#MakanNabati Terjangkau di 'Kehidupan Tidak Pernah Berakhir'

Bandung - TemanBaik, jika kamu gemar melahap #makannabati dan hendak menggeser pola makan jadi seorang vegetarian, rasanya belum lengkap jika kamu belum berkunjung ke salah satu resto vegan yang satu ini. Ya, namanya 'Kehidupan Tidak Pernah Berakhi'. Menarik bukan?

Kami berkesempatan untuk mengunjungi restoran ini dan berbincang dengan Andrea Suwandi, Owner Representative di Kehidupan Tidak Pernah Berakhir. Restoran yang sudah dibuka sejak tahun 2012 ini merupakan pengembangan dari PT. Sang Sadar Menduduki Singgasana, sebuah perusahaan yang menghasilkan kuliner berbasis vegan alias non hewani. Perusahaan ini punya dua restoran. Pertama adalah 'Satu Dunia Satu Cinta' di Jakarta, dan 'Kehidupan Tidak Pernah Berakhir' yang menyusul hadir di Bandung.

Nama 'Kehidupan Tidak Pernah Berakhir' itu sendiri mengandung filosofi yang mendalam. Menurut Andreas, nama ini diambil dari ruh dalam kehidupan yang merupakan pemberian dari Sang Pencipta. Di restoran ini, aneka makanan berbasis non hewani bisa kamu santap bahkan dengan harga yang relatif murah meriah. Ya, satu porsi makanan di sini dibanderol mulai harga Rp12 ribu saja! Harga tersebut sudah termasuk nasi dan empat jenis sayur dan sudah termasuk pajak.


Jika merasa kurang banyak, masih ada pula beberapa paket hemat sehat, berkisar di angka Rp20 ribu hingga Rp30 ribuan. Andreas menyebut, paket-paket tersebut merupakan program makan pagi, siang, dan malam dengan basis vegan. Adapun komposisi makanan yang disajikan antara lain masakan rumahan seperti sayur-sayuran, tempe goreng, kentang, jagung, dan beberapa menu ala carte seperti nasi goreng, nasi soto, nasi pecel lala (yang mengambil konsep nasi pecel lele), nasi timbel dan sate.

"Makanan yang disajikan di sini tidak menggunakan bahan hewani. Adapun bumbu-bumbu pencipta rasa, itu kami sajikan dari bahan olahan jamur," terang Andreas.

Baca Ini Juga Yuk: Makanan Sehat Berbasis Sayur ala Serasa Salad Bar

Betul saja. Meski namanya nasi soto, nasi pecel, atau sekalipun sate, bahan yang digunakannya sama sekali tidak menggunakan unsur hewani. Mereka mengolah jamur sebagai salah satu komponen tekstur di makanan ini.

Enggak hanya menikmati santapan berbasis sayur saja, pelanggan juga berkesempatan untuk mendapat edukasi antara lain tentang penyakit yang muncul akibat pola makan yang keliru. Edukasi tersebut disajikan melalui 13 layar televisi yang dipajang di sepanjang lorong masuk saat kamu mengunjungi restoran ini. Data-data yang disajikan dalam tayangan tersebut juga merujuk pada berbagai sumber di mancanegara.

Secara filosfis, berdasarkan referensi yang dipelajarinya seputar dunia vegetarian, Andreas memaparkan beberapa manfaat dari kebiasaan makan tumbuhan. Menurutnya, seseorang yang banyak makan tumbuhan (dalam hal ini sayur dan buah), relatif punya daya tahan tubuh lebih kuat. Ia menambahkan, hal tersebut terjadi karena kadar pH dalam tumbuhan itu rata-rata di atas angka 8. Hal ini secara tak langsung menjadi anti bakteri dan anti virus, karena virus itu sendiri bisa masuk ke dalam tubuh manusia yang terbiasa mengonsumsi makanan dengan kadar pH di bawah 7.


Selain itu, mengubah pola makan menjadi vegetarian juga disebutnya sebagai salah satu bentuk perawatan terhadap bumi. Pasalnya, dalam satu kali proses penyajian makanan hewani, ada banyak kandungan unsur yang disebutnya bisa menyerang bumi, seperti gas metana, polusi dari lahan peternakan, sisa makanan yang menjadi sampah, dan ketidakseimbangan lainnya. Hal ini menurut Andreas banyak terlupakan oleh kita.

"Menggeser pola makan kita adalah cara paling sederhana untuk merawat bumi. Dan beberapa penelitian juga menyebutkan, kalau vegan akan jadi tren makanan di masa yang akan datang," ujarnya.

Saat ini, Andreas menyoroti tingkat kesadaran orang terhadap gaya makan sudah mulai meningkat. Setidaknya untuk konteks di Bandung saja, selain menjamurnya restoran yang menyajikan menu plant based, pengunjungnya pun mengalami peningkatan. Tanpa terkecuali di Kehidupan Tidak Pernah Berakhir, yang boleh jadi dikatakan sebagai salah satu restorannya para vegetarian di Bandung, jauh sebelum gerakan makan sayur menjadi sepopuler sekarang.

Ia juga berjujar, makanan sehat tidak selalu identik dengan harga yang mahal. Ada banyak bahan baku makanan dengan harga terjangkau yang sebetulnya bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Ia berharap ke depannya, konsep berpikir sesederhana menggeser pola makan (dan memperbanyak makan sayuran dengan bahan baku yang mudah dijumpai) dapat diterapkan dalam kehidupan lebih banyak orang lagi.

"Untuk bisa makan sehat itu enggak perlu mahal. Dengan sajian makanan yang ada di sini, kalau saya nyebut ini istilahnya masakan Ibu, makanan kampung begitu, semua kalangan bisa menyantapnya," pungkasnya.

Bagaimana, TemanBaik? Sudah pernah mampir ke sini? Coba sebutkan, apa menu makanan favoritmu!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler