasanya memiliki jangka waktu tertentu. Sementara di saat yang sama, hanya untuk mendapatkan bahan-bahan kimia pendukung penelitian sulit didapat.

"Kadang-kadang ketersediaan bahan-bahan kimia pelarut kimia organik itu sulit. Kadang harus pesan dulu, perlu empat minggu sampai dua bulan, kadang termakan waktu, sementara dana-dana riset kan dibatasi oleh waktu ya," tutur Dadan.

Ia mencontohkan penelitian yang pernah dilakukan oleh PPTK Gamboeng bersama Institut Teknologi Bandung. Penelitian yang dilakukan adalah senyawa kina untuk obat tetes mata. Karena kendala di atas, penelitian akhirnya terpaksa jalan di tempat.

"Sehinga waktu itu hanya berjalan setahun dan memang tidak lanjut," tandas Dadan.

Foto: Ilustrasi Unsplash
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler