Mudik, Drama Setahun Sekali untuk Perantau

Bandung - TemanBaik, mudik adalah hal yang sangat erat hubungannya dengan Hari Raya Idulfitri. Lalu, memangnya arti mudik itu sendiri apa sih, dan kenapa tahun ini kita mesti menunda mudik? Yuk kita simak!

Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Silverio Raden Lilik Aji Sampurno menyebutkan, istilah mudik mulai jadi tren pada dekade 1970-an. Para pemudik yang mengadu nasib di kota-kota besar pulang sejenak ke kampung halaman mereka untuk berkumpul dengan keluarga.

"Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata 'mulih ndisik' yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga, setelah mereka menggelandang (merantau)," ujar Silverio dalam laman indonesia.go.id.

Kendati begitu, masih belum diketahui persis kapan dan bagaimana awal mula tradisi mudik ini terjadi. Namun Silverio memperkirakan, fenomena mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

Lebih lanjut, ia memaparkan pada saat zaman kekuasaan Majapahit, kerajaan menempatkan sejumlah pejabatnya ke berbagai wilayah. Hal itu dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Suatu ketika, para pejabat kerajaan itu akan kembali ke pusat kerajaan dan mengunjungi kampung halamannya. Nah, peristiwa kepulangan pejabat kerajaan inilah yang dikaitkan dengan 'mudik'.

Sementara itu di masyarakat Betawi, orang Betawi menyebut orang dari luar Betawi yang merantau sebagai orang udik. Sehingga saat para perantau tersebut pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut istilahnya dengan 'mereka akan kembali ke udik'.

Mulai dari 'mulih-ndisik' hingga 'mereka akan kembali ke udik', akhirnya terjadi penyederhanaan kata. Mudik juga telah menjadi tradisi yang dekat dengan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Para pemudik adalah orang-orang yang hijrah ke kota lain, daerah lain, bahkan negara lain dan pulang sejenak untuk bertemu keluarga pada momen hari raya.

Baca Ini Juga Yuk: Perjalanan TNI untuk Menjaga Perbatasan Indonesia

Tiga Dimensi
Secara personal, mudik punya tiga dimensi yang mungkin kamu juga merasakannya tiap tahun. Agus Maladi Irianto dalam tulisannya 'Mudik dan Keretakan Budaya' menyebutkan, tiga dimensi dalam mudik tersebut adalah spiritual-kultural, psikologis dan sosial.

Dimensi spiritual-kultural ini lekat dengan kebiasaan masyarakat di Jawa. Selain itu, biasanya dalam rangkaian acara mudik keluarga akan ada ziarah ke makam leluhur untuk mendoakan. Nilai spiritual dari berziarah inilah yang kemudian melahirkan tradisi mudik.

Sementara itu dimensi psikologis dari mudik adalah momentum bagi para migran atau pemudik untuk lepas sejenak dari rutinitas di kota yang melelahkan. Tenangnya suasana di kampung halaman akan menjadi momentum pengisian daya (recharging) tersendiri bagi semangat para migran. Selain itu, cerita nostalgia masa kecil akan jadi obat mujarab penghilang stres bagi para migran.

Sedangkan dimensi sosial dalam mudik bisa dilihat dari upaya para migran untuk menceritakan kesuksesan di rantau lewat cara mudik ini. Menjadi migran yang sukses di rantau akan memunculkan kebanggaan tersendiri. Biasanya, cerita kesuksesan di rantau ini akan tersalurkan dalam bentuk aksesoris dan gaya hidup para migran di tanah rantau.

Tunda Mudik
Terpaan virus korona ke seluruh dunia termasuk Indonesia sangat berpengaruh pada drama setahun sekali ini. Ya, pasalnya untuk sementara waktu kita tak bisa melakukan tradisi tahunan ini guna memutus mata rantai virus korona.

Bahkan dalam kajian lebih lanjut, pakar sekaligus Guru Besar Statistika dari Universitas Gadjah Mada Prof. Dedi Rosadi dalam keterangan resmi di laman web UGM memprediksi akhir pandemi korona di Indonesia bisa mundur bila masyarakat tetap nekat mudik. Menurutnya, untuk memutus perkembangan virus korona diperlukan pengendalian yang efektif terhadap hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyebaran virus, khususnya untuk orang-orang yang hidup di zona merah.

Jika pengendalian ini tidak dilakukan, maka potensi munculnya klaster baru dan penderita baru dari wabah ini tidak bisa dielakkan sehingga dampak yang mungkin terjadi adalah mundurnya garis waktu prediksi akhir masa pandemi di Indonesia.

"Tumbuhnya klaster-klaster baru perlu dicegah agar wabah tidak mundur lebih lama kebelakang yang berakibat akhir wabah di setiap wilayah akan berbeda-beda. Akhirnya menyebabkan perkiraan laju tambahan jumlah kasus di setiap wilayah akan berbeda-beda dan akan memengaruhi time line dan nilai akhir total prediksi nasional," jelas Dedi.

TemanBaik, mudik dari tahun ke tahun memang punya ceritanya sendiri-sendiri. Namun khusus untuk tahun ini, yuk kita tahan ego dulu sejenak dengan tetap bertahan di perantauan, diam #DiRumahAja dan #TundaMudik untuk mencegah tumbuhnya kluster baru dan penyebaran virus yang berdampak pada mundurnya prediksi akhir masa pandemi. Kalau pandemi ini berakhir, tahun depan kita tetap bisa mudik kok.

Kendati demikian, tetap jaga silaturahmi dan komunikasi dengan anggota keluarga di rumah, ya. Kita masih tetap bisa bertatap muka dengan mereka lewat perantara video call atau telepon. Lakukan itu untuk melepas kerinduan di hari raya ya, TemanBaik. Tetap semangat dan jaga selalu kesehatan!

Foto: dok. wikipedia.org/Attribution/Cory

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler