Jejak Perjalanan Ki Manteb, Dalang Ikonik yang Nyentrik

Karanganyar - Kabar duka datang bagi Indonesia. Dalang Ki Manteb Soedharsono meninggal dunia pada Jumat (2/7/2021) pukul 09.45 WIB di Karanganyar, Jawa Tengah. Kepergian sang dalang pun tak hanya jadi duka bagi keluarga, tapi bangsa Indonesia.

Meninggal pada usia 72 tahun, Ki Manteb dinyatakan terpapar COVID-19 pada Kamis (1/7/2021). Karena mengalami gejala, Ki Manteb sempat akan dibawa ke rumah sakit kemarin malam. Namun, karena banyak rumah sakit penuh, Ki Manteb urung dibawa.

Di rumah, Ki Manteb sempat diinfus dan diberi oksigen. Sebab, dia punya riwayat punya penyakit paru-paru yang disinyalir membuat kondisinya drop.

Tadi pagi, pihak keluarga menerima kabar Rumah Sakit Jati Husada Karanganyar bisa menerima pasien. Namun, takdir berkata lain, nyawa Ki Manteb tak tertolong dan akhirnya meninggal dunia.

Ikonik dan Julukan Unik
Jika bicara soal sosok Ki Manteb, tentu enggak akan bisa dilepaskan dari salah satu produk obat sakit kepala. Sebab, sudah sejak lama Ki Mantep menjadi bintang iklan produk tersebut, tepatnya sejak 1996.

"Pancen oye," begitulah jargon yang sangat identik dengan sang dalang bersama produk yang dipromosikannya.

Selain itu, Ki Manteb juga punya julukan unik, yaitu 'Dalang Setan'. Itu tak lain karena kemampuannya dalam menyajikan pertunjukan wayang. Ia punya sabetan wayang yang begitu kuat ketika pentas.

Baca Ini Juga Yuk: 'The Lyrics of Self Acceptance', Cara Berdamai Lewat Seni


Ini jadi salah satu ciri khas dari gaya mendalang Ki Manteb. Kemampuan bercerita hingga olah suara dalam pentas wayangnya pun banyak menjadi panutan para dalang wayang kulit lainnya.

Pelopor Seni Dalang dan Musik Modern
Ki Manteb sendiri lahir pada 31 Agustus 1948 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Beliau adalah putra dalang bernama Ki Hardjo Brahim. Alhasil, sejak kecil Ki Manteb memang ditempa untuk menjadi seorang dalang hebat.

Sejak kecil, ia terbiasa dibawa sang ayah mentas. Sehingga, bakat dan kemampuannya terus tertempa hingga matang. Bahkan, Ki Manteb sudah terbiasa pentas sejak kecil hingga membuat sekolahnya terbengkalai demi mendalami karier sebagai dalang.

Tak hanya dari sang ayah, Ki Manteb juga banyak belajar ilmu mendalang dari para dalang senior. Di antaranya adalah Ki Narto Sabdo dan Ki Sudarman Gondodarsono.

Saat dunia pedalangan wayang kulit didominasi Ki Narto Sabdo dan Ki Anom Suroto pada tahun 1970 hingga 1980-an, Ki Manteb perlahan mulai muncul dengan ciri khas gerakan sabetan wayangnya. Hal ini tidak terlepas dari kegemarannya pada sosok Bruce Lee. Sehingga, secara tidak langsung ia memadukan seni wayang dengan kungfu.

Yang tak kalah unik dari pagelaran wayang kulit ala Ki Manteb adalah alat musiknya. Ia bisa dibilang jadi pelopor seni wayang kulit yang dipadukan dengan peralatan musik modern. Hal itu dinilai tak lazim saat itu dan menuai banyak kritik dari para dalang senior.

Namun, Ki Manteb kukuh dengan pendirian dan gayanya mendalang. Ia kerap membawa tambur, biola, terompet, hingga simbal dalam pagelarannya. Alat musik itulah yang menemaninya mendalang.

Sejak tahun 1980-an itulah perlahan nama Ki Manteb mulai menapaki popularitas. Ia kerap mentas di berbagai daerah, termasuk menembus Ibu Kota. Ia kemudian tampil di televisi swasta yang membuatnya makin terkenal.

Hingga akhirnya, Ki Manteb pun mendapat peran lain sebagai dalang, yaitu bintang iklan produk obat sakit kepala. Popularitasnya pun makin menjadi-jadi. Bahkan, saat ini bisa dibilang siapa sih yang enggak kenal dengan nama Ki Manteb?

Ciptakan Rekor MURI
Sebagai dalang, Ki Manteb juga punya rekor tersendiri. Ia pernah mendalang 24 jam. Wayangkan deh bagaimana rasanya mendalang selama ini?

Namun, Ki Manteb mampu melakukannya. Rekor ini diciptakan pada 4-5 September 2004 di Kantor RRI Semarang. Saat itu, lakon yang dibawakan tanpa henti adalah cerita tentang Baratayudha.

Lakon ini menceritakan tentang peperangan sangat besar yang melibatkan dua keluarga, yaitu Pandawa dan Kurawa. Perang ini juga melibatkan begitu banyak kerajaan dan menimbulkan banyak kehancuran.

Usai mendalang selama 24 jam, Ki Manteb sempat diperiksa oleh dokter. Hasilnya, Ki Manteb dalam kondisi bugar. Prima banget kebugarannya saat itu. Jelas ini jadi hal yang sulit dilakukan.

Punya Banyak Penghargaan
Sosok Ki Manteb sendiri bisa dibilang tak bisa jauh dari gelimang prestasi dan popularitas. Sejak muda, ia sudah akrab dengan berbagai penghargaan hingga akhir hayatnya.

Pada 1982 misalnya, ia jadi juara Pakeliran Padat se-Surakarta. Penghargaan ini membuat namanya melejit saat itu. Pada 1995, Presiden Soeharto bahkan menganugerahkan penghargaan Satya Lencana Kebudayaan padanya.

Penghargaan lain yang juga sangat bergengsi adalah 'Nikkei Asia Prize Award 2010' di bidang kebudayaan. Penghargaan ini diberikan karena Ki Manteb merupakan sosok pelestari dan pemaju kebudayaan Indonesia, dalam hal ini wayang kulit. Di luar itu, ada banyak banget penghargaan yang diterima almarhum.

Kini, Ki Manteb sudah berpulang. Namun, Ki Manteb akan dikenang sebagai legenda dari dunia wayang kulit. Selamat Jalan, Ki Manteb Soedharsono!

Foto: dok. Istimewa/@ki_manteb_soedharsono_official

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler