Koleksi Pribadi Tokoh Jazz Nusantara Legendaris di Messiom Jazz

Yogyakarta - Ngayogjazz tahun ini menyuguhkan sesuatu hal yang baru alias belum pernah ada di tahun-tahun sebelumnya loh. Salah satunya yaitu sebuah museum seni instalasi yang diinisiasi oleh almarhum Djaduk Ferianto sebagai pendiri festival musik Ngayogjazz. Museum tersebut diberi nama 'Messiom Jazz' dan mengusung tagline 'Kegilaan akan menanti anda'.

Para pengunjung dapat melihat berbagai koleksi benda-benda pribadi peninggalan tokoh-tokoh jazz Nusantara legendaris, lengkap dengan biografi singkat dan deskripsi kisah menarik di balik benda-benda itu.

Di antaranya tiket bioskop yang jadi inspirasi seorang Bing Slamet saat sedang membuat lagu 'Nonton Bioskop', kursi piano yang konon pernah diduduki oleh Nick Mamahit dalam sebuah konser, sebuah kompor yang jadi inspirasi lagu 'Kompor Meleduk' ciptaan Benyamin Syueb, handuk bekas Bubi Chen, senar gitar bekas Jack Lesmana dan sebuah banjo yang pernah dimainkan oleh Ireng Maulana.

Ada juga sebuah replika simbal yang pernah melukai Dullah Suweileh hingga meninggalkan bekas luka di hidungnya. Bahkan koleksi handuk, sandal, dan kuncir rambut kesayangan Djaduk Ferianto akhirnya diputuskan oleh keluarga beliau dan tim yang terlibat untuk ikut dipajang juga dalam museum ini.

Enggak hanya itu, pengunjung juga sekaligus bisa menyimak tentang cerita sejarah perkembangan musik jazz di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

Sabtu (16/11) kemarin, Bambang Paningron selaku salah satu Board of Creative Ngayogjazz menceritakan kepada BeritaBaik tentang seluk beluk segala sesuatu tentang museum hasil inisiasi almarhum Djaduk ini.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenang Sosok Djaduk Ferianto di Dunia Seni

"Jadi, konsep museum ini sebenarnya beliau yang merencanakan, hanya saja tentu dengan format jenaka. Sebenarnya format ini beliau sudah lama ngerancangnya dari persinggungan obrolan dengan teman-teman. Terus beliau bilang, wah aku mau bikin museum kalo gitu dan jadilah museum yang jenaka seperti ini," kenangnya.

Ia kemudian memberi tanggapan bahwa museum ini mengusung konsep dan sifat koleksi benda-benda yang berada di dalamnya berbeda dengan museum-museum pada umumnya. "Tapi di balik kejenakaan itu sebenarnya tergantung masing-masing ya bagaimana menangkapnya," jelas Bambang.

"Museum itu kan biasanya ngomongin sesuatu hal yang besar, nah ini malah sesuatu yang private. Nah, dari situ, bisa jadi seseorang itu menjadi besar bukan karena suatu yang besar juga, tapi justru karena hal-hal kecil yang dilupakan. Itu yang kita tangkap sebenarnya. Sayangnya 3 hari sebelum Ngayogjazz ini mas Djaduk wafat, kemudian kami tambahkan benda-benda pribadi kesayangan beliau sekalian, jadi kejenakaannya semakin komplit," paparnya.

Bambang juga mengatakan bahwa persiapan yang dikerjakan oleh tim untuk mengeset semua instalasi di museum ini ternyata hanya memakan waktu dua hari saja.

Nanda, salah satu pengunjung yang datang dari Semarang ke Jogja demi menghadiri Ngayogjazz 2019 juga sempat memberikan komentar dan kesan pribadinya setelah puas melihat-lihat dalam museum.

"Keren sih. Kenapa aku bilang keren? Karena emang dari dulu kita bareng, saya waktu bareng jaman beliau masih ada, salah satu niatnya juga kita mengumpulkan artefak atau pundi-pundi sejarah dari jazz yang berkembang di Indonesia itu sendiri," komentar Nanda.

"Jazz yang di Indonesia itu kan plural banget ya, maksudnya jazz itu kan memiliki perspektif masing-masing dan menurut saya ini merupakan hal yang keren banget, maksudnya ini hal yang seharusnya nanti bisa lebih dimaksimalkan lagi ke depannya. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa jazz itu seperti ini secara sejarahnya dulu, dan banyak cara menuju jazz. Maksudnya, jazz itu bukan hanya sebuah lifestyle, tapi jazz itu kan sebuah pola pikir yang seharusnya kemudian bisa disikapi bersama," pungkasnya.


Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler