Cuci Mata dengan Karya-karya Seniman Muda di 'Poetical Vector'

Bandung - TemanBaik, bagaimana jadinya jika karya maestro seni G. Sidharta ditampilkan kembali oleh seniman muda? Ya, jawabannya ada di pameran seni ‘Poetical Vector’. Yuk kita simak!

Beritabaik.id punya kesempatan mengunjungi pameran Poetical Vector di Lawangwangi Creative Space, Jl. Dago Giri, Lembang Kabupaten Bandung Barat. Dalam pameran ini, ditampilkan kembali karya-karya seniman G. Sidharta dalam bentuk yang baru oleh empat orang seniman: Erwin Windu Pranata, Gabriel Aries Setiadi, Rendy Raka Pramoedya, dan Mujahidin Nurrahman. Judul ‘Poetical Vector’ itu sendiri dipilih untuk menggambarkan arah perkembangan dan dinamika abstrak di Indonesia, dari periode modern hingga saat ini, yang menunjukkan ragam nilai dan makna sublim yang puitis.

Pendekatan artistik G. Sidharta yang menggunakan pendekatan modern dirasa masih menemukan keterkaiyan dengan praktik seni rupa saat ini. Melalui karya dari generasi seniman muda yang dihadirkan, pameran ini hendak menunjukkan bagaimana sejatinya G. Sidharta sudah memiliki kesadaran tentang pluralitas kontemporer, serta menawarkan cara lain dalam merenungkan keterkaitan antara bentuk-bentuk non-representasional dengan realitas yang seringkali terkesan puitis.

Pada pameran ini, seniman-seniman muda mengambil poin menarik dari Sidharta. Sebut saja Mujahidin Nurahman. Seniman muda ini mengambil sisi organik dari karya G. Sidharta. Selain itu ada pula seniman Rendy Raka Pramoedya yang menonjolkan sisi individualitas dengan bentuk karya yang non-representatif. Namun, kendati begitu ia menolak karyanya ini disebut sebagai karya abstrak.

Selanjutnya, ada karya dari Gabriel Aries yang menampilkan patung dari batu marmer dan logam. Menurutnya, satu material yang bersifat natural dianggap bisa melebur dengan material lainnya. Semangat ini yang ia lihat dari sosok G. Sidharta. Menurutnya, polaritas atau dikotomi itu bukan sebagai satu hal yang bisa dinegosiasikan.

Kemudian terakhir ada Erwin Windu Pranata. Ia menyuguhkan nilai abstrak yang menarik dalam pameran ini. Ya, karyanya ini terinspirasi dari coretan bolpoin dari tempat penjualan alat tulis kantor, yang mana kita bisa menjumpai kertas-kertas yang digunakan untuk mengetes fungsi bolpoin. Lebih lanjut, ia menyebut karyanya ini terinspirasi dari sudut pandang G. Sidharta dalam melihat hal-hal sederhana dari keseharian masyarakat.

“Sebetulnya karya ini sudah dikerjakan 3 tahun lalu. Jadi saya melihat gundukan visual saat main ke stationery, nah di sana itu ada beberapa kertas yang dipakai untuk menjajal bolpoin. Saya terinspirasi dari gundukan seni yang ada di sana. Terus ada juga beberapa kesamaan perspektif saya dengan Pak Sidharta, antara lain melihat hal-hal kecil yang memang ada di masyarakat,” terang Erwin di sela-sela pamerannya.

Lebih lanjut, pihak Art Sociates selaku penyelenggara pameran ini menyebutkan kalau pameran ‘Poetical Vector’ merupakan upaya untuk melihat seberapa jauh pengaruh dari sosok seniman G. Sidharta. Pameran ini juga seolah menjadi pembuka untuk pameran-pameran yang lebih besar lagi dalam waktu mendatang, seperti misalnya pameran ‘Percakapan Imajiner’ yang kabarnya akan digelar pada bulan Desember 2020 mendatang.

Pameran bertajuk ‘Poetical Vector’ ini berlangsung mulai tanggal 10 Juli 2020 hingga 10 Agustus 2020. TemanBaik, jika kamu sedang menghabiskan waktu di Bandung, tak ada salahnya mengunjungi pameran ini untuk melihat bagaimana seniman muda ini merepresentasikan ulang pemikiran G. Sidharta ke dalam bentuk yang modern. Namun, jangan lupa tetap ikuti protokol kesehatan yang berlaku, ya!


Foto: Dok. ArtSociates

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler