Cerita dan Kerinduan dari Mereka yang Tak Bisa Mudik

TemanBaik, tak terasa sudah setengah jalan kita menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan ini. Tentunya di penghujung bulan ramadan ini akan hadir hari raya Lebaran atau Idulfitri.

Biasanya Lebaran identik dengan mudik atau pulang ke kampung halaman. Tetapi sayangnya karena kondisi pandemi sejak tahun 2020 lalu, kebiasaan mudik pun tidak diperbolehkan dulu.

Hal ini membuat momen-momen Lebaran biasanya harus dilakukan secara jarak jauh atau daring. Tetapi, tak semuanya bisa dilakukan secara jarak jauh dan daring. Beberapa momen seperti berkumpul bersama keluarga besar, membagikan THR kepada keponakan, dan juga menyantap hidangan khas lebaran bersama rasanya sangat dirindukan pada tahun ini.

Baca Ini Juga Yuk: Apresiasi Ridwan Kamil Usai Terima 25 Ribu Alat Tes COVID-19

Salah satu TemanBaik yang merasakan hal ini adalah Suci Wulandari Putri, mahasiswa dari Universitas Padjadjaran. Suci berdomisili di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia telah cukup lama kembali ke Sumatera Barat, tetapi tak semua keluarganya bisa berkumpul karena pandemi ini.

"Dibilang senang, ya senang karena bisa menjalankan ibadah puasa dan lebaran bareng keluarga di rumah, cuma sedih aja karena udah dua kali puasa dan dua kali lebaran, rasanya sepi, enggak ada kerabat yang bisa pulang kampung karena pandemi, jadi kurang meriah," tutur Suci.

Penyesuaian terhadap kondisi Lebaran di era pandemi ini juga dirasakan oleh Fathiya Nanda Alyssa, TemanBaik yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Setiap tahun biasanya Fathiya dan keluarga akan berkumpul bersama di Aceh.

Puasa di era pandemi tahun lalu bagi Fathiya rasanya cukup aneh, karena semua kegiatan fisik dibatasi. Tetapi di tahun ini hal tersebut jadi tak asing lagi, dan dapat menyesuaikan dengan keadaan yang ada, dan tentu tetap menerapkan protokol kesehatan dan tentu, Fathiya dan kebanyakan orang merindukan suasana Lebaran tanpa pandemi

"Suasana lebaran yang paling dirindukan selama pandemi udah pasti berkumpul sekeluarga besar lengkap. Karena pandemi, jadi ada beberapa keluarga yang enggak pulang kampung. Jadi cuma bisa silaturahim lewat panggilan video," ucap Fathiya.

Hal yang dirindukan selain suasana Lebaran tentunya adalah hidangan-hidangan khas lebaran. Contohnya ketupat, opor ayam, kue kering, dan masih banyak lagi. Di masing-masing daerah tentu hidangan ini punya ciri khas masing-masing.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Bijak Memaknai Larangan Mudik

Salah satunya hidangan khas Aceh yang juga diceritakan oleh Fathiya. Di Aceh untuk makanan beratnya sama seperti daerah lainnya yaitu ketupat sayur, tetapi daging yang digunakan biasanya daging kerbau.

Kalau untuk kue, di Aceh ada yang namanya kue timpan. Kue yang berbahan dasar tepung ketan dan berisi kelapa atau srikaya ini biasanya ditemukan saat lebaran di Aceh.

"Kalau di Aceh itu kebanyakan kerbau, jadi kalau bikin rendang pake daging kerbau bedanya tekstur dagingnya lebih keras dan menurut aku yang jadi makanan khas di Aceh, kuenya. Ada satu kue namanya kue timpan, aku belum pernah ketemu dimana-mana dan orang2 bilang juga timpan itu aslinya emang dari Aceh," terang Fathiya.

Berbeda dengan hidangan khas Lebaran yang dirindukan oleh TemanBaik yang bernama Sabrina Mulia Rhamadanty. Sabrina yang merupakan penulis konten ini berasal dari Lampung, tetapi sekarang sedang berdomisili di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Hidangan yang dirindukannya saat Lebaran nanti adalah masakan sang ibu, yaitu pindang kuning.

"Karena Lampung berdekatan dengan Palembang, makanan khas dua provinsi ini agak mirip sebenarnya. Tapi kalau ibu saya biasanya masak pindang kuning. Pindang ini makanan dengan bahan dasar ikan. Kalau ibu saya biasanya pakai ikan patin atau gabus, tapi masing-masing daerah berbeda, bisa menggunakan ikan jenis lain juga," jelas Sabrina.

Selain masakan sang ibu, Sabrina juga merindukan Lebaran yang bersamaan dengan musim durian. Nantinya akan hadir hidangan yang bernama tempoyak, hidangan yang biasanya ditemukan di Lampung.

"Kalau lebaran bertepatan dengan musim durian, biasanya banyak juga yang menyajikan tempoyak. Tempoyak ini hasil fermentasi daging durian yang sudah matang, rasanya asam dengan aroma yang cukup kuat. Biasanya orang Lampung memakan tempoyak ini dengan dicampur sambal," tutur Sabrina.

Tentunya momen Lebaran di kampung halaman harusnya jadi momen menyenangkan setiap tahunnya. Tetapi, bagi TemanBaik yang belum bisa pulang ke kampung halaman jangan berkecil hati. Jadikan momen Lebaran tahun ini momen yang juga menyenangkan bahkan sulit dilupakan.

Coba cari hidangan-hidangan khas daerah TemanBaik, dan santap saat hari Lebaran nanti. Ajak keluarga besar berkumpul secara daring dan makan bersama, tentu akan jadi momen yang menyenangkan ya, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Sangga Rima Roman Selia

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler