Pertunjukan Drama Perjuangan PETA di Tugu Pahlawan Surabaya

Surabaya - Ada yang berbeda di Tugu Pahlawan Surabaya pada hari Minggu (08/09/2019) pagi, sebab dimeriahkan oleh penampilan dari drama teater, pertunjukan dimulai dari pukul 08.00-09.00. Drama yang dibawakan oleh komunitas penggiat sejarah Roode Brug Soerabaia dan juga komunitas Kedung Klinter ini mengusung tema Pemberontakan Tentara Peta.

Pertujukan drama ini bercerita tentang para anggota batalion PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar yang melakukan pemberontakan kepada pasukan jepang. Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang bernama Soeprijadi.

Drama teatrikal ini tampil dengan cukup maksimal. Dilengkapi dengan kostum serta properti lengkap seperti senjata ditambah dengan efek asap serta efek lain yang sengaja dibuat dari ledakan-ledakan petasan untuk menambah suasana perang semakin nyata.

Tak lupa sound effect yang menggelegar untuk melengkapi drama teater tersebut. Warga Surabaya yang sedang berada di sekitar tugu pun mendekat ke arah lapangan untuk menonton pertunjukan ini.

Komunitas Roode Brug bersama dengan Komunitas Kedung Klinter yang membawakan drama teatrikal ini memang tampil sebanyak dua bulan sekali di area Tugu Pahlawan dan Museum 10 November ini.

Baca Ini Juga Yuk: Lihat Lebih Dekat Tugu Pahlawan, Simbol Ikonik Arek-arek Suroboyo

"Agenda tampil di tugu ini biasanya sekitar dua bulan sekali, atau kita juga biasanya ada agenda lain," Tutur Ferdin Ardiansyah salah satu anggota dari Komunitas Roode Brug. Komunitas ini pun memang sering tampil bersamaan dengan Kedung Klinter.

Ferdi juga menambahkan komunitas Kedung Klinter memang sudah terbiasa pentas. "Komunitas Kedung Klinter itu semacam komunitas dari perkampungan gitu, tapi memang sudah biasa pentas," tamabahnya.

Selain cerita sejarah tentang pemberontakan PETA, drama teatrikal juga pernah dibawakan dengan cerita sejarah yang lain. Pemkot setempat memang bekerjasama dengan pengurus area Tugu Pahlawan dan juga Museum 10 November untuk mengadakan pertunjukan ini dengan mengajak komunitas-komunitas tersebut.

Adanya Drama teaterikal ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat sekitar yang menonton. Seperti bapak Asis yang menikmati pertunjukan bersama keluarganya. "Menurut saya sih pentas tadi cukup menggambarkan perjuangan perang pada saat itu".

Meskipun cuaca saat itu cukup panas dengan kondisi matahari yang cukup terik. Namun pertunjukan tersebut tetap tampil dengan baik dan menarik perhatian penonton.


Foto: Delagantika Pratiwi/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler