100 Hari Djaduk Ferianto, Kua Etnika Gelar ‘Ibadah Musikal’

Yogyakarta - Djaduk Ferianto merupakan sosok musisi kreatif serba bisa yang dikenal lekat dengan Kua Etnika. Sebuah grup musik kontemporer yang didirikannya bersama Butet Kartaredjasa dan Purwanto. 

Sejak dibentuk pada tahun 1996, Djaduk dan Kua Etnika selalu menghadirkan kejutan dalam karya-karyanya. Kua Etnika mengajak pendengarnya untuk berdialog melalui harmoni alat musik tradisional yang melebur dengan bunyi drum, alat musik akustik, hingga elektrik.

Upayanya membangkitkan musik tradisi dengan inovasi selalu mendapat sambutan positif, bukan hanya oleh pemerhati seni, tetapi juga oleh generasi muda. Bahkan, album Kua Etnika yang berjudul 'Sesaji Nagari' berhasil meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) tahun 2019 untuk kategori Karya Produksi World Music Terbaik.


Selain Kua Etnika, Djaduk Ferianto juga dikenal sebagai inisiator beberapa festival jazz di tanah air seperti Ngayogjazz dan Jazz Gunung. Praktik berkeseniannya tidak hanya sebatas seni musik, tetapi juga seni tari, seni teater, dan seni rupa. Selain terlibat aktif dalam Kelompok Teater Gandrik, maestro Indonesia yang satu ini juga tekun mengeksplorasi medium fotografi.

Kini, tak terasa sudah 100 hari Djaduk Ferianto meninggalkan kita. Untuk mengenang kepergiannya, Kua Etnika mempersembahkan sebuah acara bertajuk 'Ibadah Musikal- 100 Hari Djaduk Ferianto' yang digelar pada Selasa (25/2) malam di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No.1, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta.

Baca Ini Juga Yuk: Lebih Dekat dengan Rizky Febian Lewat Konser Intim

'Ibadah Musikal' tersebut ingin mengajak semua orang untuk merasakan kembali jejak-jejak inspiratif Djaduk Ferianto dengan suka cita. Selain penampilan dari Kua Etnika, kehadiran teman-teman musisi dan seniman seperti Endah Laras, Syaharani, Soimah Poncowati, Ricad Hutapea, Teater Gandrik, Tashoora, serta Tricotado dan Mucichoir dari Komunitas Jazz Mben Senen juga diharapkan tetap menghidupkan spirit Djaduk Ferianto.

Malam itu, selain membawakan komposisi repertoar dari album-album yang sudah ada, untuk pertama kalinya Kua Etnika juga memperdengarkan 3 karya terbaru yang dasar melodinya digumamkan dan direkam melalui ponsel oleh Djaduk Ferianto ketika beliau berkunjung ke Cape Town sebelum tiada.

Soimah Poncowati memaknai konser ini layaknya Djaduk Ferianto masih ada. "Saya tidak ingin menyikapi bahwa Djaduk Ferianto sudah tiada. Dimulai dari sesi latihan hingga nanti tampil, menerapkan hal-hal yang sama seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Spirit Djaduk Ferianto ada dan turut hidup dalam kebiasaan yang dijalankan sebelum dan ketika tampil," ungkapnya.

Semangat konser ini juga diamini oleh Danny Eriawan, perwakilan dari Komunitas Jazz Mben Senen sekaligus pemain bas dari Kua Etnika. "Merayakan dengan gembira, mengantarkan kepergian dengan ikhlas, dan meneruskan semangat dan penggalian musik Djaduk Ferianto," tuturnya.

Melalui 'Ibadah Musikal' ini, Kua Etnika sekaligus memohon doa restu untuk berangkat menuju Cape Town International Jazz Festival pada tanggal 27 dan 28 Maret 2020 di Cape Town, Afrika Selatan.

Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler