Kenalan dengan Nathania Tifara, Sosok Tunarungu Pendiri Guru Bumi

Bandung - Kehilangan pendengaran bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Seperti masalah pendengaran yang dihadapi Nathania Tifara. Sejak usia 2 tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 22 Oktober 1988 ini harus kehilangan kedua pendengarannya akibat penyakit meningitis.

Di usia empat tahun, Nathania menggunakan alat bantu dengar bernama Cochlear Implant. Namun, alat tersebut hanya terpasang di sisi kanan. Sehingga, meski sudah menggunakan alat bantu dengar, pendengarannya tidak jelas seperti orang dengan pendengaran normal.

"(Cochlear Implant) membantu saya bisa mendengar dengan jelas, tetapi tidak sejelas pada umumnya. Hanya bisa mendengar dari sisi kanan saja. Cukup kesulitan mendengar percakapan orang di suasana sangat ramai dan juga kesulitan mendengar suara kecil dan bass," jelas Nathania kepada BeritaBaik melalui surel, Senin (18/11).

Karena hanya menggunakan alat bantu di satu sisi, pendengaran Nathania jadi tidak maksimal. Iya hanya dapat mendengar secara mono. Tidak seperti pendengaran umumnya yang stereo.

"Pada pendengaran suara stereo kalau ada suara motor tinggi, masih bisa stabil dengan pendengaran sisi lain, bagi mereka tidak mengganggu. Beda dengan kasus saya, sangat terganggu, otomatis fokus mendengar suara motor yang tinggi, suara percakapan orang jadi makin kecil," ungkap Nathania.

Selain kesulitan saat harus menyimak percakapan saat ada suara bising (motor dan lain-lain), Nathania juga menghadapi hambatan saat harus presentasi kuliah. "Biasanya setiap presentasi suka ada sesi pertanyaan. Saya pernah meminta tolong teman kelompok untuk mengetik pertanyaan. Kalau orang tidak ada awareness dengan dunia disabilitas, mereka suka tidak sadar atau lupa kalau kita kesulitan mendengar," kenang Nathania.

Walau begitu, keterbatasan pendengaran tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk meraih tujuan, mimpi dan cita-cita. Nathania berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2011 dan S2 Creative Media Entreprise di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2013.

Nathania juga sangat peduli pada pendidikan anak-anak di Indonesia, loh. Sejak tahun 2016, ia bersama kawan-kawannya mendirikan proyek kolaborasi bernama Guru Bumi yang fokus membuat produk edukasi anak.

"Guru Bumi awalnya karena saya dan teman suka membuat atau mendesain produk edukasi untuk anak-anak. Background kami desainer grafis, biasanya kerja bikin ilustrasi desain untuk penerbit, agency dan studio desain. Setelah menemukan passion, kami mau fokus membuat produk edukasi anak," jelas Nathania.

Produk edukasi yang dibuat Guru Bumi beragam, seperti kartu visual, games board edukasi, aktivitas seni, dan buku aktivitas. Untuk saat ini, Nathania dan teman-temannya di Guru Bumi tengah fokus mengembangkan kartu visual edukasi.

"Saat ini, kami fokus mengembangkan kartu visual edukasi yaitu kartu kuartet karena lebih dibutuhkan di dunia pendidikan sebagai bahan belajar mengajar orang tua dan anak, guru dan murid. Tujuan kami (Guru Bumi) untuk membantu anak-anak Indonesia menjadi senang belajar dan membuat lingkungan pembelajaran seru dan bermakna," papar perempuan yang hobi menonton film bergenre horor, action dan sci-fi ini.

Ternyata ide kartu edukasi itu berasal dari pengalaman pribadi Nathania. Ia mengaku kerap kesulitan konsentrasi saat belajar di sekolah. Melihat itu, Sang Ibu kemudian membuatkannya kartu visual yang digambar sendiri agar Nathania dapat memahami pelajaran.

"Saya tipe pembelajar lambat dan sulit konsentrasi juga kesulitan untuk memahami isi pelajaran sekolah. Hal itu membuat saya frustrasi. Mama saya membuat kartu visual edukasi dengan gambarnya sendiri agar saya tidak frustrasi dan bisa memahami isi pelajaran sekolah. Kartu-kartu yang dibuat mama membuat saya tertarik untuk belajar. Pengalaman ini menjadi motivasi saya untuk membantu anak-anak Indonesia agar senang belajar melalui karya desain," tuturnya.

Selain membuat kartu edukasi, Guru Bumi akhir-akhir ini juga sedang membuat aktivitas playdate. Kegiatan ini berkolaborasi dengan komunitas-komunitas untuk menjadi relawan pengajar di kampung. 

Untuk membuat anak-anak tertarik, Tim Guru Bumi mendesain Peta Indonesia yang sederhana dan berisi permainan. "Anak-anak minim pengetahuan tentang peta Indonesia. Kami cetak peta Indonesia sesuai gaya desain kami yang lebih sederhana dan menyenangkan. Jadi permainan tebak-tebakan provinsi dan tempel di peta," jelas Nathania.

Berkat kegiatan playdate ini, anak-anak jadi semangat belajar. "Melihat anak-anak menjadi exciting sekali belajar mengenal peta Indonesia. Mereka menjadi senang. Oleh karena itu, kami ingin membuat aktivitas playdate," paparnya. 

Aktivitas playdate sendiri pertama kali digelar pada Bulan Oktober 2019 bersama beberapa komunitas. "Pertama kali kami bikin aktivitas (playdate) di Taman Jakarta kolaborasi dengan Komunitas Hijau dan Birdwatching Indonesia pada bulan Oktober kemarin," jelas Nathania.

Kemudian mereka membuat kartu kuartet pengetahuan. "Kami membuat kartu kuartet pengetahuan tentang burung di Indonesia untuk mengajak anak-anak mencintai dan peduli fauna seperti burung," jelas perempuan yang gemar mengisi waktu luangnya dengan bersepeda dan kegiatan alam ini. 

Aktivitas unik ini bertujuan untuk memperkenalkan pengetahuan dan burung-burung di taman lewat produk edukasi Guru Bumi. "Aktivitas playdate ini sekalian ada birdwatching jalan-jalan di taman sambil memperkenalkan burung-burung di taman, setelah itu baru ada aktivitas bermain kartu kuartet burung. Tujuan playdate memperkenalkan pengetahuan melalui produk edukasi dari Guru Bumi," tambah Nathania.

Perempuan yang tengah melanjutkan pendidikan S2 Manajemen Bisnis di UGM ini berharap aksi dan kegiatannya di Guru Bumi dapat memberikan pengetahuan dan wawasan baru bagi anak-anak Indonesia. Ia juga berharap semoga pendidikan di Indonesia semakin merata. "Semoga pendidikan di Indonesia menjadi semakin merata untuk anak-anak Indonesia dari sabang sampai merauke," harap Nathania.

Menurutnya, sebagai generasi penerus, anak-anak memiliki semangat belajar yang tinggi. Kelak, anak-anak akan menjadi generasi yang melanjutkan untuk merawat bumi ini.

"Mereka akan menjadi generasi penerus kita. Kelak menjadi generasi yang bermanfaat, peduli dengan sesama, peduli lingkungan baik flora dan fauna, berbudi pekerti, cerdas, dan menjadi generasi bangga yang menjadi bangsa Indonesia. Semoga menjadi generasi yang lebih dari generasi sebelumnya. Melanjutkan untuk merawat bumi indah ini," pungkasnya.

Foto: dok. Nathania Tifara
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler