Mengenal 'Perjodohan' Vokasi dengan Dunia Usaha dan Industri

Jakarta - TemanBaik, ada kabar gembira untuk kamu yang mengambil studi vokasi. Ya, Kementerian Pendidikan RI memulai gerakan 'perjodohan massal' antara pendidikan vokasi dan dunia usaha dunia industri. Seperti apa sih konsepnya?

Jadi, tujuan utama peluncuran Penguatan Program Studi (Prodi) Pendidikan Tinggi Vokasi Tahun 2020 ini agar prodi vokasi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) semakin menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.

Target program penguatan ini menyasar sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar melakukan pernikahan massal di tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. Program ini akan diteruskan dan dikembangkan di tahun-tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi.

"Industri dan dunia kerja, mohon bersiap sambut kami," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam keterangan resmi pada situs web Kemendikbud.

Ia mengaku optimis program 'Pernikahan Massal' ini akan menguntungkan banyak pihak. Menurutnya, pihak industri dan dunia kerja, jelas akan diuntungkan dengan skema pernikahan ini. Selain itu, dengan adanya link and match, lulusan pendidikan vokasi juga akan semakin dihargai oleh industri dan dunia kerja bukan semata-mata karena ijazahnya melainkan karena kompetensi dan kemampuannya yang semakin sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Saat ini, penguatan prodi vokasi di PTS sendiri sudah dibuka melalui Program Pembinaan PTS (PP-PTS) di mana tahapannya sudah memasuki seleksi tahap akhir. Dalam masa pandemi ini, Wikan menyebut akan banyak dilakukan perjodohan massal, bukan satu dengan satu, tetapi satu kampus vokasi dengan banyak industri.

"Link and match ini bukan sekadar Memorandum of Understanding (MoU) dan foto-foto di media melainkan harus menjadi pernikahan yang sangat erat dan mendalam, sehingga semua pihak akan saling mendapatkan manfaat yang signifikan dan berkelanjutan. Jangan sampai, sudah lulus kuliah, masih harus di-training lagi oleh industri dengan susah payah, memakan banyak waktu dan berbiaya mahal," tegas Wikan.

Lebih lanjut lagi, materi pelatihan di industri tersebut bisa sejak awal dimasukkan ke dalam kurikulum dan diajarkan oleh dosen bersama praktisi dari industri. Ia ini mengajak pihak industri dan dunia kerja agar terus membuka diri dan membuka hati, serta bersedia ikut terjun mendidik anak-anak bangsa, generasi Indonesia di masa depan.

"Keberhasilan program ini harus didukung dan perlu partisipasi aktif banyak pihak baik pemerintah pusat maupun daerah, serta seluruh stakeholder. Perlu kerja sama semua pihak agar perjodohan ini berhasil baik pusat, daerah maupun stakeholder," pesannya.

Baca Ini Juga Yuk: Udara Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasan BMKG

Paket Pernikahan

Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) mendorong terwujudnya paket pernikahan. Paket tersebut terdiri dari beberapa hal, antara lain:

1. Kurikulum yang disusun bersama industri di mana materi training dan sertifikasi di industri masuk resmi ke dalam kurikulum di kampus.

2. Dosen tamu dari industri rutin mengajar di kampus.

3. Program magang yang terstruktur dan dikelola bersama dengan baik.

4. Komitmen kuat dan resmi pihak industri menyerap lulusan.

5. Program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa.

6. Bridging program di mana pihak industri memperkenalkan teknologi dan proses kerja industri yang diperlukan kepada para dosen sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh pihak industri.

7. Sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh pendidikan tinggi bersama industri.

8. Joint Research yaitu riset terapan dengan dosen yang berasal dari kasus nyata di industri.

9. Berbagai kegiatan/program 'pernikahan' lainnya.

"Paket pernikahan nomor 1 sampai dengan nomor 6 adalah paket pernikahan minimum. Paket nomor 7 sangat diharapkan terwujud, serta nomor 8 dan seterusnya, sangat baik bila terwujud," kata Wikan.

Saat ini sudah terjadi beberapa pernikahan antara kampus dengan industri pengguna lulusannya bahkan ada yang sudah mencapai "Paket Pernikahan" yang lengkap. Salah satu contoh yang sudah melaksanakan skema lengkap di atas adalah PT. PLN Persero bersama Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS), Sekolah Vokasi UGM dan Sekolah Vokasi UNDIP.

Dari pernikahan tersebut, kedua pihak sama-sama mendirikan program studi Sarjana Terapan (D4) Teknik Elektro yang khusus berfokus pada teknologi distribusi atau jaringan listrik.

Penguatan Dosen
Pada kesempatan berbeda, Plt. Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi Ditjen Diksi, Agus Indarjo menjelaskan bahwa selain program kerja sama, program penguatan prodi vokasi ini juga mendorong agar populasi dosen tamu  yang berstatus dosen tetap dari industri dan dunia kerja, di perguruan tinggi vokasi dapat meningkat dengan pesat. Dosen tamu yang berstatus dosen tetap ini akan melakukan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat) seperti dosen-dosen tetap lainnya.

"Tanpa kehadiran para dosen profesional dari kalangan praktisi tersebut, pendidikan vokasi tidak akan optimal," tegas Agus.

Lebih lanjut lagi, ia menambahkan kalau para dosen tetap di kampus harus didorong untuk memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui oleh dunia industri dan dunia kerja. Selain itu, dalam kurun waktu tertentu, misal beberapa tahun sekali, para dosen vokasi juga didorong untuk magang di industri selama beberapa bulan.

"Kampus tetap didorong untuk mengundang para dosen tamu berstatus tidak tetap untuk memperkaya dan meningkatkan kualitas pembelajarannya," imbuh Agus.

TemanBaik, yuk mulai asah potensi diri mulai saat ini. Selain itu, ilmu dan kebiasaan baik selama belajar di kelas harus diamalkan di lapangan kerja, ya. Tetap semangat!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Ivan Aleksic

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler