5 Sosok Difabel Inspiratif 2019 Versi BeritaBaik

Bandung - Sejak tahun 1992, tiap tanggal 3 Desember 2019 diperingati sebagai Hari Difabel Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat terkait hal-hal yang terjadi pada kehidupan para penyandang cacat di dunia.

Di Hari Difabel Internasional ini, BeritaBaik merangkum lima sosok difabel inspiratif. Kelimanya adalah sosok hebat yang bisa memotivasi kamu untuk lebih semangat loh, TemanBaik. Kenalan dengan mereka yuk!

1. Anjas Pramono
Anjas Pramono adalah pemuda difabel asal Kudus, Jawa Tengah yang berhasil menciptakan sebuah aplikasi bernama Dicodeaf. Aplikasi ini dapat mengubah Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris menjadi gambar bahasa isyarat yang disegmentasikan kepada anak-anak.

Anjas sendiri adalah sosok disabilitas yang mengalami patah tulang pada bagian kaki. Aplikasi Decodeaf terinspirasi dari pengalamannnya saat mengunjungi tempat pariwisata yang belum ramah disabilitas. Berkat karyanya ini, Anjas mendapat undangan ke salah satu universitas terkenal di Amerika sekaligus ke White House untuk mempresentasikan aplikasinya pada bulan September 2019.


2. Muhammad Fahmi Husaen
Muhammad Fahmi Husaen adalah mahasiswa Prodi Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi (SV) UGM yang punya sejumlah prestasi yang membanggakan. Meski memiliki keterbatasan fisik akibat mengidap Duchne Muscular Distropy (DMD), yang menjadikannya tak mampu lagi berjalan sejak kelas 4 SD, namun hal tersebut tidak menghalanginya untuk berprestasi.

Berbagai penghargaan berhasil diraih Fahmi dari berbagai ajang kompetisi, mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Fahmi berhasil meraih penghargaan di Special Mention Indonesia ICT Award 2013 dan meraih Medali Perak OSN Karya Ilmiah Inklusi 2015.

Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi Finalis Toyota Eco Youth 2016, Top 5 Design Mucle Car Indonesia Electric Car Design Contest 2018 serta Nominasi Samsung Global Startup Acceleration Program 2018. Fahmi juga berhasil mengantongi Medali Emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-31 kategori Presentasi dan Poster 2018 dan Delegasi Sekolah Vokasi dalam The Internasional Seminar of Technology Sustainbility 2018.

Ia juga berhasil membawa pulang Medali Perak Seoul Internasional Invention Fair 2018, Special Award dari King Abdul Aziz University di Seoul Internasional Invention Fair 2018 dan Mahasiswa Berprestasi Favorit UGM 2019. Belum lama ini, Fahmi juga meraih penghargaan Pemuda Difabel Berprestasi dalam Anugerah Kepemudaan 2019 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).


3. Andreas Alex
Andreas Alex atau yang akrab disapa Albert ini adalah sosok remaja yang terlahir dengan penyakit genetik bernama Spinal Muscular Atrophy (SMA). Penyakit langka ini menyerang saraf ototnya. Kondisi ini membuatnya kesulitan berjalan dan menghambatnya untuk beraktivitas. Dalam keseharian Albert bergantung pada kursi roda.

Meski Albert memiliki keterbatasan, ia mampu menempuh pendidikan di sekolah umum. Bahkan keterbatasan yang Albert miliki tak mengurangi semangatnya untuk berbisnis loh. Albert sudah memulai bisnisnya di usia yang sangat muda. Remaja kelahiran 27 Juni 2000 ini merintis bisnis online dengan berjualan pulsa di kelas 1 SMA. Kini, ia berjualan online produk kaos dan mug custom.


4. Nathania Tifara
Sejak usia dua tahun, Nathania Tifara ini harus kehilangan kedua pendengarannya akibat penyakit meningitis. Di usia empat tahun, Nathania menggunakan alat bantu dengar bernama Cochlear Implant. Namun, alat tersebut hanya terpasang di sisi kanan. Sehingga, meski sudah menggunakan alat bantu dengar, pendengarannya tidak jelas seperti orang dengan pendengaran normal.

Keterbatasan pendengaran tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk meraih tujuan, mimpi dan cita-cita. Nathania berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2011 dan S2 Creative Media Entreprise di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2013.

Nathania juga sangat peduli pada pendidikan anak-anak di Indonesia, loh. Sejak tahun 2016, ia bersama kawan-kawannya mendirikan proyek kolaborasi bernama Guru Bumi yang fokus membuat produk edukasi anak.


5. Elda Fakhmy
Elda Fakhmy Nurtaufiq adalah sosok remaja tunanetra asal Bandung yang sukses menjadi atlet beladiri judo. Hingga kini, sudah 11 event ia ikuti, mulai dari Peparda, Peparnas, Kejurnas, serta berbagai kegiatan lainnya. Ragam medali emas, perak, dan perunggu pun sudah ia dapat.

Selain latihan keras, Elda juga harus berjuang hebat agar bisa tampil di berbagai kelas. Ia mengawali karier atletnya di kelas 50-an kilogram hingga kelas bebas. Setiap naik kelas, ia otomatis harus berjuang meningkatkan berat badan. 

Di tengah kesibukannya sebagai atlet, Elda ternyata juga sedang fokus kuliah. Ia mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) di IKIP Siliwangi yang berlokasi di Kota Cimahi. Setelah lulus kelak, ia bercita-cita ingin menjadi guru BK.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler