Cerita Perempuan dengan HIV, Dipecat hingga 'Ditampar' Anak

Bandung - Tidak pernah terbayangkan bagi Ayu Oktariani (32) menjadi orang dengan HIV AIDS (ODHA). Apalagi, ia tertular bukan karena ulahnya sendiri. Ia tertular dari sang suami pertamanya yang merupakan pengguna narkoba.

Ia mengetahui dirinya mengidap HIV pada 2009 lalu. Hal itu bermula dari sakitnya sang suami yang lumayan parah karena sudah masuk pada tahap AIDS. Bahkan, suaminya sudah divonis terkena meningitis dan beberapa penyakit lainnya.

Saat itu, tidak pernah terbersit dalam bayangannya jika ternyata sang suami merupakan ODHA. Ia sempat diminta beberapa teman suaminya untuk memeriksakan diri dan tes HIV ke dokter. Ia pun mempertanyakan alasan mereka kenapa menyarankan tes HIV. Tapi, ia tidak mendapat jawaban pasti.

"Saya merasa terlalu hina untuk kena HIV. Enggak mungkin. Saya orang baik-baik. Saya nolak (untuk diperiksa)," kata Ayu kepada BeritaBaik.

Setelah kondisi sang suami makin drop, lebih banyak orang yang menyarankan agar Ayu dan suaminya diperiksa. Singkat cerita, akhirnya Ayu mendapatkan kenyataan bahwa sang suami ternyata terkena HIV. Ayu pun dinyatakan positif HIV karena tertular dari sang suami.

Beberapa waktu berselang, sang suami meninggal di tahun yang sama. Ia pun sempat dihantui bayang-bayang akan sakit seperti sang suami dan berujung meninggal dunia. Untuk menjawab rasa penasarannya, ia rajin bertemu dokter dan ODHA lainnya. Ia akhirnya tahu bahwa menjadi ODHA bukan vonis mati. Semuanya harus disikapi secara tenang.

Ayu pun tahu apa saja yang harus dilakukan agar bisa tetap beraktivitas normal tanpa terganggu virus HIV dalam tubuhnya. Ia bahkan menjelma menjadi aktivis yang gemar memperjuangkan hak ODHA agar tidak didiskriminasi.

Sejak 2011, ia bergabung dengan Ikatan Perempuan Positif Indonesia. Ia juga aktif dalam beragam organisasi dan kegiatan lain untuk berjuang. Ia pun merasa menjadi sosok pahlawan bagi orang lain, terutama ODHA dari kalangan perempuan.

Berbagai kesibukan dilakukan Ayu, mulai dari unjuk rasa, kampanye seputar HIV/AIDS di media sosial dan dunia nyata, konselor, hingga sederet aktivitas lainnya. Ia juga sudah berkeliling ke berbagai daerah dan negara dengan membawa isu seputar HIV/AIDS.

"Saya tiba-tiba seperti jadi pahlawan, saya merasa punya kekuatan super untuk melawan ketidakadilan. Ini yang saya cari. Saya bisa membela teman-teman saya, saya bisa berjuang untuk teman-teman saya," tutur Ayu.

Dipecat dari tempat kerja
Sebagai ODHA, Ayu tidak mendapat didiskrimasi oleh keluarga inti dan lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Mereka justru memberi dukungan dan semangat luar biasa. Diskriminasi pertama yang dialaminya justru ada di tempat kerja.

Ia sendiri bekerja di sebuah sekolah musik di Jakarta setelah sang suami meninggal. Ia merasa harus bekerja demi menghidupi anak satu-satunya yang masih kecil. Tapi, ia tidak bertahan lama di sana.

Informasi soal suaminya yang meninggal karena mengidap HIV akhirnya sampai ke manajemen tempatnya bekerja. Ia saat itu tidak dipecat secara langsung. Setelah diinterogasi, Ayu diminta untuk mengundurkan diri.

"Itu diskriminasi pertama (setelah dinyatakan mengidap HIV). Saya jadi ngerasa kalau diam aja akan terus diperlakukan begini sama orang-orang. Saya harus buktiin sama mereka bahwa HIV itu tidak jadi limit atau batasan (dalam beraktivitas), saya harus buktiin sama orang-orang, yang bedain kita cuma darah (yang terinfeksi HIV atau tidak)," tutur Ayu.

Ia sempat terpuruk selama beberapa bulan. Ia mengaku bingung harus melakukan apa dan bekerja di mana setelah berstatus ODHA. Tapi, ia kemudian bangkit karena tidak mau lagi jadi korban diskriminasi.

Momen itulah yang jadi titik balik kehidupan Ayu. Dari sana, ia menjadi aktivis yang memperjuangkan isu dan hak seputar ODHA. Ia pun akhirnya bisa bekerja sebagai konselor bagi ODHA pada 2010. Dari pekerjaan itu, selain mendapatkan gaji untuk kehidupannya, ia mendapat banyak ilmu dan pengalaman.

Ia menjadi benar-benar paham berbagai hal tentang HIV AIDS. Tidak hanya itu, keberanian Ayu untuk berjuang juga semakin berlipat. "Misalnya saya didiskrimasi, dipecat dari tempat kerja, saya (paham) bisa serang balik, bisa nuntut balik ke Kemenaker dan lain-lain," ucapnya sambil tersenyum.

Cinta untuk sang anak
Sempat merasa diri menjadi pahlawan super, ternyata ada momen di mana Ayu merasa gagal sebagai ibu. Ia bisa memenangkan perjuangan di luar, tapi gagal karena tidak bisa memenangkan hati sang anak. Ia kehabisan banyak waktu memperjuangkan orang lain, sedangkan sang anak tidak punya banyak waktu dengan Ayu sebagai ibunya.

"Di titik tertentu saya capek, jarang ketemu anak, karena saya sering ngasih pelatihan, pergi ke mana-mana, dan lain-lan. Di satu titik saya rindu anak saya," ucap Ayu.

Karena itu, sejak dua tahun terakhir, ia memutuskan tinggal di Bandung dan mengurangi kegiatannya sebagai aktivis. Bersama Febby Arhemsyah yang menikahinya lima tahun lalu, ia menjalani kehidupan yang jauh lebih 'normal'.

Ayu sendiri sudah pindah ke Bandung sejak 2014. Tapi, saat itu ia sering meninggalkan rumah untuk beraktivitas di luar. Sehingga, waktu dengan keluarganya sangat terbatas. Hal itu yang membuatnya merasa ditampar. Sebab, keluarga seolah bukan jadi prioritasnya.

"Dulu saya 100 persen dibantu ibu, ibu yang jaga anak, saya yang cari uang, saya hanya menyempatkan waktu akhir pekan untuk anak. Kalau sekarang, 90 persen waktu saya buat anak, 10 persen buat pekerjaan," ungkap Ayu.

Di Bandung, ia merasakan hidup dengan nyaman. Sebab, ia punya banyak waktu untuk keluarga. Tapi, di sisi lain, ia tetap bisa menyalurkan jiwanya sebagai aktivis. Ia lebih banyak melakukan advokasi dan aktivitasnya sebagai pejuang secara online. Sehingga, konsultasi dan advokasi seputar HIV AIDS bisa tetap dilayaninya.

Dalam setahun terakhir, Ayu bahkan memiliki kedai kopi dan kafe yang menyajikan siomay di Bandung. Tempat itu jadi semacam 'markas' bagi orang yang ingin berkonsultasi dengan Ayu. Bahkan, tidak jarang ada warga luar Bandung yang sengaja datang ke lokasi untuk bertemu dengannya.

Alasannya, melalui tempat usahanya itu, siapapun bisa datang untuk bertemu dengannya. Bahkan, ia tidak pernah mempermasalahkannya tamu atau teman-temannya jika tidak membeli barang dagangannya.

Sebab, seringkali ia kebingungan di mana harus mencari tempat nyaman untuk melayani konsultasi. Jika dilakukan di kafe lain, hal itu akan cukup menyedot biaya 'jajan' orang yang ingin berkonsultasi. Di sisi lain, waktu yang dibutuhkan untuk konseling kadang cukup lama.

"Makanya saya bikin warung supaya bisa (melayani) konseling. Lu enggak (beli) makan juga enggak apa-apa. Makanya saya bikin tempat ini biar ada teman-teman nyaman untuk berkegiatan," tutur Ayu.

Ia pun bersyukur atas pencapaiannya saat ini. Apalagi, ia kini memiliki suami hebat yang selalu memberinya dukungan luar biasa. Status Ayu sebagai ODHA pun tidak pernah dipermasalahkan. Kini, Ayu pun bisa membagi antara perjuangan, cinta, dan keluarga secara proporsional.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler