Cerita di RS Darurat Wisma Atlet, dari Nyanyi hingga Main TikTok

Jakarta - Pandemi COVID-19 menghadirkan banyak cerita. Tentu ada cerita sedih, tapi ada juga cerita gembira di dalamnya. Hal ini juga terjadi di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Jakarta yang difokuskan menangani pasien COVID-19.

Evy Ina Sasauw, perawat di RS Darurat Wisma Atlet membagi cerita di balik perjalanannya ditugaskan bekerja di sana. Simak ragam cerita menariknya, yuk!

Dibayangi Ketakutan
Pandemi COVID-19 memang sudah berlangsung setahun. Selama itu pula para perawat dan tenaga kesehatan lainnya berjibaku menangani pasien. Manusiawi, mereka pun ternyata tetap dilanda ketakutan terpapar COVID-19 sampai sekarang.

"Tentunya kami di sini memang takut tertular dengan virus COVID-19," ungkap Evy.

Namun, rasa ketakutan itu tak membuat Evy, para perawat, dan tenaga kesehatan lainnya gentar. Mereka tetap berjuang sepenuh hati melayani serta merawat pasien. Sebagai bentuk perlindungan diri, ia dan rekan-rekannya berusaha semaksimal mungkin membentuk benteng pertahanan.

"Kami yakin di sini kami sudah menerapkan protokol kesehatan, dari pemakaian APD, pelepasan APD, dan lain sebagainya," katanya.

'Siksaan' di Balik Penggunaan APD
Bagi Evy dan banyak tenaga kesehatan lainnya, menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap adalah hal baru. Sebab, biasanya perlindungan yang dipakai adalah sarung tangan dan masker ketika menangani atau melayani pasien.

Namun, selama pandemi ini, apalagi ketika ditugaskan di RS Darurat Wisma Atlet, penggunaan APD jadi hal wajib saat bekerja. Enggak nyaman loh memakai APD ini. Meski tergolong aman untuk melindungi diri dari paparan COVID-19, penggunaan APD ini jadi siksaan yang nyata.

"Dengan adanya pandemi ini kami harus memakai APD yang engkap level III. Dengan kondisi APD yang begitu panas, menuntut kami harus melakukan asuhan keperawatan kepada pasien," ujarnya.

"Kemudian tantangannya bagi kami sendiri itu memang pemakaian APD-nya itu selama kurang-lebih 8 jam di sini. Jadi, terkadang kami harus menahan lapar, menahan lapar, menahan untuk buang air, karena kami dalam kondisi memakai APD," jelas Evy.

APD itu akan melekat terus selama bekerja tanpa sekalipun dibuka. Pelepasan APD pun tak boleh sembarangan ketika tugas selesai dijalankan. "Tidak boleh sedikitpun kami lalai, entah melepas, sobek, atau apapun hambatannya, itu tidak boleh. Karena harus disiplin sampai kami turun dan melakukan proses pelepasan APD, dekontaminasi, sampai bersih-bersih, mandi, dan ganti pakaian kembali," paparnya.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Bukti Bahayanya Kecanduan Gawai di Kalangan Remaja & Anak

Hal ini tentu enggak mudah dijalani, tapi sudah jadi bagian dari keseharian mereka. Salut banget deh kepada perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang berjuang di garda terdepan penanganan COVID-19.

Enggak Melulu Sedih
Di balik penanganan pasien COVID-19, enggak semuanya selalu tentang kesedihan. Ada juga kok keseruan yang hadir di tengah penanganan pasien. bahkan, keseruan itu kerap tercipta di antara pasien dan para tenaga kesehatan.

Evy mengatakan, kondisi pasien di RS Darurat Wisma Atlet memang banyak yang dilanda stres dan kesedihan karena jauh dari keluarga. Apalagi mereka ada yang mendapatkan stigma negatif dari orang-orang yang dikenalnya. Di situlah para perawat dan tenaga kesehatan berusaha menghibur dan menghadirkan keseruan.

"Di situ kadang kami menghibur pasien dengan cara kami mengajak ngobrol atau mengajak nyanyi, atau mengajak kami main TikTok, itu serunya dengan pasien," kata.

Tak hanya dengan pasien, sesama tenaga kesehatan juga selalu saling menyemangati satu sama lain. Apa yang biasanya dilakukan ya?

"Serunya dengan rekan sejawat itu kami saling support, saling memberikan semangat, entah dari ucapan atau teriakan, atau dari tulisan yang kami tulis di hazmat, hanya untuk saling men-support biar teman-teman sesama nakes di sini tetap semangat dalam kami melayani pasien," tutur Evy.

Rindu Itu Berat
Ya, kalimat 'rindu itu berat' saat ini lekat dalam benak para tenaga kesehatan yang bekerja di RS Darurat Wisma Atlet. Bagaimana enggak berat, banyak loh yang belum pulang ke rumah setelah berbulan-bulan ditugaskan di sana. Evy sendiri sudah setahun tidak pernah pulang.

"Saya di sini sudah kurang-lebih setahun tidak ketemu keluarga. Tapi, untuk komunikasi dengan keluarga, telepon atau video call ada setiap harinya. Jadi, keluarga mendukung via telepon saja, mereka tetap memberikan semangat, tetap memberi dukungan lewat doa, dan memberikan wejangan, motivasi, buat saya," ungkapnya.

Evy mengaku sudah sangat merindukan keluarganya di kampung halaman. Namun, hal itu harus ditahan sampai sekarang. Panggilan tugas menjadi nomor satu yang harus dikedepankan.

"tentunya kangen berkumpul dengan keluarga, kangen untuk bercengkerama dengan orang tua, keluarga, (teman-teman) di lingkungan rumah. Tapi, dengan kondisi seperti ini, kami tidak bisa pulang. Kurang lebih setahun ini kami enggak bisa pulang. Jadi, hanya komunikasi via telepon saja," tuturnya.

Kebahagiaan Tanpa Tanding
Di balik duka dan keseruan yang dialami, ada juga sisi kebahagiaan yang dirasakan Evy dan para tenaga kesehatan di sana. Yang pertama, ia bisa bertemu dan dipersatukan dengan rekan-rekan sesama tenaga kesehatan dari berbagai daerah yang ditugaskan di sana.

"Kami di sini dijadikan satu untuk melayani pasien," ujarnya.

"Kemudian ada juga suka lain, ketika melihat pasien yang begitu senang, begitu gembira ketika dia diizinkan untuk pulang dan dinyatakan negatif, itu senangnya luar biasa," ungkap Evy.

Hal itu sama sekali tak terukur oleh nilai materi. Sebab, kebahagiaan pasien yang sembuh adalah kebahagiaan bagi Evy dan tenaga kesehatan lainnya. Di situ mereka merasa pengorbanan yang dilakukan untuk menangani pasien enggak sia-sia.

"Kami ikut semangat, ikut senang, ikut bahagia melihat kegembiraan mereka (pasien yang sembuh)," ucapnya.

Pesan Bagi Para Tenaga Kesehatan
Evy dan rekan-rekan sesama tenaga kesehatan pun akan terus berjuang di tengah pandemi COVID-19. Ia berharap semangat mereka tak pernah padam dalam memberikan pelayanan terbaik dan merawat para pasien COVID-19.

"Saya berpesan untuk teman-teman perawat di seluruh Indonesia, tetap semangat, jangan menyerah, lakukan yang terbaik. Semoga kita semua bisa melalui pandemi ini," ajaknya.

"Harapannya dari saya, semoga pandeminya cepat selesai, cepat berlalu, agar kita semua bisa beraktivitas kembali seperti sebelumnya," ungkap Evy.

Secara khusus, Evy pun berpesan kepada masyarakat untuk tidak ragu mengikuti program vaksinasi COVID-19. Jika sudah mendapat panggilan untuk divaksin, manfaatkan dan ikuti deh vaksinasi itu demi kebaikan bersama.

"Pesannya, khusus untuk masyarakat, sekiranya jangan takut, jangan ragu untuk divaksin. Karena kami sendiri nakes, khususnya yang di Wisma Atlet, itusudah melalui dan menjalankan vaksinasi vaksinasi tanpa ada efek samping apapun," imbau Evy.

Foto: https://id.wikipedia.org/attribusi-inBaliTimur
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler