Mengintip Instalasi 'Humba Dreams (un)Exposed' di ARTJOG MMXIX

Yogyakarta - Sudah bukan rahasia lagi jika Riri Riza dan Miles Films terlihat mempunyai hubungan yang spesial dengan tanah Sumba (Humba). Rasa jatuh hati itu bermula saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di Sumba untuk keperluan shooting film Pendekar Tongkat Emas sekitar tahun 2012/2013. Kecintaan mereka yang sangat besar terhadap kompleksitas, keindahan, dan berbagai cerita yang ada di Sumba mengakibatkan mereka selalu terinspirasi dan merasa perlu untuk mengekspresikan Sumba lebih jauh dalam berbagai bentuk.

Hingga akhirnya mereka kembali membuat film yang lagi-lagi mengangkat tentang Sumba berjudul 'Humba Dreams' yang dibuat pada tahun 2017 dan telah berhasil memenangkan banyak penghargaan. Film 'Humba Dreams' mengawali perjalanan rilisnya di Indonesia pada JAFF Movie Night 3.2 yang diadakan pada 27 Juli 2019 (khusus undangan), dan 3-4 Agustus 2019 (untuk umum).

Film ini berkisah tentang Martin (J.S. Khairen), seorang mahasiswa sekolah film Jakarta yang pulang ke Sumba untuk suatu tugas yang tak mudah. Perjalanan mempertemukan Martin dengan Anna (Ully Triani), dan berbagai pertanyaan tentang Humba dan dirinya perlahan menemukan jawaban.

Sebagai seorang sutradara film, Riri Riza tidak ingin berhenti dalam mengeksplorasi karyanya. Setelah film Humba Dreams selesai digarap, Riri merasa bahwa medium film saja tidak akan cukup untuk menggambarkan semua hal yang ia temukan di Sumba. Lalu, ia menjadi terpikir dan memutuskan untuk membawa Sumba kembali ke dalam medium lain dengan membuat rangkaian project kedua yang berupa instalasi seni.

Instalasi seni karya Riri Riza berjudul 'Humba Dreams (un)Exposed' dapat TemanBaik saksikan pada perhelatan seni kontemporer terbesar di Indonesia, ARTJOG MMXIX yang diselenggarakan selama 25 Juli hingga 25 Agustus 2019 di Jogja National Museum (JNM).

Baca Ini Juga Yuk: Asyik! ARTJOG 2019 Dibuka, Karya Seni 39 Seniman Siap Unjuk Gigi

Lewat instalasi seni karya Humba Dreams (un)Exposed, film 'Humba Dreams' diartikulasikan lebih jauh oleh Riri Riza dalam bentuk instalasi berupa 3 patung jasad dari tradisi Marapu yang hadir dengan semacam lubang kecil yang cukup untuk diintip. Di dalamnya, terputar B-roll dari rol-rol filmnya yang tersisih dari pembuatan film 'Humba Dreams'.

Pengunjung yang ingin menikmati karyanya harus menikmatinya dengan cara yang tidak lazim, yaitu mengintip ke dalam patung tersebut. Karya ini hadir sebagai karya lintas medium dan disiplin seni yang akan memberikan pengalaman tersendiri bagi publik.

Dalam pembuatannya, Riri Riza nggak sendirian loh TemanBaik. Ia juga berkolaborasi dengan Studio Batu, sebuah kolektif seni berbasis di Yogyakarta dengan latar belakang seni yang beragam, seperti seni rupa, film, musik, dan arsitek. Nama Studio Batu mulai banyak dikenal setelah terlibat dalam film pendek 'Lembusura' dan 'Prenjak' karya Wregas Bhanuteja, sebuah film pendek yang telah memenangkan banyak penghargaan.

Selain Studio Batu, ternyata masih ada sederet talenta-talenta lainya dari industri seni yang terlibat dan turut serta mendukung proses pembuatan instalasi tersebut. Yang pertama yaitu Wulang Sunu, seorang lulusan Institut Seni Indonesia sekaligus co-founder Studio Batu yang selalu memanfaatkan beragam medium, dari gambar, lukisan, instalasi, pertunjukan visual, video mapping, dan animasi dalam karya-karyanya.

"Untuk prosesnya, mungkin kalo secara waktu, satu setengah bulan. Pertama dikasih tau sama Wregas, Studio Batu mau diajak kolaborasi sama mas Riri nih. Dalam waktu 1,5 bulan cukup terbatas, namun kita berusaha untuk tetap memaksimalkan waktu yang ada. Mas Riri pertama ngirim abstrak karyanya kira-kira seperti ini. Kontakkannya ya via internet, video call atau whatsapp. Jadi, walau di situ kita terbatas dengan jarak, tapi saya dan teman-teman berusaha untuk tetap membuat design yang proper," tutur Wulang menceritakan proses di balik pembuatan karya.

Nama lain yang terlibat dalam pembuatan instalasi ialah Taba Sanchabakhtiar. Ia mendedikasikan karirnya dalam bidang videografi dan mencapai beberapa penghargaan, salah satunya VMI Best Director Award pada tahun 2000. Taba kemudian memperluas portofolionya ke ranah seni video dan industri multimedia; bidang yang menjadi keahliannya sampai saat ini.

Selain Taba Sanchabakhtiar, ada juga Satrio Budiono yang sama-sama berperan sebagai artistic consultants, serta Sastha Sunu sebagai  B-roll video editor.

Saat Media Gathering beberapa hari lalu Riri Riza juga sempat mengungkapkan tentang apa yang ia harapkan bagi para pengunjung dan penonton yang menikmati karya-karyanya.

“Tentu saja pengalaman yang akan mendorong penikmatnya untuk, entah itu bertanya lebih banyak, atau mencoba memahami lebih jauh tentang apa sih Humba ini? Apa sih budayanya? Kenapa kebudayaan atau praktek melalui upacara atau ritual, melalui nyanyian dan kesenian, menjadi menarik dan penting? Fungsi seni saya pikir memang untuk membawa penikmatnya maju ke depan, membayangkan sesuatu yang lebih jauh dari dirinya, dari kenyamanan dirinya sendiri sebagai manusia atau problemanya sendiri. Kadang-kadang, seni itu bisa membawa kita lebih jauh untuk mengenali diri kita bahkan. Itu harapan saya melalui karya-karya ini yang akan ada di ARTJOG MMXIX selama 1 bulan ke depan,"ujar Riri.


Foto: Alni Widayanti


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler