Berkunjung ke Trouit, Kafe Bertema Pantai Satu-satunya di Bandung

Bandung - TemanBaik, memang sih, di Bandung itu enggak ada pantai. Tapi bagaimana jadinya kalau suasana pantai tersebut dibawa dan diaplikasikan menjadi setelan kafe? Ya, jawabannya ada di Trouit.

Berlokasi di Jl. Pandu Dalam No. 1, Bandung, kafe ini menawarkan sensasi pantai sebagai latar suasananya. Terbayang enggak sih, menikmati udara teduh dan sejuk khas Bandung dengan sensasi ngopi di pantai? Wah pasti seru ya!

Beritabaik.id punya kesempatan untuk main-main dan icip-icip menu andalan di Trouit. Hal menarik yang mungkin kami enggak bisa lupakan saat datang ke kafe ini adalah suasananya yang jauh dari kesan kafe. Seperti tempat tersembunyi alias hidden secret begitu deh. Saat tiba di depan kafe dan menghubungi pihak kafe untuk keperluan wawancara, kami juga beberapa kali mengonfirmasi ulang akan ketepatan lokasinya.

Tampak luar, kita hanya akan melihat pintu garasi seperti layaknya rumah di komplek perumahan. Enggak ada riuh suara musik, gelak tawa pengunjung kafe, atau petugas parkir yang hilir mudik mengatur area parkir kendaraan. Hanya saja memang nampak beberapa orang berpenampilan rapi hilir mudik dan keluar-masuk dari pintu parkiran tersebut.

Kami kemudian dihampiri oleh Farah Mauludynna, salah satu dari lima Owner Trouit. Saat disambut oleh Dyna, sapaan akrabnya, kami diajak masuk ke lorong dengan tema dedaunan sekitar 10-15 meter panjangnya. Dan, kami agak kaget karena di ujung lorong tersebut, tanah pijakan kami injak telah berubah menjadi pasir. Lengkap dengan pemandangan nyiur, tempat duduk dan payung yang berasal dari pohon, amphiteater di bagian atas, serta setelan bar yang mungkin bisa kita jumpai di pantai-pantai di Bali. Seketika, suasana pengunjung pun dijamin bakal berubah deh!

"Makasih banget Beritabaik.id udah mau datang. Nah, yuk kita keliling dulu!" ajak Dyna.



Baca Ini Juga Yuk: Kampung Daun, Restoran Eksotis dan Legendaris Sejak 1999

Kafe ini terdiri dari dua bagian bangunan. Bagian pertama ada di bawah. Ya, kurang lebih bayangannya seperti apa yang kami jelaskan di atas: ada pohon nyiur melambai, tempat duduk dan payung dari dedaunan, serta kolam kecil di dekat bar. Beberapa pengunjung kami pantau sedang asyik berswafoto atau sekadar memotret keunikan kafe ini.

Beranjak ke atas, ada area amphiteater. Di sana, konsepnya terlihat mirip area pertunjukan. Kalau kamu pernah mengunjungi ampitheater terbuka, nah, kurang lebih seperti itu bayangannya. Dalam keadaan normal, kafe ini cukup untuk menampung tamu dengan kapasitas 100 orang. Namun, mengacu pada aturan pembatasan sosial, jumlah tersebut tentu mengalami penyesuaian dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat.

Di kafe ini, kamu akan mendapati beberapa menu andalan seperti rujak, asinan, manisan, camilan, dan aneka minuman segar. Uniknya lagi, untuk menu rujak, asinan, dan manisan, itu tersedia berbagai jenis saus dan kuah yang bisa kamu pilih.

Misalnya pada menu rujak. Kami berkesempatan menjajal menu rujak jenis blumbing. Saat menjajal, kami diberi tawaran bumbu rujaknya. Ada dua jenis bumbu rujak, yaitu bumbu ulek dan bumbu tabur. Bumbu ulek untuk rujak ini ada pilihan bumbu ulek dasar, bumbu ulek dasar mede, bumbu ulek mede yoghurt, dan bumbu ulek chamoy. Nah, karena menurut salah satu pramusaji di kafe tersebut, bumbu ulek best seller-nya bumbu dasar mede, maka kami memilih itu. Oh ya, harga seporsi blumbing dibanderol Rp43 ribu, dengan tambahan bumbu ulek Rp12 ribu dan bumbu tabur Rp8 ribu.

Selain itu, kami juga diminta menjajal bumbu tabur. Ada lima jenis bumbu tabur yang kita coba, mulai dari tajin, tajin wijen, Bangkok original, lemon mint, dan lemon cabai. Kami memilih bumbu tabur lemon cabai untuk teman menyantap buah dari rujak nantinya. Pilihan ini merupakan jenis bumbu tabur yang paling pedas di antara keempat bumbu lainnya. Setelah itu, kami dipilihkan menu asinan kuruguri dan nasi godidam, serta sebotol minuman jahe soda dengan merek Dat Soda.


Satu persatu kami menyicip menu andalan di Trouit. Menu pertama yang kami jajal adalah rujak blumbingnya terlebih dulu. Sepintas, kita akan berpikir kalau yang namanya rujak ya sama seperti rujak pada umumnya. Namun, saat menyantap blumbing, kami merasa sensasi berbeda dari menyantap makanan ini ada pada bumbunya. Begitu pula pada saat menyantap asinan kuruguri.

Nah, saat melahap menu makanan berat, kami disuguhi Nasi Godidam yang nikmat sekali. Nasi Godidam ini berisikan nasi langgi, bola-bola ayam, tahu cabai garam, keciwis goreng, telur pindang, bawang goreng, dan sambal merah. Rasa nasinya itu sendiri begitu gurih. Kendati terlihat njelimet, namun pada dasarnya Nasi Godidam adalah komposisi makanan yang mungkin pernah kita jumpai, namun dengan sentuhan dan cita rasa yang lebih khas.

Sebagai penutup, kami menyeruput minuman jahe soda, Dat Soda. Minuman ini tersaji dingin dengan es batu. Wah, ada rasa hangat-hangat begitu deh di tenggorokan. Minuman sehat ini wajib banget kamu coba, TemanBaik!

Belum habis, kami juga dipertemukan dengan peracik aneka menu di Trouit, Dimas Pepe. Latar belakang Pepe sebagai konsultan F&B Business membuatnya begitu mahir meracik aneka rupa menu yang kemudian menjadi jagoan di Trouit. Sebut saja rujak blumbing, asinan kuruguri, dan nasi godidam, semuanya yang kami icip, itu merupakan karya dari Pepe.

Kepada kami, Pepe menceritakan latar belakang deretan menu istimewa tersebut. Menurutnya, menu seperti rujak (blumbing), asinan (kuruguri), nasi (nasi godidam), dan minuman dat soda yang kami jajal kenikmatannya itu merupakan upaya merepresentasikan kembali jajanan khas yang pernah kita temui di jalanan atau pasar. Namun, sentuhan Pepe di belakang dapur tentu enggak sekadar menghadirkan romantisme jajanan pasar saja, ia juga coba menyajikan keindahan visual dari makanan tersebut.

"Ini tuh bakal bikin pengunjung ngomong ‘wah, kayaknya gua pernah deh nyobain ini, tapi di mana ya?’ ada rasa nostalgianya gitu sih," terang Pepe.

Secara umum, makanan dan minuman di Trouit bisa kamu santap dengan harga yang enggak melampaui Rp100 ribu untuk satu jenis menu. Kalau melihat nuansa kafenya sih, harga segitu dijamin masih sangat bersahabat deh buat kantongmu. Apalagi, sajian menunya juga unik dan variatif untuk memanjakan lidahmu.

Berawal dari Pertemanan
Sembari menyantap deretan menu jagoan, kami ngobrol panjang lebar dengan salah satu owner Trouit, Farah Mauludynna. Ia bercerita kalau kafe ini memang baru beroperasi sekitar 2 bulan yang lalu. Namun, sampai sekarang jumlah pengunjung yang datang ke Trouit terus bertambah. Kebanyakan dari mereka adalah para pecinta pantai yang terkendala berbagai hal untuk menikmati hiburan pantai, yang sejatinya enggak dimiliki Kota Bandung.

Trouit itu sendiri dibentuk atas dasar pertemanan kelima ownernya, Farah Mauludynna, Dimas Pepe, Billy Linjaya Lesmana, Archilles Ardan, dan Ogi. Awalnya, bangunan kafe ini merupakan taman kantor dari salah satu Owner. Pada suatu hari, Dyna dan Pepe datang untuk membuat konten memasak. Dari situ, akhirnya mereka berlima terlibat obrolan untuk membuat ‘sesuatu’ di Bandung. Dari obrolan tersebut, kelima owner ini kemudian meracik sedemikian rupa kafe ini, dengan tidak menghilangkan fungsi kantor milik salah satu Owner tadi.

"Semuanya tuh berlangsung cepat banget," ujar Dyna.

Sebagai orang Bandung, Dyna dan kawan-kawannya merasa jenuh dengan tema tempat nongkrong di Bandung yang terbilang begitu lagi begitu lagi. Bermodalkan kemampuan lintas bidang para punggawanya, akhirnya Dyna dan empat Owner lainnya sepakat untuk mendirikan Trouit sebagai alternatif baru bagi pengunjung kafe yang kepengin menjajal suasana baru saat makan di kafe.

"Jadi kan kalau kita ke pantai, katakanlah ke Bali nih. Sekali jalan aja budgetnya udah mahal banget karena ada biaya tambahan untuk keperluan perjalanan. Nah, kita kepikiran nih, dengan budget yang bisa dipangkas, suasana yang juga sehat di sini, makanannya oke, cuacanya adem, kenapa enggak sih kalian pada ke sini aja?" ujarnya sembari tertawa.

Hidupkan Kegiatan Positif
Enggak hanya bicara tempat yang nyaman dan makanan yang sehat saja, Dyna menyebut kehadiran Trouit ini diproyeksikan bakal menjadi sarana berkumpul teman-teman kreatif untuk membuat kegiatan positif. Misalnya pada bulan Maret ini saja, Trouit sudah menyiapkan berbagai agenda seperti kelas memasak, kegiatan seminar kesehatan, dan masih banyak lagi.

"Bakal banyak banget kegiatan di sini. Buat sekarang sih masih menyesuaikan dengan kondisi ya. Tapi kita sih di sini, owner ya, penginnya tempat ini tuh jadi hub (tempat ngumpul) buat temen-temen yang punya ide kreatif," ujarnya.

Dalam beberapa momentum, Trouit juga bisa menjadi alternatif pilihan tempat untuk kamu yang hendak menggelar acara intim seperti lamaran atau pesta kecil dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Misalnya acara lamaran, atau pertemuan, yang tentu jumlah pengunjungnya masih bisa menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Sebagai penutup, Dyna berharap Trouit bukan sekadar jadi tempat nongkrong, tempat makan, atau membuat konten. Tetapi bisa menjadi ikon tempat yang wajib dikunjungi kalau kamu main ke Bandung.

"Jadi lo belom ke Bandung kalau belom ke Trouit," pungkasnya.

Bagaimana, TemanBaik? Sudah punya rencana menjajal kafe baru di awal bulan? Kalau belum, nah, Trouit bisa jadi rekomendasi buat kamu nih.

Foto: dok. Trouit

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler