Mengintip Era Kelima Peradaban dalam ‘The Turn of The Fifth Age’

Bandung - Pameran seni bertajuk ‘The Turn of The Fifth Age’ berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space. Pameran dengan media baru (new media) ini coba merespons keadaan di era kelima dari peradaban manusia.

Dibuka pada 26 Februari 2021, pameran ini merupakan kerja sama antara Selasar Sunaryo Art Space dengan Taipei Contemporary Art Center (TCAC) di Taipei, Taiwan. Kami berkesempatan untuk datang langsung mengunjungi pameran tersebut dan berbincang dengan salah satu kurator pameran, Heru Hikayat.

Menurutnya, ‘The Turn of The Fifth Age’ terinspirasi dari era ke-5 dari perubahan gradual dari peradaban. Era ke-5 ini merupakan fase dunia pasca kemusnahan apokaliptik. Terdapat 12 karya dengan medium baru atau new media yang ditawarkan oleh seniman dari Indonesia, Taiwan, dan satu seniman Selandia Baru yang bermukim di Taiwan.

Saat awal memasuki area pameran, kita akan disajikan sebuah tampilan video karya Natasha Tontey berjudul ‘Post to Power’. Premis dasar yang ditetapkan oleh Tontey adalah tentang bagaimana dalam peradaban manusia menghilangkan gangguan yang menyerang ruang beradab kita telah menjadi tugas yang sederhana.

Video tersebut menampilkan hubungan yang unik antara manusia dan kecoak. Ya, seperti kita tahu, spesies yang paling kuat dari hantaman dan kerusakan bumi adalah kecoak. Namun, di sisi lain kecoak bisa dibilang cukup terpinggirkan dan hanya dianggap hama oleh manusia.

“Nah, hubungan ini yang coba diangkat oleh seniman. Jadi, bagaimana caranya manusia mengambil teladan dari apa yang ia anggap sebagai hama “ ujar Heru dalam sesi tur pameran.

Setelah itu, ada pula tampilan ‘Fragmen Terirorial’ karya Abshar Platisza. Pada karyanya ini, Abshar membuat eksperimen yakni mengubah lumpur menjadi sumber energi listrik.  Uniknya, material yang digunakan adalah lumpur tercemar yang diambil dari daerah yang tercemar.

Secara visual, kita mungkin dapat menilai karya Abshar hanya sebagai robot yang tampak aneh dan dibuat dengan buruk, tetapi di balik semua pemandangan tidak menyenangkan yang diberikannya kepada kita, ada hipotesis yang kuat tentang sumber energi dari bumi yang sangat terdegradasi oleh polusi. Oleh karena itu, idenya adalah untuk mengaitkan tanah, polusi, dan kemungkinan menghasilkan energi.

Selain dua karya tadi, tampilan di Ruang B kemudian diisi oleh tampilan video ‘Vision of Tommorow Today’ karya Tzu-Huan Lin, serta ‘Hibernatemode’ karya Yu Hsin Su, dan proyeksi gambar digital berjudul ‘Domain’. Pada proyeksi gambar digital karya Tromarama, kita akan dihadapkan pada potret lautan namun dengan perspektif penguin. 

“Bisa kita liat kan warnanya? Nah, pada karya ini, seniman coba menggambarkan kepada kita bagaimana penguin melihat dunia,” ujar Heru.

Sementara itu di Ruang Sayap, ada dua karya yang dipamerkan. Pertama ada ‘Jupiter’ karya Sorawit Songsataya dan ‘Kasiterit’ karya Riar Rizaldi. Pada karya berjudul ‘Kasiterit’, Rizar coba menampilkan bagaimana keberadaan timah yang bahkan ada dalam genggaman tangan kita saat ini. Latar belakang area tambang timah sepintas mengingatkan kita pada film legendaris ‘Laskar Pelangi’.

Beranjak ke Bale Tonggoh, ada serangkaian karya mulai dari ‘Surface Habitat 4.0’, ‘Sunshine on Tranquilly’, ‘Hominins’, ‘Re-Plating Mooi Indie’, dan ‘Mooi Indie 21st Century’. Karya yang terakhir disebut, ‘Mooi Indie 21st Century’ menampilkan karya seni dari air yang terkena limbah tekstil. Sedangkan ‘Re-plating Mooi Indie’ yang dibawakan oleh Bakudapan lebih mengangkat isu ketahana pangan dalam sajian visualnya.

Merangkum makna dari 12 karya yang dipamerkan, para seniman nampaknya sedang coba mengimajinasikan kemungkinan sebuah dunia yang bisa terhindarkan dari kehancuran seperti gambaran esai Atwood. ​The Turn of the Fifth Age juga diproses sebelum dan selama masa-masa tak menentu, yang disebabkan oleh kondisi pandemik global yang tak kita duga, dan telah menantang kita untuk mempertimbangkan ulang konstruksi hubungan materialistik kita dengan dunia.

Pemilihan media baru disebut oleh Heru karena media ini dianggap senafas dengan tema pameran. Hadirnya serangkaian perangkat untuk menikmati karya baik dari segi audio maupun visual, menjadikan kita seolah punya dimensi dan imajinasi masing-masing saat menikmati sajian seluruh karya di sini.

“Dalam pemilihan media dalam karya seni, sah-sah saja menuangkan ide dalam media apapun. Hanya saja memang disepakati untuk menyajikan seluruh ide untuk pameran ini dengan media baru,” terangnya.

TemanBaik, ingin melihat respons terhadap era kelima peradaban manusia lewat pameran ‘The Turn of The Fifty Age’? Pamerannya masih dibuka sampai tanggal 28 Maret 2021 mendatang. Jadi, jangan sampai terlewatkan ya!


Foto: Dok. Selasar Sunaryo Art Space

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler