SSB Gratis Ini Tempat Anak Yatim Menyemai Mimpi Jadi Pesepak Bola

Bandung - #AksiBaik bisa dilakukan siapapun dan dengan cara apapun. Salah satunya bisa dengan melatih sepak bola bagi anak-anak. Hal ini dilakukan Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas Harapan.

SSB Tunas Harapan ini dibentuk oleh Albert Rudiana di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sesuai namanya, SSB ini menjadi tempat untuk melatih kemampuan sepak bola. Hal yang berbeda dari SSB pada umumnya, SSB ini hanya dikhususkan bagi anak yatim dan anak-anak dari kalangan ekonomi kurang mampu.

Di SSB ini, mereka bisa belajar ilmu sepak bola secara gratis. Mereka hanya cukup datang dan mengikuti berbagai program yang dijalankan tanpa harus memikirkan bayaran bagi SSB maupun pelatihnya.

Saat ini, setelah berjalan sekitar 10 bulan, jumlah siswa aktif di SSB itu ada sekitar 170 orang yang semuanya tinggal di kawasan Lembang. Untuk tempat latihan, ada dua lapangan yang kerap dipakai, yaitu Lapangan Bintang dan Lapangan Sespim Polri.

Berawal dari Curhatan Anak Yatim
Ide mendirikan SSB bermula saat Albert sedang jalan-jalan di kawasan Lembang. Di perjalanan, ia melihat anak kecil yang sedang memperhatikan anak-anak SSB berlatih di lapangan. Ia lalu menghampiri anak itu.

"Saya tanya, 'kenapa enggak ikut latihan? Kok, cuma nonton?'," kata Alberts kepada BeritaBaik.id, Jumat (29/1/2021).

Ia lalu mendapat jawaban yang cukup menyesakkan untuk didengar. Sang bocah menjawab tak punya uang untuk ikut SSB. Sebab, sang ayah sudah meninggal dan ibunya jadi tulang punggung keluarga. Jangankan ikut SSB, untuk makan sehari-hari saja sulit mendapatkannya.



Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Produk dari Air Liur dengan Harga Fantastis

Albert mengaku merinding dan terenyuh mendengar jawaban tersebut. Ia lalu mengatakan jika suatu saat punya SSB, anak itu bisa belajar sepak bola dengan gratis. Pertemuan itu pun memberi kesan tersendiri. Bahkan, sepanjang perjalanan pulang ia selalu terbayang atas perbincangan singkatnya dengan anak itu.

Setibanya di rumah, pria yang pernah jadi pelatih Timnas Indonesia di ajang Homeless World Cup (HWC) 2019 itu berbincang dengan sang istri. Ia terpikir untuk mendirikan SSB meski dengan modal seadanya. Gayung bersambut, sang istri pun antusias dan mendukung penuh keinginan Albert.

"Setelah itu, sebulan saya konsep, termasuk sama adik saya," ujar Albert.

Bermodal berbagai perlengkapan berlatih sepak bola seadanya, SSB itu akhirnya didirikan. Siswa yang belajar adalah anak-anak di sekitar kawasan Lembang. Dari waktu ke waktu, jumlah siswa pun terus bertambah dan kini ada sekitar 170 orang dari usia 7-18 tahun.

Namun, ada yang dirasa mengganjal dalam benak Albert. Anak kecil yang secara tak langsung memberinya inspirasi mendirikan SSB, justru tak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Berkali-kali mencari, anak itu tak juga ditemukannya. Padahal, ia sangat ingin anak tersebut belajar sepak bola di SSB yang didirikannya.

"Saya enggak nemu anak itu sampai sekarang, padahal saya cari terus," ungkap Albert.

Pelatih dan Mantan Pesepak Bola Berdatangan
Sejak awal, Albert tak menggembar-gemborkan SSB yang didirikannya. Ia hanya fokus merekrut anak-anak yatim dan kurang mampu untuk belajar sepak bola bersamanya. Namun, kabar Albert mendirikan SSB gratis itu sampai ke telinga teman-temannya di jejaring pelaku sepak bola.

Mereka menawarkan diri ikut terlibat SSB Tunas Harapan. Sehingga, saat ini ada lima pelatih tetap yang mendidik anak-anak dalam belajar sepak bola. Kelima pelatih itu pun punya latar belakang pesepak bola yang kini menekuni profesi lain, bahkan ada sopir ojek dan penjual beras.

Selain itu, SSB Tunas Harapan juga kerap kedatangan pelatih 'tamu'. Bahkan, mereka punya nama besar di dunia sepak bola Indonesia salah satunya Gatot Prasetyo. Gatot adalah mantan kiper profesional, salah satunya pernah bermain untuk Persib Bandung. Gatot juga pernah menjadi pelatih kiper Persib dan Timnas Indonesia. Selain Gatot, beberapa sosok lainnya adalah Roy Darwis, Encang Ibrahim, dan Yadi Mulyadi yang merupakan mantan pemain Persib.

Tak hanya mantan pemain Persib, legenda sepak bola Indonesia Kurniawan Dwi Yuliatno juga tertarik melatih di SSB tersebut. Namun, hal itu belum terealisasi mengingat Kurniawan bekerja di Malaysia menjadi pelatih salah satu klub di sana, yaitu Sabah FA. Meski begitu, Kurniawan berjanji akan berusaha menyempatkan diri datang dan melatih jika sedang berada di Indonesia.

Albert lalu menyebut sosok lain yang tak kalah penting dalam perjalanannya mendirikan SSB. Ada andil almarhum Djoko Susilo yang punya jasa besar baginya. Mantan pelatih Persiwa Wamena itu menghubunginya di awal-awal SSB didirikan.

Djoko saat itu bertanya soal kabar Albert mendirikan SSB gratis. Djoko kemudian mengatakan ingin membantu dan memberikan peralatan untuk berlatih sepak bola. Albert pun senang. Namun, ia meminta agar peralatan bekas saja yang diberikan. Nyatanya, tak lama berselang, justru peralatan baru yang datang.

Tak lama setelah memberikan perlengkapan latihan sepak bola itu, Djoko meninggal dunia. Itu jadi kabar duka yang cukup mengejutkan. Sebab, masih hangat dalam ingatan ia memberikan peralatan sepak bola bagi SSB. "Subhanallah, saat mau pergi, beliau masih berbuat baik sekitar 1-2 bulan (sebelum meninggal) itu

Peran Unik Pelatih
SSB Tunas Harapan punya hal unik selain gratis. Di sini, pelatihnya tergolong multitasking. Tak hanya melatih, para pelatih ini pun kerap melakukan berbagai hal sendiri, misalnya membawa perlengkapan latihan, membawakan minuman ke lapangan, hingga menjemput para siswa yang akan berlatih.

Apa yang dilakukan pelatih atas inisiatifnya sendiri. Albert tak pernah memaksa mereka melakukan sesuatu. Bahkan, mereka bergabung jadi pelatih pun atas keinginan sendiri dan tahu betul tak ada gaji yang akan diberikan.

Menurutnya, para pelatih itu ikhlas mengerjakan apa yang dilakukannya bersama SSB. Tak ada orientasi uang yang jadi tujuan mereka dalam melatih. Bahkan, mereka justru mengorbankan berbagai hal, terutama waktu, tenaga, dan pikiran untuk melatih anak-anak.

Untuk operasional latihan, Albert mengaku kerap merogoh kocek sendiri, misalnya membeli minuman atau makanan bagi pelatih dan anak-anak. Ia tak merasa rugi. Sebab, apa yang dilakukannya diyakini tak akan mengurangi rezekinya.

Ia sendiri tak mau menghitung untung-rugi, termasuk pahala. Ia hanya berusaha jadi orang berguna dengan kemampuan yang dimilikinya. Sebab, Albert merupakan mantan pemain sepak bola profesional dan pelatih di beberapa klub di Indonesia.

Tetap Semangat Meski Serba Terbatas
Albert dan para pelatih lainnya jelas punya semangat besar menjalankan program SSB. Hal itu membuat SSB tersebut bisa berjalan hingga kini. Semuanya berusaha untuk selalu konsisten dengan #AksiBaik yang dilakukan masing-masing.

Namun, ada yang tak kalah penting. Anak-anak yang belajar sepak bola di SSB Tunas Harapan punya semangat besar. Mereka begitu antusias melahap setiap program latihan yang diberikan.

Selain itu, setiap pertemuan memberi kepuasan tersendiri. Kerap ada gelak-tawa dan canda yang jadi bumbu. Sehingga, tak hanya belajar sepak bola, tapi kegiatan di SSB itu jadi tempat untuk mencari kebahagiaan.

Perlengkapan seadanya untuk latihan pun tak membuat semangat mereka surut. Bahkan, meski belum punya seragam sampai sekarang, tak masalah bagi mereka. "Di kita itu kadang anak-anak pakai sepatu bekas dari orang, ada juga yang enggak pakai sepatu bola, baju sama celana (tim) juga enggak punya," tutur Albert.

Ia sendiri menegaskan sejak awal tak pernah meminta bantuan dari siapapun. Namun, jika ada bantuan yang diberikan, ia menerimanya. Prinsipnya, keterbatasan yang ada bukan jadi kendala bagi pelatih maupun anak-anak.

Justru dari keterbatasan itu diharapkan anak-anak semakin semangat. Sehingga, bukan tidak mungkin suatu saat di antara mereka ada yang jadi pesepak bola profesional dan perekonomiannya berubah lebih baik.

Foto: dok. Instagram.com/@albertrudiana


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler