Cerita Teman Tuli yang Sempat Takut Divaksinasi COVID-19

Bandung - TemanBaik, sampai saat ini masih saja ada orang yang tak mau divaksinasi COVID-19 dengan beragam alasan. Hal itu tidak terlepas dari informasi tak utuh atau bahkan hoaks yang diterima.

Kondisi ini juga dialami penyandang disabilitas. Di antara mereka ada yang sangat bersemangat divaksinasi, tapi ada juga yang takut dan menolaknya.

Achmad Fauzi Suryana (20) misalnya, teman Tuli asal Kota Bandung ini sempat dilanda banyak ketakutan divaksinasi. Sebab, ia beberapa kali melihat tayangan di channel Youtube dan informasi lainnya yang berbau negatif soal vaksin.

Seingatnya, ada informasi yang menyebut vaksinasi berbahaya bagi kesehatan, mengakibatkan kematian, hingga ada jarum suntik bekas pakai untuk vaksinasi. Asupan informasi itu membuatnya makin ketakutan.

Sang ibu, Iis Sari Pargini (41), pun harus berjuang keras meyakinkan sang anak agar mau mengikuti vaksinasi. Sempat heran kenapa Achmad tak mau divaksinasi, ia akhirnya menemukan penyebabnya, yaitu karena paparan informasi negatif.

"Dia juga bilang katanya ngapain divaksin, kan ada Allah?" ujar Iis.

Ia pun berusaha semaksimal mungkin membujuk sang anak agar mau divaksinasi. Bahkan, lebih dari sebulan segala bujuk rayu dialamatkan padanya. Beragam cara penyampaian dan informasi pun dilakukan dengan bahasa yang mudah dicerna sang anak.

Baca Ini Juga Yuk: Aksi Baik Kirim Makan Siang Gratis Bagi yang Sedang Isoman

Untuk meredam rasa takut sang anak, ia juga membandingkan kondisi mereka yang sudah divaksin. Agar lebih meyakinkan, ia mencontohkan anggota keluarga yang sudah divaksin.

"Kata saya enggak apa-apa, divaksin ini bagian dari ikhtiar. Uyut sama kakek aja sudah divaksin, kan enggak apa-apa," tutur Iis.

Berbagai bujuk rayu yang disampaikan akhirnya membuat sang anak luluh dan mau divaksinasi. Banyaknya teman-teman sesama disabilitas yang mau divaksinasi juga bikin sang anak mantap.

Ketika mendapat informasi ada vaksinasi gratis di BPRSDN Wyata Guna Bandung melalui grup WhatsApp, Achmad pun sempat berkonsultasi dengan Iis. Gayung bersambut, sang anak akhirnya mau divaksinasi. Apalagi, Achmad juga didampingi Iis saat mengikuti vaksinasi.

"Sudah beberapa kali ada informasi vaksinasi, tapi dia enggak mau. Cuma yang pas vaksinasi di sini dia akhirnya mau," ungkap Iis.

Iis pun kerap sambil tertawa ringan saat bercerita ketakutan sang anak tentang vaksinasi. Namun, hal itu dianggapnya wajar. Sebab, di luar informasi tak utuh atau hoaks yang diterima, sang anak diakui memang memiliki hambatan dalam menyerap informasi karena merupakan teman Tuli.

Namun, sebagai ibu, ia mengaku punya peran penting untuk meluruhkan segala asumsi atau pandangan negatif anaknya tentang vaksin. Dengan berbagai cara, pikiran buruk negatif itu akhirnya bisa dipatahkan.

Iis pun sempat bertanya pada sang anak bagaimana rasanya setelah divaksinasi. Achmad tersenyum dan berbicara menggunakan bahasa isyarat.

"Enak, katanya. Enggak apa-apa, sehat. Katanya sekali lagi nanti disuntik lagi (dosis kedua)," tutur Iis mengartikan jawaban sang anak.

Disiplin Super Ketat
Iis kemudian bercerita soal sang anak dalam memandang COVID-19. Menurutnya, Achmad percaya virus itu ada dan berbahaya. Bahkan, ia sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Dia selalu pakai masker ke mana-mana. Habis dari warung aja langsung cuci tangan. Kalau habis dari luar juga langsung buru-buru ganti baju pas sampai rumah," tutur Iis.

Tak hanya disiplin terhadap diri sendiri, Achmad juga ibarat jadi polisi penegak disiplin di keluarganya. Ia selalu mengingatkan anggota keluarga agar benar-benar disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Sebab, Achmad sangat sayang dan peduli dengan semua anggota keluarga. Bahkan, ia tak segan memarahi jika ada yang bandel melanggar protokol kesehatan.

"Adiknya juga dia marahin kalau misalnya enggak pakai masker keluar rumah," ucap Iis.

Sikap sang anak membuatnya sedikit tenang di masa pandemi ini. Sebab, Achmad begitu disiplin menjalankan protokol kesehatan, termasuk mengingatkan anggota keluarga.

Iis laku bercerita soal kondisi sang anak. Lahir pada usia kandungan 8 bulan, tak pernah terlintas dalam benaknya akan memiliki anak seorang disabilitas. Apalagi, secara fisik, sejak bayi tak ada kekurangan atau kelainan apapun pada sang anak.

"Tapi pas usia 6 bulan dia panas. Dibawa ke rumah sakit, katanya anak saya kena rubella," ungkapnya.

Hingga akhirnya, saat berumur satu tahun, baru diketahui ternyata Achmad mengalami gangguan. "Setelah umur setahun itu ketahuan, ternyata ada saraf yang 'putus'," kata Iis.

Meski berat menerimanya, Iis menganggap kondisi sang anak sebagai takdir yang harus diterima. Ia pun membesarkan sang anak dengan penuh cinta. Ia membuktikan kasih ibu tak terbatas meski orang lain ada yang menganggap anaknya berbeda.

Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler