Suara Hati Jurnalis yang Tak Bisa Lebaran Bareng Keluarga

Bandung - TemanBaik, pernah terpikir enggak bagaimana rasanya tetap bekerja saat Idulfitri alias Lebaran? Ada banyak orang loh yang tetap harus bekerja meski sedang Lebaran. Salah satunya jurnalis.

Coba deh kamu perhatikan, berita di televisi tetap ada saat Lebaran, berita di media daring juga tetap up to date alias mengabarkan berita terbaru, hingga ada koran yang enggak libur terbit.

Siapa sosok penting di balik berita-berita yang ada? Jurnalis adalah salah satunya meski ada unsur lain di industri media yang enggak kalah penting.

Bagi jurnalis pada umumnya, bekerja saat Lebaran adalah sesuatu yang tak asing. Bahkan, banyak banget loh yang bertahun-tahun enggak merasakan merayakan Lebaran bareng keluarga.

Alasan utamanya, mereka harus tetap bertugas demi mengabarkan berita. Keluarga pun terpaksa ditinggalkan demi dedikasi pada profesi yang dibanggakan dan dijalani sepenuh hati.

Mudah? Tentu enggak mudah, loh. Sebab, Lebaran merupakan momentum yang terjadi setahun sekali. Momentum ini biasanya dipakai untuk berkumpul dengan keluarga, termasuk mudik ke kampung halaman.

Namun, tugas sebagai jurnalis harus tetap dikerjakan. Banyak yang tetap liputan meski dalam benaknya membayangkan bisa berkumpul dengan keluarga. Terkadang, kesedihan pun tak terhindarkan, tapi mau enhhak mau harus ditelan.
BeritaBaik.id pun berbincang dengan tiga jurnalis yang sekaligus perantau. Mereka sama-sama tak bisa merayakan Lebaran bareng keluarga. Bahkan, keduanya sudah bertahun-tahun bekerja saat Lebaran. Mau tahu cerita dan suara hati mereka? Simak kisahnya, yuk!

Asep Firmansyah
Jurnalis asal Bandung ini sudah enam tahun tak pernah merasakan momentum Lebaran bersama keluarga. Dalam enam kali Lebaran, ia harus bertugas melakukan peliputan.

Pada tiga tahun pertama, ia bertugas di Bandung. Namun, saat Lebaran, sejak subuh hingga sore, ia harus bekerja melakukan peliputan. Sehingga, waktu bersama keluarga di Bandung hanya bisa dirasakan begitu semua tugas selesai dilaksanakan.

Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia bertugas di Jakarta dengan bendera media LKBN Antara. Tiga tahun ini dirasa jauh lebih berat ketimbang saat ia bekerja di Bandung.

Dalam tiga tahun itu, ia benar-benar jauh dari keluarga dan tak bisa merasakan Lebaran di rumah. Ia harus berkutat dengan liputan.

Apalagi, dalam dua tahun terakhir, ada alasan lain yang membuatnya memutuskan tak pulang ke Bandung untuk merayakan Lebaran. Penyebabnya adalah pandemi COVID-19 dan larangan mudik yang diberlakukan pemerintah.

Sehingga, ia hanya bisa menahan diri tinggal dan bekerja di Jakarta saat Lebaran. Rekan seprofesi yang senasib pun jadi teman untuk merayakan Lebaran di sana.

"Ini menjadi Lebaran ketiga ketika tugas di Jakarta. Tahun pertama karena masih mengikuti pendidikan pegawai tetap. Sementara dalam dua tahun terakhir memilih tidak pulang karena pandemi COVID-19," ujar Asep.

Pilihan ini memang enggak mudah. Namun, pandemi COVID-19 membuatnya memantapkan hati untuk tak mudik ke Bandung. Selain tuntutan pekerjaan, melindungi keluarga jadi prioritasnya karena ia khawatir terpapar atau menularkan COVID-19. Sebab, potensi itu sangat terbuka lebar.

"Sebagai wartawan, saya mesti mengambil jalan pahit tidak pulang demi melindungi keluarga," ungkapnya.

Meski begitu, ia punya cara tersendiri untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi dengan keluarga. Ia tak mau larut dalam kesedihan dan lebih memilih mencari solusi realistis sekaligus aman.

"Kalau ditanya sedih, pasti sedih enggak bisa kumpul sama keluarga saat Lebarab. Karena Lebaran itu jadi semacam momentum keintiman dengan keluarga. Meski ada hari-hari lain yang digunakan untuk kumpul, tapi momentum Idulfitri itu beda suasananya," jelas Asep.

"Ngakalinnya pasti setiap beres solat Id nelepon, video call, atau sengaja bikin Zoom biar keluarga besar bisa ngobrol bareng," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Kali Kedua Idulfitri Saat Pandemi dan Pesan Presiden Jokowi

Ahmad Fadlilah
Berbeda dengan Asep, pria yang akrab disapa Fadil ini justru merupakan orang Jakarta yang bekerja di Bandung. Dalam kesehariannya, ia merupakan jurnalis Kompas TV.

Ia menjalani rutinitasnya menjadi jurnalis di Bandung sejak 2012. Sejak saat itulah ia begitu akrab dengan suasana jauh dari keluarga, termasuk ketika Lebaran.

Ketika orang lain berbondong-bondong mudik, ia justru hanya bisa meliput mudik. Begitu juga saat orang lain merayakan Lebaran dan kumpul bersama keluarga di Jakarta, ia justru harus rela tetap bekerja di Bandung.

Biasanya, saat Lebaran, ia bertugas meliput berbagai hal hal yang berkaitan dengan nuansa Lebaran. Tak ayal, hal ini membuatnya merasakan kesedihan meski di saat yang sama ikhlas menjalankan tugas dan mengedepankan dedikasi profesi.

"Pasti sedih lah enggak bisa kumpul sama keluarga pas Lebaran," ucap Fadil.

Apalagi, ada momentum yang selalu berkesan ketika masih bisa merayakan Lebaran bareng keluarga di Jakarta. "Dulu biasanya bareng sama keluarga ke lolasi salat Id," katanya.

Setelah itu, berkumpul atau mengunjungi keluarga jadi tradisi. Bedanya, sejak 2012 hingga kini, momentun seperti itu tak bisa dirasakan. Sebab, ia menjadi lebih akrab liputan ketimbang berkumpul dengan keluarga saat Lebaran.

Namun, kesedihan yang ada berusaha dikubur dalam-dalam. Bekerja pun menjadi sarana untuk sejenak melupakan kesedihan dan kerinduan pada keluarga. Yang menjadi obat untuk meringankan kerinduan pun hanya komunikasi jarak jauh dengan kekuarga menggunakan ponsel.

Novrian Arbi
Pria asal Medan ini berprofesi sebagai jurnalis foto kantor berita nasional yang bertugas di Bandung. Bagi pria yang akrab disapa Ucok ini, Bandung bukan tempat asing. Sebab, ia sudah tinggal di Bandung sejak kuliah.

Saat masih aktif kuliah, ia memang sudah jarang pulang ke kampung halaman. Namun, ketika Lebaran, ia biasanya pulang untuk merayakannya bersama keluarga.

Hal berbeda terjadi ketika ia menjadi jurnalis foto. Di tempat kerjanya saat ini, ia sudah empat kali merasakan Lebaran. Lebaran pertama pada 2018, ia mendapat angin segar karena diberi izin hingga 10 hari. Sehingga, ia bisa merasakan indahnya merayakan Idulfitri bersama keluarga.

Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia sama sekali enggak pernah merayakan Lebaran di kampung halaman. Sebab, ada tugas yang menantinya untuk memotret berbagai momen penting dan menarik.

"Tahun 2019 itu enggak pulang karena kebagian piket. Tapi dua tahun terakhir enggak bisa pulang, selain karena tugas, juga karena pandemi," ucap Ucok.

Gurat kesedihan pun terpancar ketika BeritaBaik.id bertemu Ucok seusai liputan Salat Idulfitri. Ia terlihat tengah melakukan panggilan video bersama keluarga besarnya.

Sesekali, matanya terlihat berkaca-kaca. Ia menahan rindu sekaligus kesedihan karena hanya bisa menatap wajah keluarganya melalui layar ponsel. Lalu bagaimana cara Ucok membuyarkan kerinduannya pada keluarga saat Lebaran, tepatnya setelah tuntas menjalankan tugas?

"Lebaran di mana aja, kadang ke GIM (Gedung Indonesia Menggugat), ke rumah teman, atau ke rumah senior," tuturnya.

Bertemu rekan seprofesi atau teman semasa kuliah menjadi momentum yang dirasa cukup mengobati rasa kesepian saat Lebaran karena jauh dari keluarga. Mereka seolah jadi keluarga pengganti yang membuatnya suasana hatinya terasa hangat.

Setelah itu, Ucok biasanya kembali ke tempat kost-nya atau melakukan kegiatan yang bisa membuat rasa rindunya sedikit terlupakan.

Kapan Berkumpul dengan Keluarga?
Ini jadi bagian yang enggak banyak orang tahu selain jurnalis dan keluarga atau orang dekatnya. TemanBaik tahu enggak kapan jurnalis bisa kumpul dengan keluarga?

Umumnya, jurnalis yang bertugas saat Lebaran akan diberi jatah libur atau bisa mengajukan cuti setelah masa arus balik selesai atau beberapa pekan sesudahnya. Sebab, dari mulai arus mudik, Lebaran, dan arus balik membuat pekerjaan jurnalis begitu padat. Sehingga, cukup sulit bagi mereka mendapat waktu libur leluasa pada momen-momen tersebut.

Asep yang bertugas di Jakarta pun biasanya memilih pulang ke Bandung ketika masa arus mudik selesai. Ia akan mengambil cuti atau pulang ketika mendapat jatah libur. Hal serupa juga dilakukan Fadil. Ia baru pulang ke Jakarta setelah suasana Lebaran dan arus mudik tuntas.

Sedangkan Ucok untuk tahun ini rencananya baru akan pulang ke Medan pada Juni mendatang saat bisa mengajukan cuti. Meski nantinya bisa pulang, tentu ia enggak akan merasakan suasana hangatnya Lebaran dengan keluarga besar.

Sementara meski mereka baru bisa berkumpul dengan keluarga setelah suasana Lebaran usai, hal itu tetap disyukuri. Waktu yang ada pun bakal dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebab, tak lama setelah bertemu keluarga, mereka harus kembali ke perantauan masing-masing.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler