Bicara Ekosistem Musik di Bandung dengan Idhar Resmadi

Bandung - TemanBaik, ekosistem musik memiliki peranan penting dalam industri kreatif. Pada kondisi ideal, sebagai salah satu subsektor, musik memiliki dampak yang cukup besar bagi industri terkait. Salah satunya dampak ekonomi. 

Akan tetapi, dalam mencapai titik ideal, ekosistem musik masih punya beberapa pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Seperti apa sih pekerjaan rumah tersebut? Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan penulis musik, periset yang juga dosen Telkom University, Idhar Resmadi terkait hal tersebut. Simak ulasannya, yuk!

Menurutnya, musik sebagai salah satu subsektor industri kreatif idealnya bisa menjadi lokomotif bagi industri kreatif terkait. Contohnya, dalam sebuah pertunjukan musik, dampak ekonominya juga berdampak pada industri penyokong musik seperti kuliner, fesyen, dan masih banyak lagi.

"Enggak hanya dari musisinya aja yang kebagian dampak ekonomi. Tapi juga pedagang kaki lima di depan tempat festivalnya, juru parkirnya, atau mereka yang buka usaha di tempat sekitar festival deh. Itu kalau bicara ideal, ya," kata Idhar.

Ia menilai, secara spesifik di Kota Bandung masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pelaku di dalam ekosistem industri musiknya. Dalam pengamatannya, industri musik di Bandung masih ditopang oleh dua aspek bisnis yaitu merek rokok dan clothing. Namun, kehadiran dua aspek bisnis ini sebagai penanam modal tak jarang hanya bersifat project based alias jangka pendek.

Alih-alih mengandalkan dua investor tadi, Idhar justru menilai hadirnya enterpreneur musik, khususnya dari kalangan akademisi dengan latar belakang manajemen bisnis yang kuat untuk turun sebagai aktor dalam ekosistem musik. 

Pasalnya, selain dibekali disiplin ilmu manajerial, dengan terjun sebagai aktor dalam ekosistem musik, Idhar menilai para akademisi ini akan mudah untuk mengaplikasikan apa yang ia pelajari.

Baca Ini Juga Yuk: Harlan Boer dan Keterbatasan dalam Album Ganda 'Fidelitas Cinta'

Sebagai pengingat, Idhar dalam sebuah presentasinya menyebutkan, saat ini industri musik di Indonesia sudah berada di fase ketiga, yaitu fase tata kelola. Fase ini dibuktikan dengan kehadiran Undang-undang Pemajuan Kebudayaan dan Undang-undang Ekonomi Kreatif. Ia menilai, hadirnya regulasi yang jelas menjadikan para pelaku dalam ekosistem industri musik hari ini sudah memiliki payung hukum yang sah untuk menjalankan profesinya.

"Kalau dulu saat orde lama kan musik itu sifatnya politis, ya. Seperti pelarangan beberapa jenis musik. Masuk orde baru, sudah mulai diperhatikan tuh regulasi musik lewat undang-undang hak cipta," tambahnya.

Hadirnya regulasi dan keberadaan pelaku industri musik di fase tata kelola ini menurut Idhar akan berdampak positif bila pelaku bisnis musik atau para entrepreneur musik mulai berani unjuk gigi. Di samping itu, inisiatif dari komunitas juga sangat diharapkan untuk menciptakan ekosistem musik yang ideal.

"Kalau yang saya lihat sih jejaringnya enggak begitu luas buat saat ini. Misalnya, yang bikin label, media, sampai yang main band itu orangnya itu-itu saja. Sedangkan di Bandung butuh banyak banget inisiasi komunitas," paparnya.

Komunitas yang Lincah
Lebih lanjut lagi, Idhar berpendapat hadirnya komunitas yang lincah (community agile) bakal mempercepat pertumbuhan industri musik di Bandung. Komunitas yang lincah ini digambarkan Idhar sebagai komunitas dengan multidisiplin di dalamnya.

"Jadi dalam komunitas itu ada agensi, ada media, ada juga yang nge-band. Nah, kelincahan komunitas seperti ini bakal menopang subsektor lain. Musik sebagai lokomotifnya, sektor pendukung musik sebagai gerbong-gerbong yang dibawa maju oleh si lokomotif ini. Begitulah analoginya," paparnya.

Untuk memulai pembenahan industri musik, Idhar menyebut inisiasi komunitas harus dimulai sejak saat ini. Selain itu, seluruh aktor dalam ekosistem juga harus 'bersuara' sesuai dengan bidang yang ditekuninya. 

Artinya, di samping seorang musisi yang aktif berkarya, harus ada juga media musik yang aktif menulis seputar perkembangan industri musiknya. Kemudian, harus ada juga akademisi musik yang aktif membuat jurnal penelitian yang membeberkan data kebutuhan industri musik, serta masih banyak lagi hal penting lainnya.

Ia menilai, sumbangsih dari seluruh aktor ekosistem sangat diperlukan agar dampaknya pun merata terhadap ekosistem musik ini. Setelah kesadaran tersebut terbentuk, pekerjaan rumah pertama selesai, barulah masuk ke tahap berikutnya yaitu membangun tempat pertunjukan yang layak untuk festival musik yang bisa meraup atensi masyarakat global.

Spesifik mengenai tempat pertunjukan musik, Idhar menyebut Bandung adalah jagonya menciptakan tempat alternatif (alternative space) sebagai wahana bagi penggila musik. Ia berkaca pada beberapa festival kota yang pernah diselenggarakan baik itu oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta yang mengoptimalkan beberapa tempat alternatif seperti kafe atau ruas jalan di Bandung.

"Coba aja bayangin. Kita bikin festival kota, datangin Coldplay, misalnya ya. Nah, otomatis tuh seluruh aktor non musik di balik festival kota itu bakal kena dampak positif," katanya.

Mengenai keberadaan ruang, untuk konteks Kota Bandung, Idhar menyebut idealnya komunitas bisa berkolaborasi dengan pemerintah terkait ruang kreatif. Pasalnya, ia mengamati banyak aset pemerintah daerah yang 'menganggur' dan sangat ideal bila disulap menjadi wahana kreatif yang tentu memiliki nilai ekonomi.

Berkaca pada hal tersebut, hadirnya komunitas yang lincah dalam menggarap sebuah festival musik dengan kolaborasi triple helix bersama pemerintah bakal mendorong percepatan kemajuan ekosistem musik.

Sebagai catatan, Idhar Resmadi baru saja mempublikasikan riset terbarunya untuk British Council Indonesia yang bertajuk 'Pemetaan Ekologi Sektor Musik Indonesia'. Riset tersebut bertujuan untuk memetakan perkembangan lanskap industri musik di Indonesia. Dalam studi kasus komparatifnya, tiga kota yang dipilih adalah Jakarta, Denpasar dan Bandung. TemanBaik dapat mengakses rangkuman riset tersebut memalui situs web resmi British Council Indonesia.

Foto: dok. Pribadi/Idhar Resmadi

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler