Ini Alasan Kenapa Ambil Darah di PMI Harus "Bayar"

Bandung - TemanBaik, ada yang masih belum tahu kenapa darah yang diambil dari PMI itu harus bayar? Padahal, pendonor memberikan darahnya secara gratis. Biar paham, simak ulasannya, yuk!

Di Bandung, untuk PRC alias sel darah merah, harganya sekitar Rp360 ribu. Untuk komponen darah lain harganya bervariatif. Secara umum, hal ini juga berlaku di daerah lain.

Humas PMI Kota Bandung Budi Wandina mengatakan sebenarnya darah yang dikeluarkan PMI itu gratis. Sehingga, darah bukan barang yang diperjualbelikan.

"Pada prinsipnya darah itu gratis. Cuma ada biaya penggantian pengolahan darah yang memang pengadaannya harus ada dan pengeluarannya memang lumayan besar," kata Budi, Senin (14/6/2021).

Apa saja sih pengeluaran wajib untuk mengolah darah dari pendonor sebelum bisa dipakai orang lain?

1. Pemeriksaan Medis
Kamu yang mendonorkan darah biasanya akan menjalani pemeriksaan medis. Hasil pemeriksaan ini bakal menentukan apakah kamu bisa mendonorkan darah atau enggak. Pemeriksaan ini tentunya membuat PMI harus mengeluarkan biaya.

2. Kantung Darah
Biaya yang dikeluarkan untuk membeli kantung darah ini juga lumayan loh. Bahkan, kantung darah ini dibeli dari luar negeri karena di Indonesia belum ada yang memproduksinya.

"Kantung darah itu impor, ya, karena di kita belum ada pabriknya," ujar Budi.

3. Pemeriksaan Darah
Setelah darah diambil dari pendonor, petugas akan melakukan pemeriksaan dan memisahkan darah berdasarkan komponennya. Pemeriksaan ini menggunakan peralatan canggih dengan standar World Health Organization (WHO) yang didatangkan dari luar negeri.

Di salah satu ruangan, BeritaBaik.id sempat diajak untuk melihat salah satu ruangan yang berisi mesin pemeriksa darah untuk empat parameter, yaitu sipilis, hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.

Baca Ini Juga Yuk: Hari Donor Darah Sedunia, PMI Kota Bandung Bagi-bagi Hadiah

Biaya untuk membeli peralatan ini dan operasionalnya lumayan besar, loh. Untuk sekali pemeriksaan empat parameter itu berkisar Rp600 ribu per orang.

Selain itu, ada satu mesin lagi yang jauh lebih canggih untuk memeriksa darah. Jika di tempat umum, pemeriksaan memakai mesin ini bisa mencapai Rp1 juta per orang.

4. Pengolahan Darah
Setelah selesai diperiksa, darah akan diolah. Pengolahan ini tentu membutuhkan peralatan dan tenaga manusia. Belum lagi darah harus melalui laboratorium pemeriksaan untuk golongan darah dan antibodi.

5. Proses Penyimpanan hingga Distribusi
Setelah melalui berbagai tahapan, darah juga akan disimpan di tempat khusus. Tempat khusus ini tentunya perlu dibeli, butuh biaya operasional, hingga biaya perawatan.

Sebelum darah dibawa untuk orang yang membutuhkan, bakal ada pemeriksana lagi loh. Tujuannya untuk memastikan darah yang akan dipakai itu cocok bagi pengguna.

Proses distribusi darah juga membutuhkan biaya. Sebab, darah harus dibawa menggunakan alat khusus yang suhunya terjaga. Belum lagi darah akan dikirim ke tempat tujuan, ini tentu memerlukan biaya.

Harga Darah Tergolong Murah
Nah, dari penjelasan di atas, tahu kan jika ternyata PMI harus mengeluarkan banyak biaya dari proses awal hingga akhir? Sedangkan PMI harus tetap beroperasi.

Sehingga, PMI membutuhkan pemasukan untuk menjaga agar tugasnya berjalan dengan baik. Yang paling penting, PMI bisa terus menyediakan darah bagi orang yang membutuhkan. Jadi, wajar jika darah ini kemudian harus diganti biaya operasionalnya.

Meski begitu, biaya yang harus dikeluarkan untuk 'membeli' darah itu sebenarnya bukan membeli darah. Yang ada, biaya itu adalah untuk mengganti biaya pengolahan dan segala proses terkait lainnya.

Harga yang harus dibayar pun sebenarnya jauh lebih ringan jika diukur dari biaya pengeluaran PMI. Hal ini karena PMI mendapatkan bantuan dari pemerintah, mulai dari kebutuhan laboratorium hingga peralatan impor yang tak dikenakan pajak.

"Kalau ditotal dari proses awal (sampai akhir), itu sekitar Rp800 ribu sampai di atas Rp1 juta sebenarnya (per satu labu darah). Makanya, kenapa darah harus bayar? Darahnya enggak bayar, cuma prosesnya ini (yang harus diganti)," jelas Budi.

Foto: Ilustrasi Freepik
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler