Bodebek Jadi Prioritas Jabar untuk Vaksin COVID-19

Bandung - TemanBaik, upaya mengatasi pandemi COVID-19 terus dilakukan pemerintah. Salah satu caranya dengan menyiapkan vaksinasi COVID-19.

Total, sebanyak 9,1 juta warga Indonesia akan divaksinasi pada November hingga Desember 2019. Vaksinnya sendiri akan dibeli pemerintah pusat dari tiga produsen vaksin luar negeri.

Khusus di Jawa Barat, warga di kawasan Bodebek (Bogor, Depok, Bekasi) akan jadi prioritas untuk pemberian vaksin. Itu karena wilayah tersebut adalah epidemiologi tertinggi kasus COVID-19 di Jawa Barat. Adapun yang pertama jadi lokasi vaksin adalah Kota Depok.

Untuk vaksinasi, Gubernur Jawa Barat mengajukan alokasi 3 juta vaksin kepada pemerintah pusat. Jumlah itu akan disebar ke berbagai wilayah Jawa Barat dengan porsi terbanyak dialokasikan ke Bodebek.

Namun, belum diketahui persis berapa jumlah vaksin yang akan diterima Jawa Barat. Sebab, itu merupakan kewenangan pemerintah pusat.

"Kewenangan untuk menentukan jumlah alokasi vaksin untuk setiap provinsi itu tetap berada di pemerintah pusat," kata Emil, sapaan Ridwan Kamil.



Baca Ini Juga Yuk: 'Bandung 132', Cara Beda Belajar Daring di Bandung

Vaksin itu nantinya tidak akan diberikan kepada sembarangan orang. Sebab, ada kriteria tertentu yang diprioritaskan mendapatkan vaksin. Mereka adalah orang yang berisiko tertular seperti tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan di laboratorium rujukan, serta TNI/Polri.

Vaksin ini akan diberikan kepada warga yang berusia 18-59 tahun. Sedangkan warga di bawah usia tersebut hanya akan disuntik vaksin jika merupakan rekomendasi dokter.

"Untuk yang diluar umur itu (18-59 tahun) harus menggunakan rekomendasi dari dokter. Karena vaksin yang diteliti ini tidak ada relawan usia balita, dan lanjut usia," ucap Emil.

Proses vaksinasi sendiri menurutnya akan menguras waktu dan tenaga yang banyak. Karena itu, berbagai persiapan harus dilakukan secara matang.  Sebagai bentuk kesiapan, simulasi pun sudah dilakukan di Puskesmas Poned Tapos, Kota Depok, pada Kamis (22/10/2020).

"Simulasi ini akan mengetahui satu puskesmas dapat melakukan penyuntikan berapa kali. Misal sehari 100 orang, kami hitung berapa jumlah puskesmas di Depok. Lalu, dikalikan jumlah sasaran yang ditargetkan. Itu pentingnya simulasi ini," jelas Emil.

Pihaknya pun akan membuat skenario untuk vaksinasi. Jika kapasitas puskesmas dinilai kurang, gedung-gedung publik nantinya akan disiapkan untuk jadi lokasi vaksinasi. Jika tenaga kesehatan dan relawan kurang, maka akan dibuka pendaftaran agar jumlahnya tercukupi sesuai kebutuhan.

"Kalau jumlah tenaga vaksinnya juga tidak cukup, berarti kita buka relawan sesuai kriteria untuk jadi penyutik dan tim panitia," ungkap Emil.

Namun, secara khusus ia mengingatkan. Jika vaksinasi jadi dilaksanakan November hingga Desember, tak berarti pandemi COVID-19 akan langsung berakhir. Karena itu, warga tetap diharapkan menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar hingga kondisi dinyatakan benar-benar terbebas dari pandemi.

"Seperti cacar di dunia, setelah divaksin, grafik turun. Begitu juga COVID-19. Tidak akan hilang langsung 100 persen karena bertahap. Yang pasti warga Depok kami prioritaskan sebagai kota pertama dapat vaksin ini," pungkas Emil.

Foto: dok. Humas Jawa Barat

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler