Peran Merchandise Sebagai 'Bahan Bakar' Musisi Tanah Air

Bandung - Sejatinya, sejak tumbuh menjadi sebuah industri, dunia musik tak hanya bicara seputar rilisan fisik atau jadwal panggung yang disajikan oleh musikus kemudian dikonsumsi oleh pendengarnya saja. Ada satu divisi yang secara khusus membangun kedekatan antara musikus dengan pendengarnya tersebut. Ya! Divisi merchandise. Belakangan, merchandise menjadi salah satu divisi yang banyak memberi asupan terhadap kelangsungan hidup kelompok musik.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan Iit Sukmiati dan Stafianto Tri, yang merupakan pemilik dari toko merchandise Omuniuum. Toko ini bisa dibilang sebagai salah satu 'barometer' jika kamu yang berdomisili di Bandung sedang mencari tempat menjual merchandise dari berbagai grup musik. Beragam merchandise dari band-band kesayanganmu ada di toko ini. Selain itu, Omuniuum juga menjajakan beberapa rilisan fisik dari kelompok musik asal Indonesia.

Menurut Boit, sapaan akrab Iit, hari ini divisi merchandise cukup menjadi primadona bagi pendengar musik. Tiap harinya, sekira 50 buah merchandise berupa kaos band laris dilepas Omuniuum. Jumlah tersebut belum termasuk merchandise dalam bentuk lain.

"Dari dulu juga peminatnya udah ada. Cuma kalau sekarang sih saya rasa makin kenceng ya animonya," ujarnya di Omuniuum, Jl. Ciumbuleuit Bandung, Selasa (9/3/2020).

Faktor yang menjadikan tingginya daya tarik merchandise ini untuk pendengar musik adalah faktor identitas. Boit menyebutkan, seorang penggemar musik biasanya akan merasa bangga saat mengenakan merchandise dari band kesukaannya. Ia mencontohkan, jika pendengar musik Seringai mengenakan kaos band idolanya tersebut, akan ada sejenis rasa kebanggan bagi penggemar tersebut.

Baca Ini Juga Yuk: Keliling Dunia Bersama Grup Musik Asal Malang, Wake Up, Irish!

Hal itu juga senada dengan data yang dimiliki Boit, bahwasannya merchandise band Seringai menjadi salah satu yang cukup laris di tokonya. Kendati demikian, ia tak menyebut berapa angka pasti keuntungan yang diraup dari penjualan merchandise kaos tersebut.

"Seringai dan Fourtwnty itu cukup kenceng, ya. Meskipun enggak berarti band lain enggak ada yang beli juga. Soalnya enggak bisa dikotak-kotakin. Musik di kita beragam, pendengarnya juga beragam," ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Boit tak menampik divisi merchandise ini punya andil besar untuk sirkulasi finansial sebuah band. Jika rilisan fisik mulai memudar masa keemasannya, maka itu tak berlaku untuk divisi merchandise. Menurut Boit, membeli merchandise juga merupakan bentuk dukungan pendengar terhadap karya sang musikus, kendati faktor identitas biasanya menjadi alasan utama.

Kehadiran merchandise dan tingginya antusias pendengar musik untuk membeli, disebutkan Boit berdampak positif untuk kemajuan ekosistem musik di Tanah Air. Pasalnya, tak sedikit kelompok musik yang justru bertahan dari penjualan merchandise. Nilai gebrak finansial yang tinggi inilah yang tak jarang menjadikan musikus punya 'bahan bakar' untuk terus memproduksi karya hingga manggung.

Sebagai informasi tambahan, di Omuniuum, Boit menyebutkan segmen pembelinya berada di usia 18 sampai 35 tahun dengan presentase 90 persen pria.

Nah, apakah kamu suka membeli atau mengoleksi merchandise band? Coba sebutkan, apa saja yang sudah kamu koleksi sampai hari ini?

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler