Kreatifnya Leluhur Indonesia Mengolah Makanan

Bandung - TemanBaik, saat ini di Indonesia berkembang berbagai kuliner. Ada yang khas tradisional asli Indonesia, dari luar negeri, hingga perpaduan antara keduanya.

Ini menjadi bukti bahwa Indonesia memang kaya akan aneka kuliner. Bahkan, kekayaan dan kreativitas dalam kuliner ini sudah dimiliki para leluhur dari zaman dulu.

Menurut sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, sejak dulu, leluhur bangsa Indonesia memang sudah kreatif dalam mengolah kuliner. Bahkan, mereka terbiasa mengolah dan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya untuk diolah jadi makanan

"Ini menarik, jika di barat punya culinary kita sebenarnya sudah punya seni boga sejak lama," kata Fadly di laman resmi Universitas Padjadjaran.

Baca Ini Juga Yuk: Olah Makanan Sehat dengan Cara Menyenangkan ala Dwi Puspita

Tak hanya memanfaatkan bahan makanan yang ada di sekitarnya, para leluhur juga kerap mengolah bahan makanan yang biasanya terbuang atau tidak dikonsumsi masyarakat kolonial. Contohnya adalah jeroan hewan.

Di zaman kolonial, jeroan dianggap sebagai bahan makanan buangan oleh masyarakat Eropa. Sehingga, jeroan ini tidak dimanfaatkan, apalagi dikonsumsi oleh orang-orang Eropa di Indonesia.

Bahkan, di setiap pasar di era kolonial, rutin digelar inspeksi oleh pemerintahan Hindia Belanda. Tujuannya untuk memastikan bahan pangan yang dijual adalah bahan layak konsumsi bagi orang-orang Eropa.

Namun, ekonomi dan kondisi para leluhur saat itu membuat mereka berpikir kreatif. Mereka justru memanfaatkan bahan makanan yang biasanya dibuang menjadi makanan. Mulai dari jeroan hingga ekor hewan, semuanya diolah sedemikian rupa hingga akhirnya menghasilkan ragam kreasi kuliner.

Tak hanya itu, masyarakat pribumi saat itu juga kerap mengonsumsi olahan fermentasi kedelai, yaitu tempe. Tahukah kamu, tempe ini dulunya dikenal sebagai makanan kelas protelar yang tidak dikonsumsi kaum kolonial? Namun, seiring perkembangan, tempe ini justru menjadi makanan populer.

"Tetapi ketika sudah diteliti pada 1930-an oleh para ahli gizi, ternyata tempe bisa untk subtitusi daging, Akhirnya tempe pun naik daun," jelas Fadly.

Tak hanya makanan berat, para leluhur juga kreatif dalam mengolah atau membuat makanan ringan. Sehingga, di Indonesia sangat banyak makanan ringan yang ada, bahkan berbagai daerah biasanya memiliki ciri khas.

Menurut Fadly, terciptanya makanan ringan itu salah satunya adalah karena kesenangan. Sebab, para leluhur Indonesia memang sangat menyukai kuliner, termasuk membuatnya sebagai bagian dari kesenangan.

"Contohnya, ada banyak narasi yang berkaitan kenapa kue cucur dan dodol diolah dan dikonsumsi karena memang ada unsur kesenangan," tuturnya.

Selain demi kesenangan, kudapan ringan ini juga biasanya dijadikan sebagai perbekalan dalam perjalanan. Sebab, makanan ringan itu biasanya ringan dan praktis untuk dibawa bepergian. Selain itu, tentunya kudapan ringan ini akan sangat bermanfaat sebagai pengganjal perut ketika lapar dalam perjalanan.

Kudapan ini juga kerap digunakan untuk acara seremonial dan selamatan atas hasil bumi. Ini memilki makna simbolis yang cukup dalam. Sebab, aneka sajian yang dihidangkan merupakan bentuk syukur atas hasil bumi. Sehingga, hasil bumi yang ada diolah menjadi makanan.

Foto: dok. www.unpad.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler