Begini Proses Eben 'BK' dan Rekti 'The Sigit' Bikin Lirik Lagu

Bandung - Lagu ibarat nyawa bagi sebuah band. Dalam pembuatan lagu, ada banyak proses yang harus dilalui. 3Hundred mengajak Rekti The Sigit dan Eben Burgerkill untuk berbincang dalam gelaran bertajuk 'Music Workshop: Songwriting Talk' yang bertempat di Lo.Ka.Si, Jalan Ir. H. Juanda, Bandung (19/7).

Eben dan Rekti merupakan dua pemain band yang turut andil dalam pembuatan lirik lagu dari band masing-masing. Pada kesempatan tersebut, keduanya berbagi cerita mengenai proses pembuatan lagu yang biasa dilakukan.

Dalam proses pembuatan lagu, Rekti biasanya mengeluarkan langsung ide yang terlintas di kepalanya, karena jika dibiarkan hanya akan tersimpan dalam ingatan saja. "Biasanya ide awal yang saya dapat itu berbentuk riff atau frase gitar. Dari situ langsung saya kembangkan ke chord dan progression, melodi, lirik, sampai nuansa lagunya nanti akan seperti apa," jelas Rekti.

Baca juga: Bottlesmoker Wakili Indonesia di Playtime Festival Mongolia

Berbeda dengan Rekti, gitaris Burgerkill, Eben biasanya kerap mencari referensi baru dalam pembuatan lagu. Ia tidak mau memainkan apa yang sebelumnya sudah dilakukan, karena itu ia biasanya mendengarkan genre lain yang berbeda dengan bandnya untuk memancing inspirasi. Eben punya prinsip untuk selalu membuat apa yang belum pernah dia mainkan.

Menurut Eben, band-band di Indonesia sudah memiliki musikalitas yang luar biasa. Walaupun masih ada beberapa yang hanya mengulik style saja, bukan kualitas. "Dalam hal ini konteksnya band metal. Kebanyakan vokalis cuma memikirkan bagaimana mereka harus teriak. Masalahnya, punya vokalis yang mau menggali sesuatu itu yang masih sangat jarang," jelasnya.

Selaku motor dari band metal paling populer di kota Bandung, Eben menjelaskan ia selalu melarang Vicki, vokalis Burgerkill untuk mendengarkan musik yang biasa didengarkan. Ia malah menyarankan untuk mendengarkan musik atau band lain, agar muncul inspirasi dan referensi yang belum ada.

Eben menjelaskan sebuah lirik lagu harus mampu menyampaikan apa yang bisa disampaikan. Jangan sampai hanya jadi vokalis yang cuma asal menyanyikan lagu saja. Tapi, tidak bisa menyampaikan apa maksud dan pesan dari lirik lagu tersebut. "Tak sedikit yang hanya ingin keliatan garang saja, lalu bikin lirik yang kasar. Padahal ada yang harus disampaikan dari lagu yang kita nyanyikan," pungkasnya.

Baca juga: Ujungberung Rebels dan Band Metal Ternama di Indonesia

Rekti juga sependapat dengan Eben. Ia juga kerap mempelajari lagu orang lain. Ia suka memperhatikan yang kemudian membuatnya berpikir, apakah level menulisnya sudah sama dengan orang lain apa belum. "Makanya The Sigit lama enggak ngeluarin album, karena lebih lama merhatiin band lain dari pada band sendiri," paparnya.

Bagi Eben, kunci utama sebuah lagu akan terdengar baik atau tidak adalah dari sang vokalis itu sendiri. Eben bercerita, saat Ivan Scumbags masih ada ia pernah mengulang empat lagu yang sudah di-take olehnya hingga terdengar sempurna.

"Karena telinga saya merasa kalau pitchnya kurang. Ada beberapa kata yang tidak bisa Ivan sampaikan liriknya ke orang lain," jelasnya.

Menurut Eben, menulis lirik lagu tidak perlu dibuat terlalu sastra. Masih banyak cara untuk membuat lirik lagu yang mudah dipahami oleh orang lain. "Terkadang kita terlalu fokus dengan estetika saja. Hingga akhirnya jadi lupa dengan hal lain di luar itu," tegasnya.

Rekti menyarankan bagi siapapun yang ingin menciptakan lagu, untuk membuat apa yang mereka inginkan dan mereka bisa puas dengan hasilnya. Sedangkan Eben menuturkan, sebuah karya itu harus meninggalkan bekas kepada yang menikmatinya. Jangan membiarkan karya kita menjadi tidak bernilai tanpa memiliki arti.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler