Vraga Music, Duet Folk Skotlandia Nyentrik dari Bandung

Bandung - TemanBaik, kalau kamu sedang melintasi Jalan Braga pada akhir pekan, biasanya, ada pemandangan enggak biasa nih. Ya, dua pemuda dengan entitas Vraga Music ini terdiri dari Ilham Sri Haryanto (bag pipe) dan Teguh Kusumah Rahmatika (perkusi) bakal menghibur kalian dengan alunan musik folk Skotlandia.

Sudah berkeinginan membentuk grup musik yang membawakan lagu-lagu folk Skotlandia sejak tahun 2018, keinginan dua pemuda, Ilham Sri Haryanto dan Teguh Kusumah Rahmatika baru terwujud pada bulan Juli 2020. Namun bukan berarti selama kurun waktu dua tahun tersebut mereka berdiam diri. Hanya saja, kendala yang mereka hadapi saat itu adalah keterbatasan akses untuk alat.

Ya, kepada Beritabaik.id, Ilham menyebut pada tahun 2018 tersebut dirinya belum memiliki bag pipe sendiri. Bag pipe tersebut merupakan alat musik tiup dari Skotlandia. Bentuknya menyerupai trumpet yang punya kantong udara menyerupai tas. Suara yang dihasilkan dari udara (tiupan) pemainnya bakal diolah dalam kantong tersebut. Hasilnya, kita bisa mendengarkan melodi tunggal dan harmoni (notasi harmonis lebih dari satu suara) dengan volume yang begitu keras.

"Dulu sih bag pipe-nya minjem punya temen. Jadi, tahu sendirilah namanya barang minjem pasti susah. Enggak sebebas kalau punya sendiri," ujar Ilham.


                                                                                Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Setelah memiliki alat sendiri, Ilham kemudian mengajak Teguh untuk berkegiatan pasca dilonggarkannya karantina wilayah alias PSBB di Bandung, Juli 2020 silam. Karena merasa tidak punya banyak kegiatan karena terhalang pandemi, Ilham mencetuskan ide "ngamen" di jalanan sebagai kegiatan yang diharapkan bisa menyambung penghidupan. Namun, arti kata ngamen yang dimaksud bukanlah ngamen yang biasa kita jumpai di lampu merah, yang mana si pengamen ini masuk ke angkutan umum, ya.

Jadi, mereka meniru konsep pengamen di luar negeri. Mereka memainkan puluhan lagu folk Skotlandia, dan menggelar kantong donasi, yang mana pengunjung bisa menyimpan uang berapapun yang si pengunjung ini mau. Konsep mengamen ala eropa ini dirasa sebagai cara yang ampuh, selain untuk bertahan hidup, juga untuk menggaet apresiator bagi mereka. Selama proses ngamen itu, mereka kerap dimintai membawakan lagu atau mendapat rekues lagu dari apresiatornya, hingga mendapat bayaran.

Baca Ini Juga Yuk: Gandeng Eva Celia, Diskoria Persembahkan Lagu Berjudul ‘Chrisye’

Proses mengamen yang dilakukan oleh Vraga Music ini nyatanya tidak semudah apa yang kamu lihat dalam penampilannya di Jalan Braga loh. Menurut Teguh, mereka bahkan beberapa kali harus mengalami penolakan dari tempat yang mereka tumpangi. Alasannya bervariasi, mulai dari alat bag pipe yang nyaring kemudian dianggap mengganggu kenyamanan, hingga keberadaan mereka dianggap mengganggu. Namun keduanya cuek saja menanggapi penolakan tersebut, selama penolakannya belum benar-benar jelas dasar argumennya.

"Disuruh berhenti pernah. Karena katanya mengganggu pengunjung kafe. Tapi di sisi lain, pas kita berhenti, ada pengunjung kafe yang menghampiri dan bilang, ‘wah ini keren! kenapa berhenti?’ gitu katanya. Ya kadang kita juga bingung sih," ujar Teguh sembari tertawa.

Saat ini, mereka juga belum menemukan lokasi ngamen yang spesifik. Hanya saja, sepanjang Jalan Braga dijadikan tempat mengamen oleh mereka. Karena nama jalan itu pula, duet folk Skotlandia ini memberi nama pada dirinya Vraga Music.

Karena musiknya yang khas dan spesifik, dari kegiatannya di jalanan itu pula, perlahan Vraga Music mulai dilirik oleh beberapa orang yang memang satu frekuensi dengan musik mereka. Sebut saja saat mereka diajak manggung di sebuah festival musik dan dongeng, Nusa Layaran, di Lembang, belum lama ini. Atau yang lebih menarik lagi saat mereka diundang bermusik Pemakaman Belanda, di Jalan Pandu (Ereveld Pandu). Selain itu, cerita unik selama ngamen pun tercipta, mulai dari kehadiran penonton yang meminta dibawakan lagu tertentu alias rekues, hingga ditawari singgah oleh salah satu kafe yang tertarik dengan musik yang dibawakan Vraga.

"Kalau bicara kesenangan ya. Malah kita senangnya pas dapet kesempatan manggung di Pemakaman. Itu tuh kayak ada kebanggaan tersendiri aja untuk kita. Soalnya tema panggungnya saat itu sih isunya adalah untuk menghormati para seniman Belanda yang tewas dalam perang dunia kedua. Dan sejak saat itu, karena mungkin musik yang kita bawain agak beda nih, kita jadi langganan mereka (manggung di Pemakaman Belanda)," beber Ilham.

Sebagai informasi, jadwal ngamen mereka di Jalan Braga berlangsung pada akhir pekan. Antara hari Sabtu atau Minggu, atau bisa keduanya. Jamnya pun enggak menentu. Hanya mereka menerka, jam ngamen mereka berlangsung dari pukul 13.00 hingga sore hari. Dalam satu episode ngamen, mereka mendapat penghasilan yang fluktuatif antara Rp30 ribu hingga Rp400 ribu.

"Akhirnya si ngamen ini kita jadiin buat seru-seruan aja sih. Karena, ya memang kita inginnya grup ini jadi grup yang punya karya sendiri," ujar Teguh.


                                                                                  Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Berkarya Jadi Tujuan Utama
Pernah diusir saat ngamen, hanya mendapat upah Rp30 ribu setelah berjam-jam ngamen, dan sekelumit drama lainnya saat menjajal kerasnya jalanan membuat Vraga Music kembali ke tujuan awalnya membentuk grup musik: berkarya. Ilham menyebut, kendati awalnya ngamen adalah cara yang dilakukan mereka berdua untuk bertahan hidup, namun belakangan mereka mulai melirik proses rekaman lagu sebagai kegiatan utama dalam musiknya.

Lagipula, keseharian personil Vraga Music juga punya kegiatan lain di luar musik. Sebut saja Teguh, yang aktif bersama komunitas perkusi dan mengajar ekstrakurikuler perkusi di sebuah sekolah menengah. Atau Ilham, yang kini sedang membangun bisnis fesyen di The Hallway, Kosambi. Pada akhirnya, kegiatan bermusik dijadikan prioritas besar, namun tidak begitu dikejar oleh mereka.

Saat ini, mereka sedang disibukkan dengan penggodokan materi mini album, yang rencananya bisa dirilis pada tahun 2021 ini. Di dalam mini album tersebut, kabarnya bakal ada 6 lagu. Namun saat ini, mereka baru merampungkan setengahnya dari target mini album yang sudah ditentukan. Mereka juga bakal membawa musik pop dan folk Skotlandia ke dalam karya orisinil mereka kelak. Keduanya tampak menolak apabila mencampurkan nilai dalam instrumen yang dimainkan seperti bag pipe dengan musik-musik dari luar budayanya.

"Enggak sih, belum ke sana. Kita mau fokus si (musik) Skotlandia-nya dulu. Sentuhan musik, aransemen, kita lagi coba pendekatannya ke arah sana di mini album ini," ujar Ilham.

Selain berkarya, mereka juga berkeinginan untuk manggung di acara musik yang lebih besar lagi, walau di sisi lain mereka mengaku masih kebingungan saat manggung. Ya, sebab mereka hanya berdua, dan panggung musik dengan kapasitas besar tentu akan membuat penampilan mereka terkesan kosong.

"Intinya sih, saat ini mah kita lagi memantaskan diri dulu aja. Bikin karya, nyari panggung, dan ngamen ini jadi sarana latihan sambil seru-seruan lah," ujar Teguh, diaminkan oleh Ilham.

Kehadiran Vraga Music tentu menjadi sangat dinantikan di belantika musik Tanah Air. Apalagi, kalau pandemi sudah reda dan panggung musik kembali seperti sediakala, tentu sangat disayangkan kalau kita melewatkan sajian musik keren dari dua pemuda asal Bandung ini.

TemanBaik, ada yang pernah melihat penampilan duo Vraga Music ini di Jalan Braga? Bagaimana menurutmu penampilan mereka?

Foto: dok. Vraga Music

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler