Sering Dianggap Kasar, Begini Sebenarnya Posisi Kata 'Aing'

Bandung - TemanBaik, apabila kamu tinggal di daerah Jawa Barat dan terbiasa berkomunikasi pakai Bahasa Sunda, tentu kamu identik dengan kata sapaan 'Aing'. Nah, sebenarnya kata ini boleh dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari enggak sih?

Sebelumnya, kata aing itu sendiri belakangan banyak digunakan penutur bahasa di luar bahasa Sunda sebagai kata ganti untuk saya atau aku. Penggunaan kata aing dalam bahasa Indonesia ini kerap menimbulkan perdebatan. Sebab, kata ini dalam tatakrama bahasa Sunda termasuk ke dalam jenis bahasa kasar.

Terkait hal itu, Dosen Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Dr. Gugun Gunardi., M.Hum menenyebut kata aing itu sendiri boleh dipergunakan sebagai penutur bahasa Sunda maupun di luar bahasa Sunda selama konteks komunikasi dilakukan dengan penutur lain yang berusia sama.

"Bahasa kasar bisa menjadi halus, bergantung pada intonasi yang digunakan," ujar Gugun.

Walau termasuk jenis bahasa Sunda 'kasar', namun kenyataannya kata aing ini sering digunakan sebagai penunjuk diri sendiri (kata ganti saya) untuk konteks percakapan ringan. Enggak jarang pula, kata ini sering digunakan sebagai bahan candaan atau hiburan. Sehingga berkomunikasi menggunakan kata penunjuk diri ini kerap menimbulkan suasana yang cair.

Baca Ini Juga Yuk: Ini Fenomena Cuaca yang Harus Diwaspadai hingga Mei Mendatang

Hal itu ditanggapi positif oleh Gugun. Ia menjelaskan, selama penggunanya enggak mementingkan tingkat tutur bahasa, hal itu bukanlah suatu masalah. Ia juga menambahkan, tiap bahasa dipengaruhi oleh bahasa lainnya. Penggunaan aing sebagai kata ganti orang pertama di luar penutur bahasa Sunda dianggap bisa meningkatkan eksistensi bahasa Sunda itu sendiri.

Akan tetapi, hal yang menjadi catatan penting saat menggunakan kata aing sebagai penunjuk diri adalah kita sebagai penutur mesti paham dulu tingkat tutur dalam Bahasa Sunda. Artinya, kita perlu mengetahui mana kata yang masuk ke dalam ragam bahasa Sunda kasar, sedang, hingga halus.

Catatan lainnya yang perlu diperhatikan adalah jangan menggunakan kata ini untuk merundung atau memojokkan orang lain. Jadi, dipakai untuk ngobrol dengan sebaya saja ya, TemanBaik. Itu pun harus dilihat lagi, apakah teman sebayamu mementingkan tingkat tutur bahasa saat berkomunikasi?

"Orang yang tidak paham dengan kata aing (menganggap kata ini) sebagai kata gagah yang menjadi penanda komunikasi. Saya melihat fenomena aing itu menjadi sering digunakan dan banyak digunakan di luar penutur bahasa Sunda," kata Gugun.

Jadi, kesimpulannya: boleh-boleh saja kok menggunakan penutur aing saat berkomunikasi. Asal, jangan pernah mencobanya saat berkomunikasi dengan orang tua atau orang yang enggak kita kenal, ya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Amador Lourerio

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler