#AksiBaik, Berbagi Kebahagiaan dengan Serabi Bayar Seiklhasnya

Bandung - #AksiBaik bisa dilakukan siapapun dengan berbagai cara masing-masing. Hal ini yang dilakukan Yani Aswin, warga yang tinggal di Jalan Bagusrangin Nomor 16, Kota Bandung.

Ia berjualan serabi tepat di depan gerbang rumahnya. Penganan yang oleh orang Sunda kerap disebut surabi ini dijual dengan cara pembayaran unik. Ia tak mematok harga untuk serabi yang dijualnya.

Pembeli boleh membayar berapapun sesuai kemauannya alias bayar seikhlasnya. Namun, serabi itu juga digratiskan bagi mereka yang tak mampu. Bahkan, Yani dan karyawannya kerap memanggil orang yang melintas di lokasi untuk diberikan serabi gratis, misalnya kepada pemulung hingga sopir ojek daring.

"Saya punya konsep dagang ini adalah dagang dan beramal. Saya jual serabi kepada mereka yang berkemampuan dengan harga seikhlasnya, saya berikan cuma-cuma buat yang lain (tidak mampu)," kata Yani.

Karena konsep bayar seikhlasnya, tak jarang ada pembeli baru yang kebingungan harus membayar berapa. Bahkan, ketika BeritaBaik.id berkunjung ke lokasi, ada pembeli baru yang datang. Ketika bertanya harganya berapa dan dijelaskan bayarnya seikhlasnya, sang pembeli heran. "Hah, kok gitu, bingung saya bayarnya berapa," ujarnya.



Baca Ini Juga Yuk: Haru dan Bahagia di Wisuda Teman Disabilitas

Namun, setelah diberi penjelasan bahwa konsep jualan serabi di sana tak hanya mencari untung, pembeli akhirnya mengerti. Hal seperti itu kerap terjadi. Namun, baik Yani maupun karyawannya tak pernah lelah memberi penjelasan agar konsumennya mengerti.

Meski begitu, mereka yang diberi serabi gratis juga terkadang kaget ketika dipanggil. Seperti saat Yani dan karyawannya memanggil sopir ojek daring dan pemulung, mereka terlihat kaget karena dipanggil untuk mendekat. Namun, mereka tersenyum setelah diberikan serabi dan dijelaskan bahwa itu gratis.

Serba Klasik
Berjualan dan beramal melalui serabi dengan cara seperti itu sudah dilakukan Yani sekitar dua bulan lalu, tepatnya sejak November 2020. Idenya datang karena ia ingin beramal dengan cara yang bisa dilakukannya. Berjualan serabi pun terlintas karena ia sangat menggemari makanan itu sejak kecil.

Berjualan serabi juga sekaligus jadi cara untuk mengenang masa kecilnya. Ia teringat dulu kerap membeli serabi di dekat rumahnya. Tak hanya sekadar membeli, ia senang membantu pedagangnya membuat serabi. Salah satunya adalah meniup selongsong untuk menyalakan kayu bakar.

Untuk resepnya, ia beberapa kali bereksperimen hingga didapat rasa yang bisa diterima banyak orang. Serabi yang dibuat pun serabi 'klasik', yaitu serabi dengan taburan oncom di atasnya, serabi cokelat, dan serabi polos.

Proses memasaknya juga tradisional. Ia menggunakan tunggu sebagai pengganti kompor. Apinya berasal dari kayu bakar dan wajannya menggunakan gerabah. "Saya ingin kembali ke kearifan lokal jualan makanan khas Jabar (dengan cara memasak tradisional," ungkap perempuan 61 tahun itu.

Soal rasa, klasik banget khas serabi tradisional deh. Serabinya juga tak memiliki bau asap yang menyengat. Ini berbeda dengan serabi lain yang terkadang memiliki bau asap yang menyengat.

Adonan dari bahan utama tepung beras itu juga punya tekstur yang lembut, apalagi ketika dimakan dalam kondisi hangat. Perpaduan klasik juga makin terasa karena di lokasi disediakan minuman berupa teh dengan menggunakan gelas ala zaman dulu yang berbahan semacam seng.

Jika ingin makan di lokasi, ada dua kursi kayu yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Suasana di lokasi juga cukup sejuk karena terdapat pohon besar dengan dedaunan yang rimbun. Jika datang ke sana pagi-pagi dan merasa udara cukup dingin, kamu bisa mendekat ke tungku untuk sekadar menghangatkan badan.



Selalu Habis
Yani mengatakan, berjualan serabi adalah langkah realistis yang bisa dilakukan untuk berbuat baik. Meski apa yang dilakukan dianggap sebagai hal kecil. namun itu dirasa menyenangkan. Ia bisa berbagi sesuatu kepada orang lain.

Ada sisi kepuasan batin yang didapatkannya dengan berjualan serabi. Namun, ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata bagaimana rasa puas yang didapat. Yang pasti, rasa kebahagiaan itu sangat besar.

"Senang aja bisa berbagi dengan yang lain. Walaupun kecil, saya bisa bantu orang yang mau sarapan," ungkap Yani.

Sementara meski punya konsep beramal, Yani tak melepas kewajibannya membayar karyawan. Dari hasil penjualan, sebagian dialokasikan untuk menggaji karyawannya. Sedangkan kelebihannya dipakai kembali untuk membeli bahan baku serabi. Selain itu, kelebihan uang yang didapat dipakai untuk dibuat serabi dan dibagikan gratis.

Dalam sehari, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat serabi sekitar Rp50 ribu. Jumlah itu cukup untuk membuat 60-100 serabi. Sedangkan hasil penjualannya rata-rata bisa mencapai Rp200 ribu. Namun, enggak setiap hari hasil penjualannya seperti itu.

"Beberapa hari kemarin cuma dapat Rp5 ribu. Tapi, itu enggak menyurutkan semangat saya," ungkap perempuan yang pernah aktif jadi dosen di Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani).

Meski tak melulu mendapatkan uang dari hasil penjualan, serabi yang ada dipastikan selalu habis. Serabi terus dibuat dari pukul 07.0-09.00 WIB. Jadi, selama dua jam, pembuatan serabi di sini hampir tak ada jeda.

Ketika serabi selesai dibuat, maka akan dibagikan pada orang-orang yang melitas. Sedangkan jika ada pembeli yang datang dan ingin membayar, ia mempersilakannya dengan senang hati.

Tak Memasang Identitas
Yani sendiri tak memasang identitas untuk serabi yang dijualnya. Ia dan karyawannya hanya 'mangkal' di depan gerbang rumah. Tak ada plang, papan nama, atau poster yang berisi identitas. Lalu, bagaimana orang menyebut serabi ini?

"Namanya serabi Ma' Ani," ucap Yani.

Ia lebih memilih serabinya dikenal dari mulut ke mulut daripada memasang identitas di area tempatnya berjualan. Apalagi, ia juga menghindari terdapat tulisan 'bayar seikhlasnya' atau 'gratis'.

Yani beralasan, pemasangan identitas seperti itu, apalagi dengan bumbu tulisan 'bayar seikhlasnya' atau 'gratis' akan menimbulkan kesan riya. Padahal, bukan itu yang ingin dikejarnya. Ia hanya berusaha melakukan #AksiBaik dengan caranya sendiri. Tak ada pujian yang ingin dikejarnya.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler