Desa di Bali Ini Manfaatkan Lahan untuk Ketahanan Pangan Warga

Denpasar - Pemerintah Desa Tembok, Buleleng, Bali memiliki strategi tersendiri menyiapkan ketahanan pangan di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19 yang tak kunjung usai. Mereka membuat kebun tanaman pangan sejak bulan Maret lalu secara bertahap.

Ada empat kebun tanaman pangan dengan luas lahan keseluruhan 1,8 hektar yang tersebar di desa yang berlokasi di ujung timur wilayah Buleleng ini. BeritaBaik pun berkesempatan mengunjungi salah satu kebun tersebut, Senin (10/8).

Kebun tanaman hortikultura seluas 40 are ini memanfaatkan lahan tidak produktif milik warga yang secara sukarela meminjamkan. Di sana ditanami sejumlah sayuran. Mulai dari kangkung, sawi, terong, tomat, kacang panjang, cabe, dan berbagai jenis sayuran lainnya. 

Menariknya, kebun-kebun tersebut dikelola oleh warga Desa Tembok yang kehilangan mata pencaharian akibat pandemi yang sudah berlangsung selama empat bulan ini. Saat ini sudah ada 35 warga yang bekerja di kebun pangan desa.

"Yang kami pekerjakan di kebun pangan ini adalah warga desa yang kehilangan pekerjaannya karena pandemi. Ada yang dirumahkan dan ada yang di-PHK sebagian besar mereka adalah pekerja pariwisata," ucap Perbekel (Kepala Desa) Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Astara.



Baca Ini Juga Yuk: Jadi Tuan Rumah Piala Dunia, Stadion di Bali akan Seperti Ini

Pihak desa sendiri mencatat ada sedikitnya 125 warga yang telah kehilangan pekerjaannya selama pandemi. "95 persen mereka perantau dan sebagiannya pulang kampung sejak Maret lalu. Jadi kami berusaha bagaimana menyibukkan warga agar tetap produktif dengan menyediakan kebun pangan ini," kata dia.

Selain itu, tambahnya, dengan dibuatnya kebun tersebut diharapkan dapat mencukupi kebutuhan pangan warga tanpa harus mereka membeli kebutuhan setiap hari dari luar desa.Warga desa yang menyisihkan waktu dan tenaganya dengan merawat kebun kurang lebih selama tiga jam diberikan upah berupa sejumlah bahan pokok.

Yakni sembako seperti beras, minyak, telur, hasil sayuran dari kebun pangan, serta voucher listrik dan air. Jika diuangkan nilainya mencapai Rp550 ribu setiap bulannya. Sedangkan di awal saat pembukaan lahan, pihak desa memberikan upah berupa uang senilai Rp70 ribu setiap harinya.

Yudi Astara mengatakan hal ini untuk menyiasati persoalan daya beli warga dalam mengakses pangan lantaran sudah tidak ada lagi penghasilan. "Paling tidak selama tiga atau empat bulan ke depan jika belum ada recovery ekonomi, kebutuhan pangan kami tercukupi," tambah dia.

Karena itu, sebagian hasil panen di kebun pangan ini adalah untuk kebutuhan mereka sendiri di desa. Sedangkan selebihnya baru akan dijual. Selain kebun sayuran mereka juga berencana membuat kebun khusus untuk kebutuhan buah-buahan dan kebun pembibitan.

Foto: Ahmad Muzakky/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler