Hal Penting yang Perlu Diperhatikan saat Isolasi Mandiri

Bandung - TemanBaik, jika kamu sudah dinyatakan positif terpapar COVID-19, ada hal yang perlu diperhatikan, terutama jika menjalani isolasi mandiri. Tujuannya agar proses isolasi mandiri kamu berjalan baik dan berakhir dengan kesembuhan paripurna.

Isolasi mandiri sendiri akan direkomendasikan dokter jika seseorang terpapar tidak bergejala, bergejala ringan. Sedangkan jika gejalanya berat hingga kritis, pasien perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Untuk yang bergejala sedang, hal ini akan ditentukan lebih lanjut oleh dokter apakah perlu dirawat atau cukup dengan isolasi mandiri.

Nah, apa saja sih yang perlu diperhatikan selama menjalani isolasi mandiri ini? Simak ulasan lengkapnya, yuk!

Hindari Mendiagnosa Sendiri
Untuk mengetahui kamu masuk kategori tidak bergejala, bergejala ringan, sedang, atau berat, jangan melakukan analisa sendiri, ya. Pastikan kategori ini dinyatakan oleh dokter di puskesmas, rumah sakit, atau pusat pelayanan kesehatan lainnya.

"Sebaiknya jangan mendiagnosa sendiri. Sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk menentukan apa gejalanya ringan, sedang atau berat," kata dokter spesialis penyakit dalam Dr. dr. Raveinal, Sp.PD., KAI., dalam diskusi #TanyaJawabIDI.

Kenapa harus kategori gejala ini harus dinyatakan dokter? Tujuannya biar kamu enggak salah mendapatkan penanganan. Sebab, ada ukuran atau parameter tertentu yang membuat seseorang dinyatakan mengalami gejala ringan, sedang, atau berat. Jika salah diagnosa, terutama jika dilakukan sendiri, hal itu dikhawatirkan berdampak fatal.

"Yang ringan menurut masyarakat bisa berat (menurut dokter). Kadang penilaian (antara orang awam dan dokter) itu berbeda, sehingga kadang jadi terlambat penanganannya," jelas Raveinal.

Baca Ini Juga Yuk: Masker Medis Ternyata Bisa Didaur Ulang, Ini Penjelasannya

Responsif Melaporkan Gejala
Setelah dinyatakan positif dan harus menjalani isolasi mandiri, sangat perlu bagi seseorang untuk responsif melaporkan perkembangan dirinya secara berkala. Ketika merasa ada peningkatan gejala, segera melapor pada dokter atau pihak puskesmas sangat disarankan.

Dengan responsif, risiko seseorang mengalami perburukan diharapkan bisa diminimalisir. Sehingga, penanganan yang dilakukan akan tepat.

"Bila ada keluhan yang bertambah, segera konsultasi, jangan menunggu sampai keluhan sudah berat (baru melapor). Bila ada keluhan bertambah dan (misalnya) dirasakan 'kok, saya rasanya makin tidak baik', itu cepat langsung konsultasi. Makin cepat kita mencegah perburukan," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Rita Roqayah Sp.P(K)., MARS.

Jangan Asal Mengonsumsi Obat
Mereka yang terpapar COVID-19 ini biasanya akan mendapatkan obat dan vitamin dari puskesmas. Nah, bagi yang tanpa gejala, yang diberikan biasanya hanya berupa vitamin. Tujuannya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

"Tapi, yang bergejala ringan, biasanya kita sudah berikan obat-obatan, obat antivirus. Kemudian kalau antibiotik, itu tidak selalu diberikan, dilihat dulu kondisinya," jelas Rita.

Namun, yang paling utama, mereka yang sudah dinyatakan positif terpapar COVID-19 harus menerima asupan vitamin. Sehingga, daya tahan tubuhnya akan lebih kuat meminimalisir adanya gejala.

Ikuti aturan mengonsumsi vitamin maupun obat yang diberikan, ya. Di luar itu, hindari mengonsumsi obat-obatan diluar yang diresepkan atau diberikan dokter.

"Sebaiknya untuk obat itu adalah rekomendasi dari dokter. Karena dokter sudah belajar tentang obat, indikasinya apa, biasanya terukur, terkontrol. Kalau (mengonsumsi obat) sendiri (asal beli), takutnya enggak cocok obatnya atau tidak pas," jelas Raveinal.

Yang paling dikhawatirkan, mengonsumsi obat tanpa resep dokter ini justru berdampak negatif bagi tubuh. Bahkan, yang mengerikan justru membuat seseorang mengalami peningkatan gejala hingga perburukan kondisi.

Pastikan Tempat Isolasi Aman
Ini jadi salah satu bagian terpenting ketika seseorang menjalani isolasi mandiri. Pastikan tempat isolasi mandiri ini memang layak dan aman. Idealnya, tempat isolasi ini membuat seseorang tidak bertemu orang lain.

Yang paling ideal adalah tempat isolasi ini memiliki kamar mandi sendiri. Sehingga, kamar mandi yang ada tidak diakses penghuni rumah lainnya. Sebab, akan sangat riskan terjadi penularan jika kamar mandi ini digunakan bersamaan antara yang positif COVID-19 dan tidak.

TemanBaik, tetap jaga protokol kesehatan biar enggak terpapar COVID-19, ya. Sedangkan kamu yang sedang berjuang karena terpapar COVID-19, tetap semangat dan selalu optimistis sembuh!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler