semAta Gallery, Peka dengan Sekitar Melalui Pendidikan Seni

Bandung - TemanBaik, kata 'seni' identik dengan hal-hal yang berbau karya, kerajinan, atau estetika. Tentu sudah familiar di telinga jika mendengar tentang seni tari, seni lukis, seni keramik, seni musik, dan sebagainya. Tapi tahukah kamu, jika kehidupan kita sehari-hari pun bisa dikatakan sebagai seni?

Seni yang erat kaitannya dengan keseharian kita inilah yang coba diperkenalkan oleh semAta Gallery. Sebuah tempat untuk berkumpul dan berkreasi yang terletak di Jalan Boscha, Sukajadi, Kota Bandung.

Berawal dari pengalaman pribadi pemiliknya, Wilman Hermana, saat menjadi pengajar salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Saat itu, Wilman merasa mahasiswa yang diajarnya kesulitan untuk diajak diskusi dan bercerita soal konsep karya dari tugas yang diberikannya.

"Dari situ saya berpikir dan merasa ada yang kurang dari sistem pendidikan sekolah. Lalu saya coba observasi ke sekolah dari tingkat SMA, SMP, sampai terakhir SD," ujar Wilman.

Hasil observasi Wilman menunjukkan betapa pentingnya pendidikan seni yang baik sejak dini, terutama sejak anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena yang Wilman dapatkan dari observasinya adalah pelajaran seni di sekolah yang sekadar menjadi kegiatan pelengkap untuk mengisi kelas.

Berangkat dari hasil observasi yang dilakukan Wilman, ia yang memang mempunyai latar belakang di bidang seni pun mencoba membuat konsep pendidikan seni dengan fokus utama pembangunan karakter anak.

"Terutama soal meningkatkan kepercayaan diri ya. Seringkali anak tidak percaya diri untuk menyampaikan apa yang dia ketahui. Kalau guru bilang A, yasudah A. Kepercayaan diri perlu dibangun agar saat dia tumbuh dewasa, dia bisa menghadapi sesuatu dengan kritis," ujar Wilman.



Baca Ini Juga Yuk: Fakeart Studio, Mengabadikan Segala Momen dengan Karikatur  

Konsep pendidikan seni yang sudah disusun Wilman membawanya untuk menemui Suniaty yang saat itu tergabung dalam komunitas Rumah Edukasi, tempat berkumpul dan belajar anak-anak di daerah Sukajadi.

Akhirnya pada tahun 2013, lahirlah proyek pertama semAta Gallery dengan konsep yang sudah disusun Wilman dan coba diimplementasikan kepada anak-anak dari Rumah Edukasi.

Menurut Suni, yang kini bertugas untuk mengelola berbagai program di semAta Gallery, semAta merupakan tempat berkumpul dan berkarya semua orang dengan label pendidikan seni yang tidak sekadar fokus ke kegiatan berkarya atau membuat sesuatu. Tapi semAta Gallery ingin mencoba untuk mengembangkan karakter anak sejak usia dini.

Suni juga menambahkan, bahwa selain untuk pengembangan karakter anak melalui pendidikan seni, semAta Gallery juga ingin memperkenalkan kepada masyarakat jika seni mengandung makna yang luas dan bisa digunakan untuk apapun.

"Seni gak melulu soal kertas gambar, tapi banyak hal yang bisa dipelajari melalui seni. Bisa belajar matematika, sains, menulis, sampai berimajinasi dengan seni," ujar Suni.

Konsep pendidikan seni di semAta Gallery dibuat sederhana dengan menggabungkan seni dan aspek lain yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Menurut Claudine Patricia, seorang fasilitator pendidikan seni di semAta Gallery, konsep seni yang ada di masyarakat terbilang masih sangat eksklusif. Tapi tidak dengan konsep seni di semAta yang tidak lepas dengan keseharian.

Pendidikan seni yang ditawarkan semAta Gallery dilakukan melalui tahapan perkenalan, soal teori dan arti seni itu sendiri. Mulai dari memperkenalkan dan eksplorasi seorang material yang bisa digunakan, hingga bercerita seputar seni. Jadi tidak secara tiba-tiba diarahkan untuk membuat karya.

"Semua tahapan disesuaikan dengan usia. Tapi dasarnya sama, menggabungkan seni dengan keseharian. Kita ajak peka sama sekitar. Akhirnya ide untuk membuat karya itu diekstrak sendiri dari keseharian mereka," ujar Claudine.

Sebagai fasilitator, Claudine mengaku dirinya sebatas menjadi teman diskusi. Bukan menjelaskan, tapi mengajak anak untuk melihat sesuatu dan membuat mereka berani untuk mengeluarkan pendapatnya. "Setelah melihat sesuatu, diajak diskusi, 'Perasaan kamu saat melihat ini gimana? Lalu kalau kamu merasa seperti itu, kamu jadi punya ide untuk buat apa?'," tambah Claudine.

Bicara soal sistem pendidikan seni di semAta Gallery, terbagi beberapa kelas dengan tingkatan berbeda sesuai umur dan pendidikan formal di sekolah. Level 0 berisi anak dengan tingkat pendidikan TK, level 1 untuk anak di tingkat pendidikan kelas 1 hingga 3 SD, level 2 untuk anak di tingkat pendidikan kelas 4 sampai 6 SD, sedangkan level 3 untuk anak jenjang SMP hingga SMA.

"Level kelas ini kita sesuaikan juga dengan tahap perkembangan anak. Karena gak bisa asal segala macam materi dimasukkan ke semua usia," jelas Claudine.

Kelas untuk anak di semAta Gallery pun terbagi dalam dua tahapan kelas dengan pembagian level yang sama. Tahap pertama bernama after school yang lebih mempelajari soal dasar dari seni dan difokuskan untuk kelas dengan level 0 hingga level 2.

Sedangkan untuk kelas level 3, tahapannya bernama art studio yang sudah lebih dalam mempelajari tentang seni visual.

Walaupun fokus utamanya adalah pendidikan seni untuk anak-anak, tetapi semAta Gallery juga membuka kelas untuk mahasiswa dan umum loh, TemanBaik. Kelas untuk mahasiswa dan umum ini mereka namakan artist advisory.

Wilman menceritakan salah satu pengalamannya dengan tiga orang muridnya di kelas artist advisory beberapa waktu lalu. Saat itu ia memiliki tiga orang murid dengan latar belakang berbeda yaitu sebagai koki, desainer grafis, dan videografer, dari satu perusahaan yang bergerak dibidang kuliner. Mereka ingin belajar bagaimana bisa menghasilkan seni dari apa yang mereka kerjakan dan mengapa itu bisa disebut seni. 

Wilman yang saat itu berperan sebagai fasilitator, mengajak mereka berdiskusi selama tiga bulan. Mulai dari memberi teori, membaca buku soal seni, hingga menulis esai singkat. Hingga akhirnya Wilman melepas ketiganya untuk mengeksekusi semua hal yang sudah mereka diskusikan menjadi sebuah karya.

"Jadi saya fasilitator aja untuk melengkapi dan membongkar konsep di belakang karya yang mereka buat," ujar Wilman.

Tenyata, karya yang dibuat menjadi karya besar yang akhirnya bisa mengajak kerja sama beberapa gallery yang ada di Bandung.

Pendidikan seni di semAta Gallery juga tidak asal dibuat loh, TemanBaik. Wilman dan tim semAta tetap berpatok pada kurikulum dan mempunyai target akhir untuk setiap murid.

Di setiap akhir semester, semAta Gallery akan membuat pameran kecil untuk setiap level kelas yang mana pameran tersebut mengharuskan setiap murid untuk mempresentasikan pameran dan karya yang sudah mereka buat selama satu semester di semAta Gallery kepada orang tua dan keluarga yang datang.

"Dari bercerita soal karya mereka di depan orang banyak, di situ ada pembangunan karakter percaya diri. Jadi mereka tidak hanya percaya diri saat menuangkan ide menjadi sebuah karya, tapi juga percaya diri untuk menceritakan karya yang sudah mereka buat," terang Claudine.

Selain itu, Suni juga menambahkan bahwa pameran ini penting untuk menumbuhkan karakter apresiasi diri. Dengan menceritakan karya mereka, para murid di semAta Gallery secara tidak langsung sedang mengapresiasi diri atas karya yang berhasil mereka buat.

"Setiap anak punya cara dan pencapaian yang berbeda. Ada yang menceritakan perasaan dan pikirannya saat membuat karya itu. Ada juga yang menceritakan teknis, kayak 'Waktu buat ini, tanganku belepotan'. Tentu karya yang dihasilkan pun beragam," ujar Suni.

Seperti yang sudah dijelaskan, kelas di semAta Gallery ini terdiri dari beberapa tingkatan level sesuai usia dan pendidikan di sekolah. Tentu saja, seiring berjalannya waktu setiap murid bisa melanjutkan belajarnya ke tingkat level yang lebih tinggi.

Namun, dijelaskan oleh Suni, naik level bukan berarti untuk menilai tingkat kehebatan murid. Melainkan naik level menjadi pertanda bahwa ia akan belajar dengan sasaran dan tantangan yang berbeda. Anak di tingkat level dua ke atas sudah fokus ke diskusi yang lebih dalam untuk menggali wawasan. Dari segi motorik yang sudah lebih matang, mereka juga diarahkan untuk bisa berkarya dengan lebih rapi.

Sedangkan untuk anak di tingkat level satu, fasilitator lah yang mengawali ide atau bercerita. Anak pada level satu juga difokuskan untuk melatih motorik mereka.

"Untuk anak di level satu, kami lebih memberi kesempatan mereka bereksplorasi untuk melatih motoriknya. Bukan dipaksa untuk rapi," ujar Suni.

Penyesuaian konsep belajar pada setiap tingkat kelas di semAta Gallery ini juga berfungsi untuk lebih menekankan pada proses anak dalam berkarya. Karena menurut Claudine tujuan akhir dari semAta Gallery bukan sekadar melihat hasil karyanya, tetapi juga proses yang dijalaninya. Tidak hanya memperlihatkan anak soal proses, tetapi juga orang tua mereka.

Setelah hampir tujuh tahun berdiri, baik Wilman, Suni, ataupun Claudine sama-sama mempunyai mimpi untuk mengembangkan semAta Gallery agar bisa lebih luas dikenal oleh masyarakat di luar Kota Bandung.

"Mengedukasi seluas mungkin kepada teman-teman di berbagai daerah soal pendidikan seni ini. Supaya banyak yang tahu kalau seni itu sebenarnya sederhana dan tidak jauh dengan kehidupan sehari-hari," ujar Claudine.

Claudine juga menambahkan, jika kreativitas seseorang itu bisa dibangun dari hal yang sederhana dan jauh dari kata ribet.

Melalui semAta Gallery kita diperlihatkan akan arti seni yang tidak melulu bicara soal keharusan berkarya dan estetika yang menyegarkan mata, tapi melalui seni kita bisa belajar soal banyak hal yang erat kaitannya dengan keseharian kita.

Nah, jika TemanBaik tertarik dan makin penasaran dengan pendidikan seni di semAta Gallery, langsung saja kunjungi media sosial instagram mereka di @sematagallery ya! Selamat belajar dengan seni, TemanBaik.

Foto : dok. semAta Gallery

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler