Menyusur Perjalanan Musikal Benny Likumahuwa di Tanah Air

Tangerang - TemanBaik, industri musik Tanah Air baru saja kehilangan musikus Benny Likumahuwa. Beritabaik.id coba merekam perjalanan bermusiknya selama lebih dari setengah abad. Yuk kita simak!

Benny Likumahuwa yang merupakan kakak kandung dari penyanyi Utha Likumahuwa dan juga ayah dari pemain bas kenamaan Barry Likumahuwa ini dikenal memiliki kecintaan yang besar terhadap musik. Pria kelahiran Kediri, 18 Juni 1946 ini menguasai banyak instrumen mulai dari klarinet, saksofon, drum, bas, serta instrumen lainnya. Tak hanya itu, Benny juga dikenal mampu menguasai notasi balok yang ia pelajari sendiri.

Sejak kecil, Benny memang sudah akrab dengan musik karena tumbuh di lingkungan pecinta musik. Kiprahnya dalam industri musik dimulai pada tahun 1966 saat bergabung dengan Cresendo, band asal Bandung. Sebelum menjajaki nama di industri musik, Benny sudah aktif bermain jaz sejak dekade 1950-an.

Gabung Bersama The Rollies
Pada tahun 1968, musikus Bangun Sugito atau dikenal dengan nama Gito Rollies mengajaknya bergabung dengan band The Rollies. Benny kemudian memperkuat The Rollies dan mengisi instrumen brass pada band ini. Kita bisa mengintip kembali isian brass yang dimainkan oleh Benny, salah satu yang menohok ada pada lagu 'Sun Shine Brother Hood' di album Self Titled karya The Rollies.

Pada awal kemunculannya bersama The Rollies, Benny mengikuti tur keliling Indonesia dan sempat mendapat kontrak untuk bermain di sebuah klab malam di Singapura. Bersamaan dengan itu, mereka juga melakukan rekaman dan merilis beberapa rilisan di bawah label Popsound antara lain debut album pada tahun 1968 dan album 'Halo Bandung' pada 1969.

Kesuksesan The Rollies melakukan rekaman di luar negeri merupakan sebuah prestasi untuk band Indonesia di masa itu. Pasalnya, jauh sebelum istilah 'go international' digunakan musikus era kini, mereka sudah melakukannya.



Festival Jazz Internasional
Benny juga banyak nampil di berbagai festival jaz internasional, mulai dari The Singapore Jazz Festival tahun 1986, The Jakarta Jazz Festival tahun 1988, The Asean Jazz Festival di Kuala Lumpur tahun 1992, International Dixie Land Festival di Dresden, The North Sea Jazz di Belanda dan masih banyak lagi.

Usai malang melintang bersama The Rollies, Benny tak berhenti berkarya. Setelah banyak bermain di festival internasional pada dekade 1970-an, Benny kemudian langsung diajak bergabung dengan grup The Jazz Riders saat kembali ke Indonesia.

Baca Ini Juga Yuk: Menyelamatkan Arsip Musik Indonesia Bersama Irama Nusantara

Kolaborasi dengan Berbagai Musikus
Selain bersama The Jazz Riders, Benny tercatat aktif bermusik dengan Jack Lesmana Combo dan Trio ABC yang terdiri dari Abadi Soesman, Benny Likumahuwa dan Candra Darusman, Ireng Maulana All Star, dan berbagai proyek musik lepas lainnya.

Ia juga membentuk proyek musik solonya sendiri, antara lain Benny Likumahuwa Big Band pada 1996 dan Benny Likumahuwa Jazz Connection. Saat berkarya dengan entitasnya sendiri, Benny nampak berkolaborasi dengan musisi lintas generasi, mulai dari Oele Pattiselano, Indra Aziz, hingga pianis berbakat Joey Alexander.

Aksi Benny dan Joey pada lagu 'Glory Glory' di album 'Rekam Jejak Vol. 1' karya Benny Likumahuwa Jazz Connection seolah menegaskan bahwa musik adalah bahasa universal karena Benny dan Joey yang usianya terpaut sangat jauh tetap bisa bermain bersama dalam sebuah komposisi lagu yang luar biasa.

Peduli Terhadap Pendidikan Musik
Tak cukup dengan menciptakan karya saja, Benny juga menunjukkan kecintaannya terhadap musik lewat bidang pendidikan. Pada tahun 1985, Benny bersama dua musisi jaz lainnya yaitu Jack Lesmana dan Indra Lesmana membentuk sekolah musik Farabi. Sampai saat ini, sekolah musik Farabi terus melahirkan musikus-musikus hebat seperti Sri Hanuraga, Irfan Aulia (Samsons), Barry Likumahuwa, Demas Narawangsa, Indra Aziz dan masih banyak lagi nama musikus lainnya. Hingga akhir hayatnya, Benny tercatat sebagai pengajar di sekolah musik ini.

Selain itu pada tahun 2005, Benny bersama Todung Pandjaitan, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Krisna Prameswara dan Annete Frambach membentuk Gladiresik Music Lab yang merupakan laboratorium pertama di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan musik. Pembelajarannya mengusung konsep mendidik murid untuk memiliki kemampuan dasar bermusik yang solid dalam waktu yang relatif singkat, sehingga mudah berkembang dan mengantisipasi perubahan era musik di profesinya kelak sebagai musisi profesional. Benny berperan sebagai konsultan akademik di Gladiresik Music Lab.

Pada Selasa (9/6/2020) pelopor jazz Tanah Air ini tutup usia. Benny menghembuskan napas terakhirnya di kediamannya, di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan akibat kondisi kesehatannya yang menurun dalam kurun waktu 3 bulan ke belakang. Namun, meskipun demikian, karya dan inspirasi dari Benny sebagai pelopor jaz Tanah Air masih bisa kita rasakan saat ini. Buktinya, di berbagai kota, banyak tumbuh komunitas musik jaz, dan hari ini jaz sudah bisa dinikmati oleh berbagai kalangan pendengar.

Selamat jalan, Benny Likumahuwa! Karya dan prestasimu abadi.

Foto: dok. www.instagram.com/Barry Likumahuwa


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler